Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

9 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN

Perpustakaan umum sesungguhnya tidak sedang kekurangan gedung. Tidak juga kekurangan rak buku, meja baca, atau kegiatan seremonial. Namun ada sesuatu yang perlahan hilang: relevansi. Di tengah dunia yang bergerak cepat, banyak perpustakaan masih berjalan dengan pola lama. Sementara masyarakat berubah, cara belajar berubah, cara membaca berubah, bahkan cara manusia mencari pengetahuan pun berubah. Ironisnya, sebagian perpustakaan masih merasa baik-baik saja. Padahal tanda-tanda krisis itu mulai terlihat: pengunjung berkurang, generasi muda semakin jauh, kegiatan ramai tetapi dampaknya kecil, dan perpustakaan perlahan kehilangan posisi pentingnya di tengah masyarakat. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perpustakaan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan sekaligus harapan bahwa perpustakaan masih bisa bangkit jika berani berubah. Karena ancaman terbesar perpustakaan hari ini bukan era digital, melainkan kenyamanan dalam stagnasi. 1. TERLALU SIBUK MENJAGA BUKU, LUPA MENJA...

"Jangan Hanya Berkata Itu AI”

Catatan Kegelisahan Seorang Pustakawan di Era Lompatan Kecerdasan Buatan Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini telah melahirkan perubahan besar dalam cara manusia membaca, menulis, menerjemahkan, dan memproduksi pengetahuan. Namun di balik perkembangan itu, muncul pula kegelisahan baru, terutama di kalangan pegiat literasi, peneliti independen, dan pustakawan yang mulai memanfaatkan AI dalam kerja-kerja intelektual mereka. Tulisan ini lahir dari pengalaman dan diskusi panjang seorang pustakawan yang selama ini bergelut dengan dokumen-dokumen lama, budaya lokal, serta pemanfaatan AI dalam membantu penelusuran dan penyusunan kajian budaya. Di tengah percepatan teknologi hari ini, sering muncul respons yang cukup menyakitkan: “Ah, itu kan AI.” Kalimat tersebut sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat akademik memandang perubahan cara produksi pengetahuan di era baru. AI dan Tuduhan yang Terlalu Cepat Hari ...

AI, Tradisi Lisan, dan Masa Depan Kepenulisan Budaya

Sebuah Ulasan Awal untuk Dikaji Bersama Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia literasi dan kepenulisan. Jika sebelumnya AI dipandang hanya sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, merangkum teks, atau menyusun struktur tulisan, kini kemampuannya berkembang jauh lebih kompleks. AI mulai mampu menangkap nuansa emosional, konteks budaya, bahkan atmosfer tradisi lokal melalui prompt yang kaya dan terarah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting yang layak dikaji secara serius oleh akademisi, pegiat budaya, pustakawan, penulis, dan para pakar literasi: Apakah AI mulai mampu membantu merepresentasikan pengalaman budaya dan tradisi lisan yang selama ini dianggap sangat manusiawi? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar wacana teknologi, tetapi sudah menjadi kenyataan yang muncul dalam praktik sehari-hari. AI dan Kemampuan Menangkap “Rasa” Budaya Dalam pengalaman berbagai pengguna, termasuk pegiat literasi da...

Refleksi Lama yang Masih Relevan untuk Nilai Literasi Hari Ini

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd Sekitar awal tahun 2000, pada masa awal Reformasi, saya pernah terlibat dalam sebuah program penguatan perencanaan pendidikan yang didukung oleh JICA, lembaga kerja sama dari Jepang. Program itu mendorong sekolah dan masyarakat ikut bersama-sama merencanakan pengembangan pendidikan di daerah. Dalam program tersebut saya bekerja bersama seorang konsultan Jepang bernama Naomi. Ia sangat lancar berbahasa Indonesia dan memiliki cara melihat sekolah yang berbeda dari kebanyakan orang. Suatu hari Naomi mengajak saya berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah. Selama dua hari kami mendatangi sekitar sepuluh sekolah. Yang menarik, ia hampir tidak melakukan wawancara dengan guru atau kepala sekolah. Ia lebih banyak berjalan, mengamati suasana sekolah, melihat kegiatan siswa saat istirahat, dan sesekali masuk ke kelas untuk melihat proses pembelajaran. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang waktu itu mungkin tidak terlalu kami sadari: apakah siswa membawa buku, apak...

“Gorontalo di 10 Besar Nasional: Fondasi Kuat Menuju Lompatan Literasi”

Oleh : (Yusron Humonggio) Gorontalo kembali mencatatkan capaian yang patut diapresiasi. Dalam rilis terbaru Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 , provinsi ini menempati peringkat ke-8 nasional. Sebuah posisi yang, di atas kertas, menandakan kemajuan signifikan dalam pembangunan literasi. Di tengah berbagai keterbatasan daerah, capaian ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja panjang—dari pembangunan perpustakaan, penyediaan koleksi buku, hingga berbagai program literasi yang terus digalakkan. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang literat? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebab di balik angka yang tampak menggembirakan itu, terdapat kenyataan lain yang tidak kalah penting: minat baca masyarakat Gorontalo masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia. Fakta ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan—ketika indikator pembangunan literasi meningkat, tetapi pr...