Langsung ke konten utama

Bedah "Keputusan Mendes PDTT RI Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa"

TBM menggunakan teknologi self-service,
seperti mesin peminjaman dan pengembalian otomatis, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi sendiri tanpa bantuan staf.

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Akses dan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa, 

Berdasarkan Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia  Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa merupakan langkah penting dalam pembudayaan kegemaran membaca di masyarakat desa. Dalam era digital seperti saat ini, penggunaan Teknologi Informasi (TI) dapat memainkan peran kunci dalam meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi pengelolaan taman bacaan masyarakat desa.

Salah satu aspek penting yang dapat ditingkatkan melalui TI adalah aksesibilitas informasi. Dengan adanya teknologi seperti internet, masyarakat desa dapat lebih mudah mengakses berbagai informasi dan sumber bacaan secara online. Hal ini dapat membantu memperluas cakupan bahan bacaan yang tersedia di taman bacaan masyarakat desa, sehingga masyarakat dapat menikmati beragam jenis buku dan materi bacaan tanpa terbatas oleh keterbatasan fisik.

Selain itu, TI juga dapat digunakan untuk mempermudah pengelolaan taman bacaan masyarakat desa. Dengan adopsi sistem informasi manajemen yang tepat, pengelolaan inventaris buku, peminjaman, dan kegiatan-kegiatan lainnya dapat dilakukan secara lebih efisien dan terstruktur. Penggunaan aplikasi atau platform khusus juga dapat membantu dalam memantau dan mengevaluasi kinerja taman bacaan, serta memfasilitasi interaksi antara pengelola dan pengunjung taman bacaan.

Selain itu, pemanfaatan TI juga dapat memperkuat upaya promosi dan sosialisasi mengenai taman bacaan masyarakat desa. Melalui media sosial, website, atau aplikasi khusus, informasi mengenai kegiatan, koleksi buku terbaru, dan program-program menarik dari taman bacaan dapat lebih mudah disebarkan ke masyarakat luas. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat membaca dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan taman bacaan.

Dengan demikian, Keputusan Menteri Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa memberikan landasan yang kuat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi secara optimal dalam upaya meningkatkan akses dan pengelolaan taman bacaan masyarakat desa. Dengan sinergi antara tradisi membaca dan inovasi TI, diharapkan taman bacaan masyarakat desa dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat desa dalam memperkaya pengetahuan dan budaya literasi.

Dengan semangat ini, mari kita terus dukung dan implementasikan penggunaan Teknologi Informasi dalam pengelolaan taman bacaan masyarakat desa demi menciptakan masyarakat yang gemar membaca dan berpengetahuan luas.

Keputusan Menteri Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Desa, BACA DISINI

Oleh; Yusron Humonggio.



Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...