Langsung ke konten utama

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno


Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi) 

Satu Hari di Ruang Referensi

Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo. Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia. 

Judulnya menarik perhatian saya:
“De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel, diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume XVII.

Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh.

Apa Itu Ponggoh?

Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk gaib dalam budaya Gorontalo, yang dipercaya oleh masyarakat sebagai penyebab kemalangan, penyakit, atau gangguan mistis. Wujud Ponggoh bisa berupa manusia, kabut, uap, nyamuk, atau makhluk lain yang menyeramkan. Ia tidak sekadar mitos, tapi bagian penting dari sistem kepercayaan lokal yang tumbuh jauh sebelum masuknya agama besar seperti Islam.

Menurut kepercayaan lokal yang dikutip oleh Riedel:

Ponggoh adalah roh yang bisa ‘menyerupai’ seseorang, biasanya pria atau wanita, untuk menyiksa manusia—khususnya menyerang hati atau batin seseorang.

Konteks Spiritual dan Budaya

Masyarakat Holontalosch (Gorontalo) saat itu, seperti juga beberapa suku Alifuru di Sulawesi Utara, meyakini bahwa dunia ini dihuni oleh kekuatan-kekuatan tak kasat mata, baik yang membawa kebaikan maupun keburukan.

Riedel mencatat istilah lokal seperti:

  • Lati lo Oloto: Roh jahat atau setan yang mengganggu manusia

  • Oloto sendiri bermakna "penghancur" atau "yang menyiksa".

Cerita tentang Ponggoh sering kali muncul dalam bentuk kisah tragis, seperti pembunuhan antar saudara, darah yang berubah menjadi kabut atau nyamuk, dan makhluk gaib yang menjelma dari kesedihan dan kutukan. Ini membuat Ponggoh tak hanya sebagai sosok gaib, tapi juga simbol penderitaan kolektif, trauma sosial, dan teguran moral.

Kisah Ponggoh: Antara Mitos dan Realitas

Dalam naskah yang saya baca, terdapat kisah tentang seorang pemuda bernama Anggabia yang membunuh saudaranya sendiri. Setelah peristiwa itu, darah yang tertumpah diyakini berubah menjadi makhluk aneh dan kabut berwarna kelabu yang kemudian dianggap sebagai wujud Ponggoh. Ketakutan, keresahan, dan misteri pun menyelimuti desa mereka.

Lebih jauh, Riedel juga mencatat bagaimana masyarakat Gorontalo saat itu tetap mempercayai hal-hal gaib seperti ini meskipun telah memeluk Islam, membuktikan bahwa tradisi dan kepercayaan lokal tetap hidup berdampingan dalam ruang spiritual masyarakat.

Transkripsi Lisan dan Bahasa Lokal

Menariknya, dalam halaman terakhir dari bagian ini, Riedel menyisipkan transkripsi teks lisan dalam bahasa Gorontalo klasik, semacam syair atau mantra yang berkaitan dengan Ponggoh:  “Tonggagade watotia alambia anggagawai, matio taloba momomonggohoto...” Kalimat ini tampaknya adalah bagian dari narasi lisan yang mengisahkan pergerakan roh atau energi jahat yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyebarkan rasa takut dan malapetaka.

Ponggoh dalam Perspektif Modern

Sebagai pustakawan dan pegiat literasi, saya melihat bahwa kisah Ponggoh menyimpan nilai budaya dan sejarah lokal yang sangat berharga, meskipun terkesan mistis. Dalam konteks literasi saat ini, Ponggoh bisa menjadi:

  • Bahan untuk cerita rakyat di sekolah.

  • Tema dongeng lokal yang memperkenalkan budaya Gorontalo kepada generasi muda.

  • Objek kajian antropologi dan folkloristik.

  • Dasar untuk mengembangkan cerita grafis atau film pendek lokal berbasis kearifan tradisional.

Kesimpulan

Perjalanan saya hari itu di ruang referensi Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo bukan sekadar menemukan buku tua. Itu adalah pertemuan dengan jejak spiritual masyarakat Gorontalo masa lalu sebuah warisan budaya yang harus dihargai dan dilestarikan.

Ponggoh bukan sekadar legenda, tapi potret bagaimana masyarakat kita dulu memahami penderitaan, kejahatan, dan kekuatan alam semesta dengan cara yang khas, puitis, dan penuh makna.

Sumber Rujukan:

Riedel, J.G.F. (1869). De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh.
Dalam: Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Vol. XVII. Martinus Nijhoff, 's Gravenhage.
Koleksi Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo.


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...