Langsung ke konten utama

Postingan

HALUSINASI AI DAN PANGGILAN BARU BAGI PUSTAKAWAN

Ketika Mesin Terlihat Pintar, Siapa yang Menjaga Kebenaran? Oleh: Yusron Humonggio Suatu hari seorang mahasiswa datang kepada saya dengan wajah penuh percaya diri. Ia menunjukkan sebuah tulisan yang dibuat dengan bantuan AI. Isinya rapi, sistematis, menggunakan bahasa akademik, lengkap dengan kutipan dan daftar referensi. Sekilas tampak sempurna. Namun setelah diperiksa, beberapa referensi yang dicantumkan ternyata tidak pernah ada. Nama penulisnya ada, topiknya masuk akal, bahkan judul artikelnya terdengar sangat ilmiah. Tetapi ketika ditelusuri lebih jauh, semuanya fiktif. AI telah berhalusinasi. Ironisnya, mahasiswa tersebut tidak menyadari bahwa ia sedang membawa informasi palsu. Ia percaya karena jawaban itu terlihat meyakinkan. Di sinilah persoalan besar abad ini dimulai. Dari Krisis Akses Menjadi Krisis Verifikasi Selama puluhan tahun, perjuangan perpustakaan adalah memperluas akses informasi. Kita membangun gedung, mengembangkan koleksi, menghadirkan internet, mencipta...
Postingan terbaru

STRATEGI GERAKAN HALUS: Jalan Realistis Memajukan Perpustakaan di Era BANI

Oleh: Yusron Humonggio  Di banyak daerah, perpustakaan sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, masyarakat berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Di sisi lain, perpustakaan sering dihadapkan pada keterbatasan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia, serta tuntutan pelayanan yang terus meningkat. Situasi ini semakin terasa dalam apa yang dikenal sebagai Era BANI (Brittle, Anxious, Non-Linear, Incomprehensible), yaitu era yang ditandai oleh kondisi yang rapuh, penuh kecemasan, tidak linier, dan sulit dipahami. Dalam kondisi seperti ini, banyak organisasi mengalami kesulitan beradaptasi, termasuk perpustakaan. Namun persoalan utama perpustakaan sebenarnya bukan terletak pada gedung, rak buku, atau fasilitas fisik. Persoalan yang lebih mendasar terletak pada bagaimana manusia di dalam organisasi menghadapi perubahan. Banyak perpustakaan telah menjalankan pola kerja yang sama selama bertahun-tahun. Kebiasaan yang suda...

5 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN

5 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN 1. TERLALU FOKUS PADA GEDUNG DAN KOLEKSI, LUPA PADA RELEVANSI Banyak perpustakaan masih mengukur keberhasilan dari jumlah buku, megahnya gedung, dan rapinya ruang baca. Padahal masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan tempat menyimpan buku, tetapi membutuhkan ruang belajar yang hidup, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Rak boleh penuh, tetapi jika masyarakat tidak merasa terbantu, maka perpustakaan perlahan kehilangan maknanya. Perpustakaan bukan sekadar bangunan. Perpustakaan adalah ruang tumbuh: tempat lahirnya ide, kreativitas, diskusi, dan perubahan sosial. Karena perpustakaan yang kuat bukan yang paling besar gedungnya, melainkan yang paling besar pengaruhnya di tengah masyarakat. 2. MENUNGGU MASYARAKAT DATANG, BUKAN AKTIF MENJEMPUT MASYARAKAT Masih banyak perpustakaan yang bekerja dengan pola lama: membuka layanan lalu menunggu pengunjung datang sendiri. Padahal hari ini masyarakat h...

"Jangan Hanya Berkata Itu AI”

Catatan Kegelisahan Seorang Pustakawan di Era Lompatan Kecerdasan Buatan Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini telah melahirkan perubahan besar dalam cara manusia membaca, menulis, menerjemahkan, dan memproduksi pengetahuan. Namun di balik perkembangan itu, muncul pula kegelisahan baru, terutama di kalangan pegiat literasi, peneliti independen, dan pustakawan yang mulai memanfaatkan AI dalam kerja-kerja intelektual mereka. Tulisan ini lahir dari pengalaman dan diskusi panjang seorang pustakawan yang selama ini bergelut dengan dokumen-dokumen lama, budaya lokal, serta pemanfaatan AI dalam membantu penelusuran dan penyusunan kajian budaya. Di tengah percepatan teknologi hari ini, sering muncul respons yang cukup menyakitkan: “Ah, itu kan AI.” Kalimat tersebut sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat akademik memandang perubahan cara produksi pengetahuan di era baru. AI dan Tuduhan yang Terlalu Cepat Hari ...

AI, Tradisi Lisan, dan Masa Depan Kepenulisan Budaya

Sebuah Ulasan Awal untuk Dikaji Bersama Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia literasi dan kepenulisan. Jika sebelumnya AI dipandang hanya sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, merangkum teks, atau menyusun struktur tulisan, kini kemampuannya berkembang jauh lebih kompleks. AI mulai mampu menangkap nuansa emosional, konteks budaya, bahkan atmosfer tradisi lokal melalui prompt yang kaya dan terarah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting yang layak dikaji secara serius oleh akademisi, pegiat budaya, pustakawan, penulis, dan para pakar literasi: Apakah AI mulai mampu membantu merepresentasikan pengalaman budaya dan tradisi lisan yang selama ini dianggap sangat manusiawi? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar wacana teknologi, tetapi sudah menjadi kenyataan yang muncul dalam praktik sehari-hari. AI dan Kemampuan Menangkap “Rasa” Budaya Dalam pengalaman berbagai pengguna, termasuk pegiat literasi da...

Refleksi Lama yang Masih Relevan untuk Nilai Literasi Hari Ini

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd Sekitar awal tahun 2000, pada masa awal Reformasi, saya pernah terlibat dalam sebuah program penguatan perencanaan pendidikan yang didukung oleh JICA, lembaga kerja sama dari Jepang. Program itu mendorong sekolah dan masyarakat ikut bersama-sama merencanakan pengembangan pendidikan di daerah. Dalam program tersebut saya bekerja bersama seorang konsultan Jepang bernama Naomi. Ia sangat lancar berbahasa Indonesia dan memiliki cara melihat sekolah yang berbeda dari kebanyakan orang. Suatu hari Naomi mengajak saya berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah. Selama dua hari kami mendatangi sekitar sepuluh sekolah. Yang menarik, ia hampir tidak melakukan wawancara dengan guru atau kepala sekolah. Ia lebih banyak berjalan, mengamati suasana sekolah, melihat kegiatan siswa saat istirahat, dan sesekali masuk ke kelas untuk melihat proses pembelajaran. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang waktu itu mungkin tidak terlalu kami sadari: apakah siswa membawa buku, apak...

“Gorontalo di 10 Besar Nasional: Fondasi Kuat Menuju Lompatan Literasi”

Oleh : (Yusron Humonggio) Gorontalo kembali mencatatkan capaian yang patut diapresiasi. Dalam rilis terbaru Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 , provinsi ini menempati peringkat ke-8 nasional. Sebuah posisi yang, di atas kertas, menandakan kemajuan signifikan dalam pembangunan literasi. Di tengah berbagai keterbatasan daerah, capaian ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja panjang—dari pembangunan perpustakaan, penyediaan koleksi buku, hingga berbagai program literasi yang terus digalakkan. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang literat? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebab di balik angka yang tampak menggembirakan itu, terdapat kenyataan lain yang tidak kalah penting: minat baca masyarakat Gorontalo masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia. Fakta ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan—ketika indikator pembangunan literasi meningkat, tetapi pr...