Oleh : BASRI AMIN
![]() |
| Oleh : BASRI AMIN Artikel ini telah dimuat di : https://gorontalopost.id/2022/11/07/november-bulan-literasi-gorontalo/ |
Masih banyak yang belum tahu bahwa Gorontalo sudah mempunyai dasar legal guna melakukan loncatan jauh untuk urusan Literasi. Bisa jadi Gorontalo adalah satu-satunya provinsi yang punya Peraturan Gubernur (Pergub) Literasi daerah. Pergub Gorontalo No. 22 Tahun 2018 Tentang “Penetapan Bulan Literasi Daerah”, pada Bab IV, Pasal 6 ayat (1), menetapkan bahwa “Bulan Literasi Daerah adalah November”. Naskah lengkapnya Pergub-prov-gorontalo-no-22-tahun-2018. dapat di downlod di sini
Kini yang kita butuhkan adalah gerakan nyata yang konsisten,
sungguh-sungguh, dan berkelanjutan. Jangan khianati Literasi Gorontalo!
Sebagai orang yang terlibat sejak
2011 meriset tentang jejak-jejak literasi Gorontalo dan sekian tahun berupaya
meyakinkan banyak pihak, tentulah bangga dan memberi apresiasi atas legitimasi
Pergub No. 22/2018 tersebut untuk (gerakan) Literasi di Gorontalo. Meski
demikian, para penggiat, pekerja, dan pecinta Literasi di lapangan adalah pihak
yang paling menentukan sukses-tidaknya cita-cita “pencerdasan bangsa” ini di
alam nyata.
Kata “Indonesia” sudah dipakai
oleh kalangan terdidik Gorontalo sejak tahun 1932. Bahkan mungkin tak lama
setelah gerakan kebangsaan bergerak di tanah Jawa, wawasan Indonesia sudah
terterima di Goronalo. Itulah yang bisa kita baca dalam jurnal Po-noewa,
setidaknya pada edisi ke-4 dan ke-7. Setelah lebih 85 tahun, sosok Po-Noewa
kini akhirnya bisa menjadi dasar ilmiah dalam menentukan jejak awal Literasi
Gorontalo; sebagaimana dirujuk dalam Pergub Gorontalo No. 22/2018, bab IV pasal
6 ayat (2). November tahun ini, jejak Po-Noewa Gorontalo sudah 90 tahun.
Jelas sekali bahwa tradisi
intelektual dan biografi daerah ini tak bisa dipandang sebelah mata. Apa
buktinya? Adalah Po-noewa!. Tepat pada 30 November 1932, terbitan cetak pertama
dari tangan-tangan putra terbaik Gorontalo lahir. Majalah itu bernama:
Poe-noewa! Mereka adalah generasi terdidik pertama daerah ini. Ini adalah bukti
sejarah paling awal dan nyata mengenai karya intelektual dan pencapaian
literasi Gorontalo yang pernah dihasilkan oleh tangan-tangan terbaik Gorontalo.
Gorontalo Instituut (GI) adalah
perserikatan yang melahirkan jurnal Po-noewa, yang dicetak oleh Yo Un Ann
Gorontalo. Mereka tidak banyak, kurang lebih 15 orang. Organisasi ini berdiri
pada 14 Agustus 1932, dengan susunan pengurus: A. Uno, J.J. Hatibi, L. Dunggio,
Aboebakar Datau dan K. Dungga. Pengurus dibantu oleh beberapa agen: Bl Biki
(Limboto), Max Uno (Kwandang) dan D.M. Lahay (Suwawa). Organisasi ini bertujuan:
memajukan ilmu pengetahuan, menyelidiki dan menjawab soal-soal mengenai
pergaulan umum, ekonomi, budaya dan adat istiadat, serta kemajuan umum uduluwo
lo limolopohalaa (Gorontalo). Dengan cita-cita itulah, GI akan mendirikan Balai
Pustaka (bibliothek, museum Gorontalo, dll).
Po-Noewa terbit setiap bulan yang
berisi naskah-naskah pidato/ceramah atau sejenis pengkajian terbatas yang
disampaikan oleh orang-orang Gorontalo terpilih pada masa itu. Setiap peserta
bisa memberikan tanggapan melalui tulisan, tidak melalui komunikasi langsung.
Dewan redaksi Po-Noewa yang akan menyeleksi penerbitan setiap naskah ceramah,
demikian juga dengan tanggapan tertulis dari peserta. Terbitan terakhir
Po-Noewa adalah edisi ke-8, bulan Juni 1933. Sejak terbitnya pada November 1932
s.d. Juni 1933, jumlah halaman Po-Noewa adalah ±186 halaman. Kantor redaksinya
bertempat di Reksoseomitro – Gorontalo. Hingga terbitan ketiga, pelanggan
Ponoewa sekitar 53 orang dan tercetak untuk sekitar 120 orang pembeli, yang
tersebar dari Kwandang, Suwawa, Bendar, Limboto, Tomini dan Manado
Kita butuh membaca kembali
kalender peradaban kita. Perkembangan Gorontalo pada awal 1920an hingga
memasuki pertengahan 1930an adalah sebuah periode yang penting dipelajari dan
dipahami. Di satu sisi cengkraman kolonial masih berlangsung, tapi di sisi lain
telah terjadi kebangkitan generasi terdidik awal pribumi yang telah berhasil
mengecap pendidikan modern. Uniknya lagi karena pada saat yang sama terbentuk
jaringan-jaringan organisasi keagamaan dan kebangsaan antara Jawa dan luar
Jawa, yang didukung oleh munculnya penerbitan-penerbitan tulisan yang
teroganisasi. Keadaan inilah yang menjadi landasan berperannya elite baru.
Jumlah mereka memang sangat sedikit tapi berhasil membentuk pemahaman dan hubungan-hubungan
baru di masyarakat
Tidak semua peristiwa mampu
direkam oleh media cetak, tapi sesederhana apa pun itu cakupannya ia bisa
mewakili jagad keadaan dan pemikiran pada setiap masa. Bahkan pada beberapa
bagian, media pribumi -–terutama yang berbahasa Melayu—berada pada pencapaian
nalar, investigasi dan karya jurnalistik yang luar biasa, seperti terlihat pada
“Soerat Chabar Betawie” tahun 1858, surat kabar “Bintang Timoer” di Padang
tahun 1865 dan “Tjahaya Sijang” tahun 1869 di Manado. Di Gorontalo sendiri,
penerbitan itu baru tampak pada 1927 dengan
munculnya “Persaudara’an” (1926/1927), “Oetoesan Islam” (1927),
“Al-Iman” (1932), “Peringatan” (1934), “Kewadjiban Kita” (1934) dan “Seroean”
(1941) (Lapian, dkk, 1980).
Setelah periode ini, tradisi menulis
dan penerbitan di Gorontalo terus berlanjut. Bisa dikatakan, sebagai mana
terlihat dari visi penerbitannya, media cetak Gorontalo sangat “Republikein”.
Dalam daftar Kementerian Penerangan tahun 1953, terbitan Gorontalo tercatat
pada periode 1945-1949 berjumlah 12 buah: Suara Nasional, Tjahaja Merdeka,
Sinar Merdeka, Suara Rakjat, Kilat, Kesatuan, Suara Pemuda, Lukisan Masjarakat,
Kebenaran, Kita, Adil, dan Insjaf. Tokoh-tokoh pers Gorontalo pada periode itu,
antara lain: Amin Larekeng, M. Imran, Is Datau, M.S.Ointoe, A.R. Onge, A. Tumu,
S. Musa dan Usman Monoarfa.
Telaah kesejarahan hanya
diperlukan ketika hendak “memperingati” sesuatu. Di sisi lain, sejarah makin
identik dengan sebuah “cerita besar” oleh orang-orang besar. Sayangnya, kalau
kita menengok ke tingkat lokal, barangkali termasuk di Gorontalo, cukup terasa
bahwa sejarah kita terasa amat sedikit. Bukti-bukti sejarah kita bahkan makin
‘sekarat’ (dokumen, artefak fisik, biografi, arsip-arsip, dst).
Pada tingkat tertentu, Gorontalo
kita cukup sunyi karya-karya tulis sejarah yang bermutu, dan kalau pun ada beberapa,
sangat terasa bagaimana sambutan publik dan kalangan atas, termasuk pemerintah
daerah dan kalangan terdidik, relatif terbatas. Tak banyak yang peduli dengan
konsisten. Dengan dasar data itulah, Po-Noewa bisa dijadikan sebagai tonggak
perubahan penting dalam kesadaran dan gerakan pencerdasan bangsa di Gorontalo
menuju masa depan.
Melalui jejak generasi literer
pertama di daerah ini, aspirasi untuk mengukuhkan tradisi intelektual dan
kesadaran peradaban Gorontalo dikukuhkan (kembali) dan dijadikan sumber
inspirasi dan momentum untuk melangkah lebih jauh di berbagai arena kehidupan
di tingkat nasional dan global. Jarak ke masa lalu (time and social distance,
Zerubavel, 2004) akan membawa resiko ketika kita tak menjadikannya sebagai
“ruang komunikasi” bersama ke masa depan.
November –-jika konsisten
dikonversi menjadi momentum edukasi—, sangat potensial membesarkan kekuatan
simbolik dan berdampak kolektif bagi visi pendidikan, wawasan kultural dan
keharmonisan sosial keGorontaloan dalam percaturan nasional dan global. Dengan
adanya “Bulan Literasi” –sebagai penegasan bulan literasi November itu–, maka
Gorontalo mempunyai “konektor” pencerdasan bangsa yang sifatnya langsung,
menyentuh dan meluas. Ini sekaligus membentuk brand tentang misi Gorontalo menggerakkan
arah masa depannya. Ini pun nyambung karena kita berkepentingan dengan momentum
Desember, HUT Provinsi Gorontalo di bulan Desember. Setelah itu, kita semakin
patenkan Gerakan Merah Putih – Hari Patriotik 23 Januari 1942. Mari segera kita
pikirkan sebuah kalender daerah yang punya ruh dan arah jelas ke masa depan.
***
Penulis adalah
Managing Directore, Lembaga Kajian Sekolah dan Masyarakat (LekSEMA);
Anggota
Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail:
basriamin@gmail.com
