Langsung ke konten utama

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.


    Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita.

Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR. Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural.

Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan:

·    Mitos1: "Yang penting anak lancar membaca." Kita sibuk mengejar target kecepatan membaca, namun abai pada pemahaman. Akibatnya? Kita menciptakan pasukan "Burung Beo": anak-anak yang bisa melafalkan kalimat dengan sempurna, tetapi otaknya kosong, tak mampu menangkap makna, tak bisa menalar, dan tak merasakan apa-apa dari bacaannya. Ini bukan literasi, ini kegagalan yang terselubung.

 

·    Mitos2: "Literasi adalah tugas guru kelas." Kita membebankan misi maha berat ini pada pundak satu orang guru di dalam kelas, sementara ekosistem sekolah lainnya berjalan seperti biasa. Kepala sekolah sibuk dengan manajemen, dan pustakawan hanya menjadi penjaga gudang buku. Ini bukan kolaborasi, ini lempar tanggung jawab.

 

·   Mitos3: "Program
literasi cukup dengan pojok baca
."
Kita merasa sudah hebat dengan membuat sudut cantik berisi buku, lalu menganggap tugas selesai. Padahal, literasi bukanlah soal sudut ruangan, tapi soal atmosfer yang merasuki setiap jengkal sekolah, setiap menit pembelajaran, dan setiap interaksi.

 

RPJMN ini adalah pendobrak utama yang menghancurkan mitos-mitos tersebut. Mandat ini menuntut kita untuk berubah, secara radikal dan total. Peran kita kini harus didefinisikan ulang:

Untuk Anda, Para Kepala Sekolah: Anda bukan lagi manajer gedung. Anda adalah Komandan Revolusi Literasi. RPJMN ini adalah mandat bagi Anda untuk membongkar jadwal yang kaku, mengalokasikan ulang anggaran untuk pelatihan guru dan pengadaan buku yang relevan, serta menciptakan budaya di mana setiap guru, dari guru olahraga hingga agama, merasa bertanggung jawab atas kemampuan literasi siswanya. Pimpin rapat bukan untuk membahas laporan, tapi untuk merancang strategi pertempuran melawan kebodohan.

Untuk Anda, Para Guru Kelas Awal: Anda adalah Ujung Tombak Peradaban. Tugas Anda bukan lagi "mengajari" ABC, tapi menyalakan api keingintahuan. Jadilah detektif yang mampu mendiagnosis kesulitan setiap anak. Jadilah pendongeng ulung yang membuat anak jatuh cinta pada kata-kata. Buang LKS yang mematikan nalar, ganti dengan aktivitas yang memantik diskusi dan imajinasi. Kelas Anda adalah kawah candradimuka di mana nasib intelektual seorang anak ditentukan.

Untuk Anda, Para Pustakawan: Bakar citra lama Anda! Perpustakaan bukan lagi gudang buku yang sunyi dan angker. Ia harus menjadi Laboratorium Imajinasi, sebuah hub yang riuh rendah dengan ide dan kreativitas. Anda bukan penjaga, Anda adalah Kurator Pengalaman Membaca. Jemput bola, berkolaborasi dengan guru merancang program, gelar panggung bercerita, dan pastikan setiap anak menemukan buku yang "berbicara" langsung ke hatinya.

Untuk Anda, Para Pegiat Literasi: Anda adalah Katalisator Perubahan. Jangan hanya berdiri di luar pagar. Dokumen RPJMN ini adalah tiket masuk Anda untuk mendobrak pintu sekolah. Tawarkan ide-ide gila, bangun jembatan antara sekolah dengan komunitas, dan terus tiupkan api semangat agar revolusi ini tidak padam menjadi acara seremonial.

Dokumen RPJMN itu bukan sekadar tumpukan kertas di laci meja pejabat. Ia adalah surat panggilan tugas untuk kita semua. Sebuah pengakuan di level tertinggi bahwa tanpa menuntaskan masalah paling fundamental di kelas awal, semua mimpi tentang Indonesia Emas 2045 hanyalah omong kosong.

Pertanyaannya bukan lagi "apa yang harus kita lakukan?", tapi "apakah kita punya nyali untuk melakukannya?"

Mari kita jawab panggilan ini. Bukan dengan seminar dan laporan, tapi dengan aksi nyata di setiap koridor, kelas, dan perpustakaan kita. Masa depan Indonesia dimulai dari kemampuan seorang anak kelas awal memahami sebuah cerita...Dimulai dari kita. Sekarang ...

Disusun: Oleh Yusron Humonggio (Pegiat Literasi) Disusun dalam rangka memberi "Sosialisasi Transformasi Perpustakaan" di Disarpus Kota Gorontalo 16 Juli 2025





Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...