Langsung ke konten utama

MENINGKATKAN LITERASI: “PERAN VITAL PERPUSTAKAAN DALAM LINGKUNGAN BELAJAR”

Dalam upaya meningkatkan capaian rapor pendidikan khususnya komponen literasi siswa antara lain melalui upaya menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan pengelolaan perpustakaan sesuai SNP (Standar Nasional Perpustakaan)

Pustakawan atau tenaga perpustakaan bertanggung jawab atas berbagai aspek yang mencakup layanan penelusuran informasi, kolaborasi dengan guru, promosi buku bermutu, penyelenggaraan kegiatan literasi, pengelolaan bahan pustaka, dan pemanfaatan aplikasi automasi perpustakaan. 

Layanan penelusuran informasi oleh pustakawan menjadi kunci dalam memastikan siswa memiliki akses ke bahan bacaan yang tepat dan mendukung perkembangan psikologis mereka. Dengan mengelola koleksi perpustakaan secara cermat, pustakawan memberikan kontribusi besar terhadap kelengkapan dan ketersediaan sumber pembelajaran.

'Membangun Lingkungan Belajar Yang Kaya Kegiatan Literasi.  (Lihat Video DISINI)

Kolaborasi antara pustakawan dan guru melibatkan pemanfaatan bahan perpustakaan untuk penyampaian materi kelas, termasuk kegiatan storytelling. Ini tidak hanya menyegarkan pembelajaran tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dengan materi pelajaran melalui pendekatan yang menarik.

Pustakawan juga memiliki peran penting dalam mempromosikan buku berkualitas di perpustakaan. Melalui berbagai media promosi, seperti leaflet dan poster, media sosial mereka dapat menarik perhatian siswa pada koleksi buku yang menarik dan bermutu. Keterlibatan siswa dalam pembuatan materi promosi membangun rasa memiliki terhadap perpustakaan.

Kegiatan selebrasi literasi, seperti undangan pendongeng, penulis buku, dan lomba membaca nyaring, menjadi inisiatif pustakawan untuk meramaikan lingkungan belajar. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk alumni dan komite sekolah, dapat memperkaya pengalaman literasi siswa.

Pengelolaan buku dengan menggunakan sistem IT memastikan perpustakaan menjadi sumber pengetahuan yang terorganisir dengan baik, memudahkan siswa dalam menemukan buku sesuai kebutuhan. Pemanfaatan aplikasi Slims atau inlislite dalam pengelolaan perpustakaan memberikan efisiensi dalam operasional sehingga fokus dapat lebih ditekankan pada kegiatan yang memperkaya literasi siswa. Secara keseluruhan, pengelolaan perpustakaan yang baik dan terarah adalah pilar utama dalam membangun lingkungan belajar yang kaya akan kegiatan literasi di sekolah. Pustakawan, sebagai garda terdepan, memiliki peran strategis dalam membentuk siswa yang literat, aktif, dan siap menghadapi tantangan belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, upaya bersama dalam menciptakan lingkungan literasi yang kondusif akan memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter dan kemampuan siswa,,, Salam Literasi,,,

Oleh : Yusron Humonggio (Sek_IPI_Gtlo)


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...