Langsung ke konten utama

“Gorontalo di 10 Besar Nasional: Fondasi Kuat Menuju Lompatan Literasi”

Oleh


: (Yusron Humonggio)

Gorontalo kembali mencatatkan capaian yang patut diapresiasi. Dalam rilis terbaru Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024, provinsi ini menempati peringkat ke-8 nasional. Sebuah posisi yang, di atas kertas, menandakan kemajuan signifikan dalam pembangunan literasi. Di tengah berbagai keterbatasan daerah, capaian ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja panjang—dari pembangunan perpustakaan, penyediaan koleksi buku, hingga berbagai program literasi yang terus digalakkan.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang literat?

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebab di balik angka yang tampak menggembirakan itu, terdapat kenyataan lain yang tidak kalah penting: minat baca masyarakat Gorontalo masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia. Fakta ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan—ketika indikator pembangunan literasi meningkat, tetapi praktik literasi dalam kehidupan sehari-hari belum mengakar kuat.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah paradoks. Di satu sisi, fasilitas literasi terus bertambah. Perpustakaan dibangun, koleksi diperluas, program digelar. Namun di sisi lain, ruang-ruang tersebut belum sepenuhnya hidup. Buku tersedia, tetapi tidak selalu dibaca. Perpustakaan berdiri, tetapi belum menjadi tujuan utama masyarakat. Literasi hadir sebagai program, belum sepenuhnya menjadi budaya.

Ini menunjukkan bahwa persoalan utama kita hari ini bukan lagi pada akses, melainkan pada kebiasaan. Kita telah cukup berhasil menyediakan sarana, tetapi belum sepenuhnya berhasil menumbuhkan kebutuhan. Padahal, inti dari literasi bukan pada keberadaan buku, melainkan pada relasi manusia dengan pengetahuan.

Kondisi ini juga mencerminkan bahwa pendekatan pembangunan literasi kita masih cenderung bersifat struktural dan administratif. Kita sibuk menghitung jumlah perpustakaan, koleksi, dan kegiatan, tetapi kurang memberi perhatian pada bagaimana masyarakat benar-benar berinteraksi dengan literasi itu sendiri. Akibatnya, capaian yang diraih lebih banyak berbicara tentang sistem, bukan tentang perubahan perilaku.

Jika kita jujur, tantangan terbesar literasi di Gorontalo justru berada di ruang-ruang paling dekat: keluarga dan lingkungan sosial. Di rumah, membaca belum menjadi kebiasaan harian. Di masyarakat, diskusi berbasis pengetahuan belum menjadi tradisi. Anak-anak tumbuh di tengah arus digital yang deras, tetapi tanpa pendampingan literasi yang memadai. Dalam situasi seperti ini, kehadiran perpustakaan saja tidak cukup.

Karena itu, kita perlu menggeser cara pandang. Literasi tidak bisa lagi diposisikan sebagai program pemerintah semata. Ia harus menjadi gerakan bersama—yang hidup di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Orang tua harus kembali mengambil peran sebagai penggerak literasi pertama bagi anak-anaknya. Guru perlu menjadikan membaca dan berpikir sebagai inti pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Sementara itu, perpustakaan harus bertransformasi dari sekadar tempat penyimpanan buku menjadi ruang interaksi dan kreativitas.

Masuknya Gorontalo dalam 10 besar nasional seharusnya tidak menjadi titik akhir, melainkan titik awal. Ini adalah momentum untuk melakukan lompatan, bukan sekadar mempertahankan posisi. Jika tidak diikuti dengan perubahan budaya yang nyata, capaian ini berisiko menjadi sekadar prestasi administratif—yang membanggakan di laporan, tetapi belum terasa dalam kehidupan masyarakat.

Kita tidak boleh puas terlalu cepat.

Sebab ukuran sejati literasi bukan pada angka indeks, melainkan pada sejauh mana masyarakat mampu berpikir kritis, memahami informasi, dan mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari. Literasi yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terjebak hoaks, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Gorontalo telah menunjukkan bahwa ia mampu membangun fondasi. Kini, tantangan berikutnya adalah menjadikan fondasi itu sebagai rumah yang benar-benar dihuni—oleh kebiasaan membaca, oleh budaya berpikir, dan oleh semangat belajar sepanjang hayat.

Jika itu bisa kita wujudkan, maka peringkat ke-8 bukan lagi sekadar angka. Ia akan menjadi bukti bahwa literasi di Gorontalo bukan hanya dibangun, tetapi benar-benar dihidupi.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...