Langsung ke konten utama

Postingan

Saatnya Mengakhiri Literasi Seremonial

Membangun Ekosistem Gerakan Literasi Membaca Berbasis Data untuk Masa Depan Pendidikan Daerah Oleh: Yusron Humonggio Selama bertahun-tahun, gerakan literasi telah menjadi bagian dari berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia. Sekolah mengadakan pembiasaan membaca, lomba literasi, pojok baca, hingga Gerakan Literasi Sekolah. Hampir setiap tahun berbagai kegiatan dilaksanakan dengan semangat yang tinggi. Namun, kita perlu mengajukan satu pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar. Apakah kita benar-benar mengetahui berapa banyak peserta didik yang membaca setiap hari? Berapa persen siswa di setiap sekolah yang benar-benar mengikuti kegiatan membaca? Sekolah mana yang mengalami peningkatan budaya membaca? Kecamatan mana yang berhasil membangun budaya literasi? Kabupaten mana yang mengalami kemajuan dari tahun ke tahun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali belum dapat dijawab dengan data yang akurat. Selama ini kita lebih banyak mengukur keberhasilan dari banyaknya keg...
Postingan terbaru

Integrasi SLiMS dengan SIBI: Langkah Strategis Mengoptimalkan Literasi Digital di Sekolah

Oleh: Yusron Humonggio Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi tercetak, tetapi juga menjadi pusat penyediaan sumber belajar digital yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Dalam konteks tersebut, hadirnya plugin integrasi SLiMS (Senayan Library Management System) dengan SIBI (Sistem Informasi Buku Indonesia) yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan sebuah terobosan yang sangat penting dalam mendukung transformasi perpustakaan sekolah di Indonesia. Integrasi ini memberikan kemudahan bagi pustakawan maupun tenaga pengelola perpustakaan dalam mengembangkan koleksi digital. Melalui plugin tersebut, proses penambahan koleksi digital menjadi lebih cepat, praktis, dan terintegrasi langsung dengan aplikasi SLiMS yang telah banyak digunakan oleh perpustakaan sekolah di berbagai daerah. Salah satu keuntungan te...

Penguatan Komunitas Pegiat Literasi melalui Pengembangan Tools Pembelajaran Berbasis Kolaborasi

Mewujudkan Gerakan Literasi yang Berdampak bagi Masyarakat Pendahuluan Gerakan literasi sedang memasuki babak baru. Jika selama ini keberhasilan literasi lebih banyak diukur dari meningkatnya minat baca, jumlah koleksi, atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, maka pada era transformasi digital ukuran tersebut tidak lagi memadai. Masyarakat membutuhkan gerakan literasi yang mampu menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan belajar, bekerja, berkarya, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) membuka peluang yang sangat besar untuk mewujudkan perubahan tersebut. AI bukan tujuan akhir gerakan literasi, melainkan sarana yang mempercepat lahirnya inovasi. Melalui AI, proses merancang modul pembelajaran, membuat media digital, membangun aplikasi sederhana, menyusun sistem informasi, hingga mengembangkan kelas daring menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan terjangkau. Namun, pemanfaatan teknologi tidak harus dimulai ...

Google Mulai Ditinggalkan? Cara Orang Mencari Informasi Sedang Berubah

Selama lebih dari dua dekade, Google menjadi pintu utama bagi hampir semua orang ketika membutuhkan informasi. Apa pun yang ingin diketahui, jawabannya dianggap selalu ada di Google. Namun, memasuki tahun 2025–2026, kebiasaan tersebut mulai berubah. Semakin banyak orang tidak lagi mengetik kata kunci di mesin pencari, tetapi langsung mengajukan pertanyaan kepada kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity. Berbagai survei terbaru menunjukkan bahwa sebagian pengguna internet kini memulai pencarian informasi langsung melalui AI. Mereka memilih AI karena dapat memberikan jawaban yang cepat, ringkas, mudah dipahami, dan memungkinkan percakapan lanjutan tanpa harus membuka banyak halaman web. Bagi banyak orang, pengalaman ini terasa lebih praktis dibandingkan mencari sendiri di antara puluhan hasil pencarian. Meski demikian, perubahan ini bukan berarti Google kehilangan perannya. Google masih menjadi mesin pencari yang paling banyak digunakan di dunia dan teta...

Google Sudah Bukan Raja? Mengapa Literasi Informasi Harus Berubah di Era AI

"Dulu kita belajar cara mencari informasi. Hari ini, tantangan yang lebih besar adalah mengetahui informasi mana yang layak dipercaya." Selama lebih dari dua dekade, literasi informasi identik dengan kemampuan mencari informasi. Mahasiswa diajarkan menggunakan kata kunci yang tepat, memanfaatkan mesin pencari, membedakan sumber primer dan sekunder, serta mengevaluasi kredibilitas informasi. Semua itu tetap penting. Namun, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap informasi secara fundamental. Kini, banyak orang tidak lagi membuka mesin pencari untuk menemukan jawaban. Mereka cukup mengetik satu pertanyaan kepada chatbot berbasis AI, lalu dalam hitungan detik memperoleh jawaban yang tampak lengkap, runtut, bahkan disertai penjelasan. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan. Di sinilah literasi informasi memasuki babak baru. Dari Mencari Informasi Menjadi Berdialog de...

RESEARCH SUPPORT LIBRARIAN CENTER (RSLC): TRANSFORMASI LAYANAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI ERA KECERDASAN BUATAN

Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara sivitas akademika mengakses, mengelola, dan memanfaatkan informasi. Jika pada masa lalu perpustakaan menjadi gerbang utama memperoleh sumber pengetahuan, saat ini mahasiswa dan dosen dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital dan aplikasi berbasis AI. Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah perpustakaan masih relevan di era AI? Jawabannya adalah sangat relevan, bahkan lebih penting dari sebelumnya. Tantangan utama saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan melimpahnya informasi yang harus diseleksi, dievaluasi, diverifikasi, dan diolah menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dalam konteks inilah perpustakaan perguruan tinggi perlu melakukan transformasi peran dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pendampingan penelitian. Salah satu model yang dapat dikembangkan ad...