Lupakan sejenak
tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian
yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental.
Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan
di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita.
Pemerintah, melalui
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah
mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai
rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR. Dimasukkannya "Peningkatan
Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah
sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita
berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar
perbaikan prosedural.
Selama ini, kita mungkin terlalu
nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan:
· Mitos1: "Yang penting anak lancar membaca." Kita sibuk mengejar
target kecepatan membaca, namun abai pada pemahaman. Akibatnya? Kita
menciptakan pasukan "Burung Beo": anak-anak yang bisa
melafalkan kalimat dengan sempurna, tetapi otaknya kosong, tak mampu menangkap
makna, tak bisa menalar, dan tak merasakan apa-apa dari bacaannya. Ini bukan
literasi, ini kegagalan yang terselubung.
· Mitos2: "Literasi adalah tugas guru kelas." Kita membebankan misi
maha berat ini pada pundak satu orang guru di dalam kelas, sementara ekosistem
sekolah lainnya berjalan seperti biasa. Kepala sekolah sibuk dengan manajemen,
dan pustakawan hanya menjadi penjaga gudang buku. Ini bukan kolaborasi, ini
lempar tanggung jawab.
· Mitos3: "Program
literasi cukup dengan pojok baca." Kita merasa sudah
hebat dengan membuat sudut cantik berisi buku, lalu menganggap tugas selesai.
Padahal, literasi bukanlah soal sudut ruangan, tapi soal atmosfer yang merasuki
setiap jengkal sekolah, setiap menit pembelajaran, dan setiap interaksi.
RPJMN ini adalah pendobrak utama yang menghancurkan mitos-mitos tersebut. Mandat ini menuntut kita untuk berubah, secara radikal dan total. Peran kita kini harus didefinisikan ulang:
Untuk Anda, Para
Kepala Sekolah: Anda bukan lagi manajer gedung. Anda adalah Komandan
Revolusi Literasi. RPJMN ini adalah mandat bagi Anda untuk membongkar
jadwal yang kaku, mengalokasikan ulang anggaran untuk pelatihan guru dan
pengadaan buku yang relevan, serta menciptakan budaya di mana setiap guru, dari
guru olahraga hingga agama, merasa bertanggung jawab atas kemampuan literasi
siswanya. Pimpin rapat bukan untuk membahas laporan, tapi untuk merancang
strategi pertempuran melawan kebodohan.
Untuk Anda, Para
Guru Kelas Awal: Anda adalah Ujung Tombak Peradaban. Tugas Anda
bukan lagi "mengajari" ABC, tapi menyalakan api keingintahuan.
Jadilah detektif yang mampu mendiagnosis kesulitan setiap anak. Jadilah
pendongeng ulung yang membuat anak jatuh cinta pada kata-kata. Buang LKS yang
mematikan nalar, ganti dengan aktivitas yang memantik diskusi dan imajinasi.
Kelas Anda adalah kawah candradimuka di mana nasib intelektual seorang anak
ditentukan.
Untuk Anda, Para
Pustakawan: Bakar citra lama Anda! Perpustakaan bukan lagi gudang buku yang
sunyi dan angker. Ia harus menjadi Laboratorium Imajinasi, sebuah hub
yang riuh rendah dengan ide dan kreativitas. Anda bukan penjaga, Anda adalah Kurator
Pengalaman Membaca. Jemput bola, berkolaborasi dengan guru merancang
program, gelar panggung bercerita, dan pastikan setiap anak menemukan buku yang
"berbicara" langsung ke hatinya.
Untuk Anda, Para
Pegiat Literasi: Anda adalah Katalisator Perubahan. Jangan hanya
berdiri di luar pagar. Dokumen RPJMN ini adalah tiket masuk Anda untuk
mendobrak pintu sekolah. Tawarkan ide-ide gila, bangun jembatan antara sekolah
dengan komunitas, dan terus tiupkan api semangat agar revolusi ini tidak padam
menjadi acara seremonial.
Dokumen
RPJMN itu bukan sekadar tumpukan kertas di laci meja pejabat. Ia adalah surat
panggilan tugas untuk kita semua. Sebuah pengakuan di level tertinggi bahwa
tanpa menuntaskan masalah paling fundamental di kelas awal, semua mimpi tentang
Indonesia Emas 2045 hanyalah omong kosong.
Pertanyaannya bukan
lagi "apa yang harus kita lakukan?", tapi "apakah kita punya
nyali untuk melakukannya?"
Mari kita jawab panggilan ini. Bukan dengan seminar dan laporan, tapi dengan aksi nyata di setiap koridor, kelas, dan perpustakaan kita. Masa depan Indonesia dimulai dari kemampuan seorang anak kelas awal memahami sebuah cerita...Dimulai dari kita. Sekarang ...
Disusun: Oleh Yusron Humonggio (Pegiat Literasi) Disusun dalam rangka memberi "Sosialisasi Transformasi Perpustakaan" di Disarpus Kota Gorontalo 16 Juli 2025


