Langsung ke konten utama

Evaluasi Penerapan Perpustakaan sebagai "Pusat Pengembangan Diri"


 "Pusat Pengembangan Diri" merupakan salah satu aspek penting yang dinilai dalam Lomba Perpustakaan SMA/SMK/MA Tahun 2024, yang menekankan peran perpustakaan sebagai ruang untuk menanamkan karakter baik bagi peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, termasuk tenaga pengelola perpustakaan itu sendiri.

Dalam konteks ini, perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga menjadi tempat di mana individu-individu di lingkungan sekolah dapat mengembangkan diri, baik secara intelektual maupun emosional. Perpustakaan sebagai Pusat Pengembangan Diri diharapkan mampu memberikan berbagai fasilitas dan program yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan setiap individu yang menggunakannya.

Melalui berbagai kegiatan dan program yang diselenggarakan di perpustakaan, peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan dapat mengasah keterampilan, meningkatkan pengetahuan, serta membentuk karakter yang positif. Dengan adanya Pusat Pengembangan Diri di perpustakaan, diharapkan setiap pengunjung dapat merasa terinspirasi, termotivasi, dan mendapatkan manfaat yang berkelanjutan dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.

Dengan memahami pentingnya peran "Pusat Pengembangan Diri" dalam perpustakaan, sekolah diharapkan dapat lebih memperhatikan dan meningkatkan kualitas layanan dan program yang disediakan. Dengan demikian, perpustakaan bukan hanya menjadi tempat untuk membaca dan belajar, tetapi juga menjadi tempat yang mendorong pertumbuhan holistik setiap individu yang menggunakannya.

Dalam menanamkan karakter baik bagi peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan, beberapa aspek perlu dipertimbangkan untuk mengevaluasi implementasinya. Sebagai berikut:

Pertama, tata tertib perpustakaan menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembentukan karakter. Bukti dukung dari tata tertib perpustakaan dapat ditemukan dalam naskah tata tertib perpustakaan, buku tata tertib siswa, serta dokumentasi naskah tata tertib yang dipajang dalam ruang perpustakaan dalam berbagai bentuk seperti infografis, banner, atau pamflet.

Kedua, Memberikan penghargaan atau sanksi menjadi penanda keberhasilan dalam menegakkan disiplin. Sertifikat penghargaan yang diberikan kepada pemustaka dan laporan atau rekap pelanggaran peraturan perpustakaan menjadi bukti nyata dari penerapan tata tertib tersebut.

Ketiga, Peran perpustakaan sebagai pemrakarsa program pengembangan diri dan karakter siswa tercermin dalam beragam kegiatan yang diselenggarakan. Laporan kegiatan yang mencakup dokumentasi, notulensi, rekap daftar hadir, dan materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, yang disahkan oleh kepala perpustakaan, menjadi bukti kuat dari upaya perpustakaan dalam mendukung pengembangan pribadi siswa.

Dengan mengumpulkan bukti-bukti dukung tersebut, kita dapat melakukan analisis mendalam untuk mengevaluasi sejauh mana perpustakaan telah berhasil dalam memenuhi peran dan fungsinya sebagai ruang untuk pembentukan karakter dan pengembangan diri siswa. Hal ini juga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya perpustakaan dalam lingkungan pendidikan, serta memberikan pandangan yang lebih jelas tentang langkah-langkah yang perlu diambil untuk terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...