Langsung ke konten utama

Refleksi Lama yang Masih Relevan untuk Nilai Literasi Hari Ini

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd

Sekitar awal tahun 2000, pada masa awal Reformasi, saya pernah terlibat dalam sebuah program penguatan perencanaan pendidikan yang didukung oleh JICA, lembaga kerja sama dari Jepang. Program itu mendorong sekolah dan masyarakat ikut bersama-sama merencanakan pengembangan pendidikan di daerah.

Dalam program tersebut saya bekerja bersama seorang konsultan Jepang bernama Naomi. Ia sangat lancar berbahasa Indonesia dan memiliki cara melihat sekolah yang berbeda dari kebanyakan orang.

Suatu hari Naomi mengajak saya berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah. Selama dua hari kami mendatangi sekitar sepuluh sekolah. Yang menarik, ia hampir tidak melakukan wawancara dengan guru atau kepala sekolah. Ia lebih banyak berjalan, mengamati suasana sekolah, melihat kegiatan siswa saat istirahat, dan sesekali masuk ke kelas untuk melihat proses pembelajaran.

Ia memperhatikan hal-hal kecil yang waktu itu mungkin tidak terlalu kami sadari:

  • apakah siswa membawa buku,
  • apakah ada anak yang membaca saat jam istirahat,
  • bagaimana guru mengajar,
  • dan bagaimana suasana belajar di kelas.

Setelah beberapa sekolah kami kunjungi, Naomi berkata pelan kepada saya:

“Anak-anak di sini tidak membaca ya.”

Saya sempat terkejut. Dari mana ia bisa menyimpulkan itu hanya dari kunjungan singkat?

Lalu ia menjelaskan:

“Selama dua hari saya hampir tidak pernah melihat siswa memegang buku dan membaca di luar jam pelajaran.”

Ketika masuk ke kelas, ia juga melihat pembelajaran masih sangat didominasi guru. Guru berdiri di depan menjelaskan pelajaran, sementara siswa lebih banyak mendengar. Hampir tidak ada kegiatan membaca bersama, diskusi bacaan, atau aktivitas yang membuat siswa akrab dengan buku.

Waktu itu saya belum benar-benar memahami kedalaman pengamatannya. Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, saya mulai menyadari bahwa Naomi sebenarnya sedang melihat akar persoalan pendidikan kita.

Ia tidak menilai sekolah dari gedungnya. Ia tidak sibuk melihat laporan administrasi. Ia membaca budaya belajar sekolah.

Menurutnya, jika anak-anak tidak terbiasa membaca secara alami, bahkan saat mereka sedang santai atau istirahat, maka membaca belum menjadi budaya hidup di sekolah maupun di rumah.

Yang paling saya ingat, Naomi tidak menyalahkan guru. Ia justru mengatakan bahwa persoalan ini harus direncanakan bersama masyarakat dan orang tua. Karena budaya membaca tidak lahir dari sekolah saja, tetapi dari lingkungan yang membuat anak dekat dengan buku dan pengetahuan.

Hari ini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya merasa pengalaman itu masih sangat relevan. Kita sering membicarakan rendahnya nilai literasi dalam rapor pendidikan, asesmen nasional, maupun TKA. Banyak siswa kesulitan memahami bacaan, menarik kesimpulan, atau berpikir kritis terhadap teks.

Tetapi mungkin persoalannya memang sudah dimulai sejak lama:

  • ketika membaca belum menjadi kebiasaan,
  • ketika pembelajaran terlalu banyak ceramah,
  • ketika buku hanya dianggap alat pelajaran,
  • bukan teman berpikir dan jendela pengetahuan.

Dari pengalaman kecil bersama Naomi itu saya belajar satu hal penting:

Pendidikan tidak hanya dibangun melalui kurikulum dan ujian, tetapi melalui budaya belajar yang hidup dalam keseharian sekolah.

Kadang untuk memahami kualitas pendidikan, kita tidak perlu langsung melihat angka statistik. Cukup duduk sebentar di halaman sekolah saat jam istirahat, lalu lihat: apakah ada anak yang membaca buku dengan senang hati.

Yusron

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...