Perpustakaan umum sesungguhnya tidak sedang kekurangan gedung. Tidak juga kekurangan rak buku, meja baca, atau kegiatan seremonial. Namun ada sesuatu yang perlahan hilang: relevansi. Di tengah dunia yang bergerak cepat, banyak perpustakaan masih berjalan dengan pola lama. Sementara masyarakat berubah, cara belajar berubah, cara membaca berubah, bahkan cara manusia mencari pengetahuan pun berubah. Ironisnya, sebagian perpustakaan masih merasa baik-baik saja. Padahal tanda-tanda krisis itu mulai terlihat: pengunjung berkurang, generasi muda semakin jauh, kegiatan ramai tetapi dampaknya kecil, dan perpustakaan perlahan kehilangan posisi pentingnya di tengah masyarakat. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perpustakaan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan sekaligus harapan bahwa perpustakaan masih bisa bangkit jika berani berubah. Karena ancaman terbesar perpustakaan hari ini bukan era digital, melainkan kenyamanan dalam stagnasi. 1. TERLALU SIBUK MENJAGA BUKU, LUPA MENJA...
Catatan Kegelisahan Seorang Pustakawan di Era Lompatan Kecerdasan Buatan Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini telah melahirkan perubahan besar dalam cara manusia membaca, menulis, menerjemahkan, dan memproduksi pengetahuan. Namun di balik perkembangan itu, muncul pula kegelisahan baru, terutama di kalangan pegiat literasi, peneliti independen, dan pustakawan yang mulai memanfaatkan AI dalam kerja-kerja intelektual mereka. Tulisan ini lahir dari pengalaman dan diskusi panjang seorang pustakawan yang selama ini bergelut dengan dokumen-dokumen lama, budaya lokal, serta pemanfaatan AI dalam membantu penelusuran dan penyusunan kajian budaya. Di tengah percepatan teknologi hari ini, sering muncul respons yang cukup menyakitkan: “Ah, itu kan AI.” Kalimat tersebut sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat akademik memandang perubahan cara produksi pengetahuan di era baru. AI dan Tuduhan yang Terlalu Cepat Hari ...