Langsung ke konten utama

Perpustakaan Sebagai "Pemrakarsa Program Literasi Digital"


"Pemrakarsa Program Literasi Digital" merupakan aspek yang ke 3  dalam Lomba Perpustakaan SMA/SMK/MA Tahun 2024
Oleh:  Yusron Humonggio 

Dalam era digital yang terus berkembang, konsep "Pemrakarsa Program Literasi Digital" menjadi sangat relevan dalam konteks Perpustakaan moderen. Perpustakaan diharapkan mampu menjadi pionir dalam mengembangkan literasi digital di lingkungan sekolah, menjadi sumber pengetahuan yang memfasilitasi pemahaman dan pemanfaatan teknologi informasi bagi seluruh komunitas pendidikan.

Sebagai pemrakarsa program literasi digital, perpustakaan diharapkan mampu menginisiasi berbagai kegiatan dan program yang mendukung peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital. Melalui pagelaran karya siswa, perlombaan, workshop, seminar, praktikum, dan kegiatan literasi lainnya, perpustakaan dapat menjadi pusat pembelajaran yang memperkuat literasi digital bagi peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan.

Perpustakaan juga diharapkan memiliki kesiapan dalam menyediakan perlengkapan TIK dan perangkat multimedia pendukung lainnya untuk mendukung kegiatan literasi digital.
Dengan memanfaatkan teknologi untuk memfasilitasi kegiatan berbasis daring seperti webinar, bedah buku, diskusi, dan sebagainya, perpustakaan dapat memperluas jangkauan dan dampak dari program literasi digital yang diselenggarakan.

Dengan memahami peran sebagai "Pemrakarsa Program Literasi Digital" dalam Lomba Perpustakaan, diharapkan perpustakaan dapat terus berinovasi dan berkolaborasi dalam mengembangkan literasi digital sebagai bagian integral dari pendidikan di era digital ini. Melalui upaya bersama dalam meningkatkan literasi digital, diharapkan setiap individu dapat menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Semoga pengantar ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep "Pemrakarsa Program Literasi Digital" dalam Lomba Perpustakaan, serta mendorong upaya untuk terus memajukan literasi digital di lingkungan pendidikan.

Ada tiga indikator penilaian Program Literasi Digital adalah:

1.    Sarana TIK: Ini mengacu pada ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di perpustakaan, termasuk komputer, akses internet, dan perangkat multimedia lainnya. Penilaian akan mempertimbangkan seberapa baik perpustakaan dilengkapi dengan perangkat tersebut untuk memberikan akses informasi digital kepada penggunanya.

2.    Kegiatan Berbasis Daring: Ini mencakup aktivitas yang dilakukan secara daring atau online, seperti webinar, kelas virtual, dan diskusi daring. Penilaian akan mengevaluasi sejauh mana perpustakaan aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan semacam ini untuk memberikan kesempatan pembelajaran dan pertukaran informasi melalui platform digital.

3.    Bimbingan Penelusuran Informasi Digital: Ini mencerminkan upaya perpustakaan dalam membimbing penggunanya dalam mencari dan mengevaluasi informasi secara online. Penilaian akan mempertimbangkan apakah perpustakaan menyediakan panduan dan pelatihan yang memadai untuk membantu pengguna dalam memanfaatkan berbagai sumber informasi digital dengan efektif.

Dalam Lomba Perpustakaan, konsep "Pemrakarsa Program Literasi Digital" sangat penting untuk mengembangkan kemampuan literasi digital di sekolah. Perpustakaan diharapkan menjadi penggerak utama dalam menginspirasi kegiatan literasi digital seperti workshop dan seminar. Dengan menyediakan perlengkapan TIK, perpustakaan dapat memperkuat literasi digital bagi seluruh komunitas pendidikan.

Peran "Pemrakarsa Program Literasi Digital" di Perpustakaan memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan keterampilan teknologi dan pemahaman informasi di era digital. Semoga upaya ini membawa manfaat yang positif bagi perkembangan pendidikan dan kemajuan individu di masa depan.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...