Langsung ke konten utama

KONSEP PENGGABUNGAN PERPUSTAKAAN DESA DATAHU, SEKOLAH, MASJID, DAN TBM DALAM SISTEM HYBRID

 

 

Untuk mengoptimalkan literasi dan akses informasi di tingkat desa, penggabungan perpustakaan desa, sekolah, masjid, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dapat diwujudkan dalam bentuk perpustakaan hybrid. Perpustakaan ini mengintegrasikan layanan fisik dan digital menggunakan teknologi otomasi seperti SLiMS (Senayan Library Management System) dan didukung oleh Perpustakaan Mobile (Keliling) berbentuk becak motor (bentor). Berikut adalah penjelasan detail konsep ini:

1. Integrasi Layanan Perpustakaan dalam SLiMS

SLiMS sebagai sistem otomasi perpustakaan open-source dapat menjadi tulang punggung pengelolaan perpustakaan hybrid. Integrasi layanan perpustakaan berbasis SLiMS di tingkat desa akan mencakup:

a)    Pengelolaan Koleksi: Semua koleksi perpustakaan desa, sekolah, masjid, dan TBM dikelola dalam satu basis data terpusat, memudahkan pencarian dan akses koleksi lintas institusi.

b)    Layanan Peminjaman dan Reservasi Online: Masyarakat dapat memesan buku melalui aplikasi berbasis web atau ponsel, yang terhubung dengan perpustakaan mobile. (Bentor Keliling)

c)    Pencatatan Aktivitas Literasi: Data pengguna dan aktivitas literasi, seperti jumlah buku yang dibaca, dapat dimonitor untuk evaluasi program literasi desa.

Dengan SLiMS, perpustakaan menjadi lebih efisien dalam pengelolaan koleksi, meningkatkan transparansi, dan memudahkan akses informasi bagi masyarakat.

2. Perpustakaan Mobile Berbasis Bentor untuk Layanan Keliling

Perpustakaan mobile dalam bentuk bentor akan menjadi inovasi menarik untuk menjangkau masyarakat di area Desa Datahu. Bentor ini akan dilengkapi:

a)    Rak Buku Portable: Untuk koleksi buku yang sering dipinjam.

b)    PC Mini atau Tablet: Terhubung dengan sistem SLiMS untuk memproses peminjaman atau pengembalian secara langsung.

c)    Koneksi Internet: Memberikan akses ke sumber digital seperti e-book, jurnal, dan materi pembelajaran online.

Layanan ini juga dapat diintegrasikan dengan jadwal rutin untuk menyambangi lokasi-lokasi strategis, seperti sekolah, masjid, atau balai desa. Selain itu, perpustakaan mobile ini dapat digunakan untuk mengantarkan buku yang telah dipesan melalui SLiMS.

3. Kolaborasi Antara Desa, Sekolah, Masjid, dan TBM

Penggabungan ini menciptakan sinergi untuk meningkatkan literasi dan pembelajaran:

a)    Desa: Menjadi pusat utama pengelolaan perpustakaan dan penyelenggaraan program literasi.

b)    Sekolah: Memberikan akses kepada siswa untuk koleksi yang lebih kaya, mendukung kurikulum dan pembelajaran mandiri.

c)    Masjid: Menyediakan literatur keagamaan dan program pendidikan berbasis nilai-nilai agama.

d)    TBM: Menjangkau komunitas yang kurang terlayani dengan menyediakan materi bacaan populer dan edukatif.

Kolaborasi ini akan menciptakan sistem layanan perpustakaan yang lebih inklusif, memberdayakan masyarakat melalui akses informasi yang setara.

4. Bentuk Hybrid untuk Mengakomodasi Kebutuhan Digital dan Fisik

Perpustakaan ini berbentuk hybrid, menggabungkan:

a)    Layanan Fisik: Koleksi buku, perpustakaan keliling, dan kegiatan komunitas literasi di lokasi tertentu.

b)    Layanan Digital: Akses e-book, jurnal elektronik, dan materi pembelajaran online melalui SLiMS dan aplikasi pendukung.

Setiap institusi yang tergabung dalam kolaborasi memiliki fokus program literasi yang saling melengkapi:

Desa: Pusat manajemen dan pengelolaan layanan berbasis masyarakat; Sekolah: Mendukung kebutuhan pembelajaran siswa; Masjid: Penyediaan koleksi literatur keagamaan; TBM: Penyebaran materi literasi populer untuk komunitas umum; Layanan perpustakaan keliling berbasis bentor memperluas jangkauan ke area yang sulit diakses, memastikan masyarakat desa memiliki akses ke bahan bacaan dan informasi.

 

RENCANA PELAKSANAAN

Bulan Desember 2024 : Perencanaan Awal dan Sosialisasi

  • Minggu 1–2:

o   Identifikasi stakeholder (perpustakaan desa, sekolah, masjid, TBM).

o   Adakan pertemuan awal untuk sosialisasi konsep joint-use library dan menentukan visi, misi, serta tujuan program.

o   Bentuk tim kerja yang melibatkan perwakilan setiap institusi.

  • Minggu 3–4:

o   Susun Memorandum of Understanding (MoU) tentang kolaborasi dan pembagian tanggung jawab.

o   Petakan sumber daya yang tersedia (koleksi buku, fasilitas, anggaran, teknologi).

o   Ajukan proposal untuk dukungan dari pemerintah desa atau sponsor.


Bulan 2: Pengembangan Infrastruktur dan Sistem

  • Minggu 1–2:

o   Instalasi dan konfigurasi SLiMS pada server lokal atau cloud.

o   Latih tim perpustakaan untuk menggunakan SLiMS, termasuk input data koleksi, peminjaman, dan pelaporan.

  • Minggu 3–4:

o     Data koleksi dari perpustakaan desa, sekolah, masjid, dan TBM diintegrasikan ke dalam SLiMS.

o     Lakukan modifikasi bentor menjadi perpustakaan mobile, meliputi pemasangan rak buku, perangkat mini-PC/tablet, dan koneksi internet.


Bulan 3: Pengujian dan Sosialisasi Layanan

  • Minggu 1–2:

o   Uji coba layanan SLiMS untuk memastikan sistem berjalan baik, termasuk pencatatan peminjaman dan pengembalian buku.

o   Uji coba operasional perpustakaan mobile berbasis bentor, termasuk jadwal kunjungan ke lokasi tertentu.

  • Minggu 3–4:
    • Sosialisasikan layanan perpustakaan kepada masyarakat melalui media sosial, pengumuman di masjid, sekolah, dan balai desa.
    • Adakan pelatihan literasi digital bagi warga desa agar mereka dapat memanfaatkan layanan online SLiMS.

Bulan 4: Pelaksanaan Program Literasi

  • Minggu 1–4:

o   Jalankan program literasi, seperti:

§  Hari Literasi Desa: pembacaan buku bersama, diskusi, dan lomba.

§  Pelatihan keterampilan berbasis literasi, seperti kerajinan tangan atau pengolahan makanan.

§  Klub Baca: kegiatan membaca bersama anak-anak dan remaja.

  • Pastikan perpustakaan mobile melayani masyarakat sesuai jadwal yang telah disusun.

Bulan 5: Monitoring dan Penyesuaian

  • Minggu 1–2:
    • Gunakan fitur laporan di SLiMS untuk mengevaluasi jumlah peminjaman buku, pengguna aktif, dan koleksi yang diminati.
    • Lakukan survei kepada masyarakat untuk mendapatkan masukan terkait layanan.
  • Minggu 3–4:
    • Adakan rapat evaluasi bersama semua pihak terkait untuk membahas temuan dan tantangan.
    • Lakukan penyesuaian pada jadwal, koleksi, atau layanan berdasarkan hasil evaluasi.

Bulan 6: Evaluasi Akhir dan Dokumentasi

  • Minggu 1–2:
    • Evaluasi menyeluruh terhadap keberhasilan program, termasuk jumlah pengguna layanan fisik dan digital, serta tingkat kepuasan masyarakat.
    • Dokumentasikan seluruh proses, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, dalam bentuk laporan.
  • Minggu 3–4:
    • Presentasikan hasil evaluasi kepada pemerintah desa dan stakeholder lainnya.
    • Susun rencana keberlanjutan untuk pengelolaan jangka panjang.

Output Akhir

  • Perpustakaan hybrid berbasis kolaborasi desa-sekolah-masjid-TBM yang terintegrasi dengan SLiMS.
  • Perpustakaan mobile (bentor) beroperasi secara efektif untuk melayani kebutuhan literasi masyarakat.
  • Sistem yang siap direplikasi ke desa lain.

 

  

 

JADWAL RENCANA PELUNCURAN JOINT-USE LIBRARY HYBRID


Tanggal                                                                      Kegiatan

1 Januari 2025 Kick-off meeting dengan stakeholder untuk memfinalisasi rencana peluncuran.

5 Januari 2025 Finalisasi instalasi SLiMS dan sinkronisasi data koleksi dari semua institusi.

10 Januari 2025 Uji coba operasional perpustakaan mobile berbasis bentor di rute yang telah ditentukan.

15 Januari 2025 Pelatihan teknis penggunaan SLiMS untuk pengelola dari setiap institusi.

20 Januari 2025 Promosi layanan perpustakaan hybrid melalui media sosial, poster, dan pengumuman lokal.

25 Januari 2025 Penyusunan jadwal operasional perpustakaan mobile dan distribusi informasi ke masyarakat.

1 Februari 2025 Pengujian sistem secara menyeluruh, termasuk layanan digital dan fisik.

5 Februari 2025 Rapat koordinasi terakhir dengan semua pihak untuk mengevaluasi persiapan.

8 Februari 2025 Distribusi undangan resmi peluncuran kepada stakeholder dan tokoh masyarakat.

10 Februari 2025 Peluncuran resmi joint-use library hybrid di tingkat Desa Datahu





 


  

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...