Langsung ke konten utama

"SOLUSI MODERN: PENGADAAN SMARTPHONE SEBAGAI BAGIAN DARI PROMOSI PERPUSTAKAAN YANG EFEKTIF"

Oleh : Yusron Humonggio, M.Pd  (Sekum PD-IPI Prov. Gorontalo) 


        Dalam "Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 302 Tahun 2022 Tentang Instrumen Akreditasi Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/Madrasah Aliyah Kejuruan", Terdapat komponen promosi melalui media sosial diakui sebagai salah satu aspek penting dalam meningkatkan keterlibatan dan kesadaran akan perpustakaan sekolah. Dalam era digital yang terus berkembang, penggunaan media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi promosi perpustakaan, khususnya dalam mencapai siswa, orang tua, dan staf sekolah.

Dengan demikian, promosi melalui media sosial bukan hanya merupakan alat untuk meningkatkan kesadaran akan perpustakaan sekolah, tetapi juga merupakan elemen penting dalam evaluasi dan akreditasi perpustakaan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dukungan lembaga sekolah dalam menyediakan fasilitas seperti smartphone bagi staf perpustakaan menjadi krusial dalam meningkatkan efektivitas promosi perpustakaan melalui media sosial. Dengan aksesibilitas yang lebih baik dan fleksibilitas dalam pengelolaan konten, staf perpustakaan dapat secara konsisten memperbarui dan merespons konten promosi, bahkan dalam kondisi di luar kantor. Penggunaan aplikasi khusus dan kemampuan untuk membagikan konten real-time melalui smartphone juga memberikan kesempatan untuk mengoptimalkan partisipasi dalam acara-acara perpustakaan. Selain itu, dukungan teknologi ini juga mengirimkan pesan positif kepada komunitas sekolah tentang pentingnya perpustakaan sebagai bagian integral dari lingkungan belajar yang modern dan berkembang.

Penggunaan smartphone perpustakaan dengan akun yang tertuang di dalamnya merupakan langkah yang memperkuat akuntabilitas penggunaan. Dengan mengaitkan akun-akun tersebut dengan siswa atau anggota perpustakaan yang dilayani, pengelola perpustakaan dapat memantau dan mengelola konten yang dipublikasikan dengan lebih terkait dengan kebutuhan dan minat mereka. Selain itu, pengelola perpustakaan juga dapat memastikan bahwa smartphone tersebut digunakan secara bertanggung jawab dengan cara memegangnya secara bergantian, sehingga meminimalkan potensi penyalahgunaan dan meningkatkan pengawasan terhadap promosi perpustakaan yang dilakukan melalui media sosial. Hal ini tidak hanya memberikan rasa aman kepada lembaga sekolah tentang penggunaan teknologi, tetapi juga menegaskan komitmen perpustakaan dalam memberikan layanan yang berkualitas dan relevan bagi anggota komunitasnya.

        Tentu, implementasi kebijakan penggunaan smartphone perpustakaan dengan akun yang tertuang di dalamnya, serta pengelolaannya oleh pengelola perpustakaan dengan cara bergantian, sangat tergantung pada kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan sekolah atau lembaga pendidikan terkait. Pimpinan sekolah memiliki peran penting dalam menetapkan aturan, prosedur, dan pedoman terkait penggunaan teknologi, termasuk smartphone, dalam konteks promosi perpustakaan sekolah melalui media sosial. Oleh karena itu, penting untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pimpinan sekolah untuk memastikan bahwa penggunaan smartphone perpustakaan sesuai dengan visi, misi, dan kebijakan keseluruhan lembaga pendidikan tersebut. Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil dapat mendukung tujuan dan nilai-nilai yang dipegang oleh lembaga pendidikan secara keseluruhan. Semoga 

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...