Perpustakaan daerah hari ini berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih tetap nyaman dalam rutinitas administratif—atau bertransformasi menjadi organisasi yang tangguh, adaptif, dan relevan. Gedung mungkin berdiri. Program mungkin berjalan. Laporan mungkin selesai tepat waktu. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah perpustakaan kita sedang bertumbuh, atau hanya bertahan? Dalam konteks perubahan sosial, digitalisasi, dan tuntutan literasi abad ke-21, perpustakaan tidak lagi cukup menjadi unit kerja yang patuh prosedur. Ia harus menjadi organisasi resilienyakni organisasi yang mampu membaca perubahan, belajar dari tantangan, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Fondasi Filosofis Resiliensi Perpustakaan Konsep resiliensi bukan sekadar jargon manajemen modern. Ia memiliki landasan teoritis yang kuat. Pertama, teori sistem terbuka dari Ludwig von Bertalanffy menegaskan bahwa organisasi hidup karena interaksinya dengan lingkungan. Jika lingkungan berubah dan organ...
Suatu pagi di kelas dua sekolah dasar, seorang anak diminta membaca sebuah paragraf pendek. Ia mengeja perlahan, berhenti di beberapa kata, lalu melanjutkan lagi. Di akhir bacaan, guru tersenyum dan berkata, “Sudah bagus, lanjut latihan ya.” Anak itu naik ke kelas berikutnya. Namun beberapa tahun kemudian, ia kesulitan memahami soal cerita matematika. Ia lambat membaca teks pelajaran. Ia terlihat tidak percaya diri ketika diminta membaca keras di depan kelas. Masalahnya bukan di kelas lima. Masalahnya bukan pada soal yang sulit. Masalahnya mungkin sudah ada sejak kelas dua — ketika kemampuan dasarnya belum benar-benar kokoh. Itulah yang disebut decoding : kemampuan mengubah huruf menjadi bunyi secara tepat dan lancar. Ini adalah fondasi membaca. Jika fondasi ini tidak kuat, bangunan di atasnya akan goyah. Sayangnya, di Indonesia, kita belum memiliki sistem evaluasi decoding yang benar-benar terstruktur dan konsisten di kelas awal. Guru tentu menilai. Guru tentu memperhatikan. N...