Majalah dinding (mading) merupakan media yang akrab bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas dan berbagi informasi di sekolah. Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, format mading tradisional kini telah berevolusi menjadi majalah dinding digital. Mading digital memanfaatkan platform berbasis teknologi seperti situs web, aplikasi interaktif, atau media sosial untuk menyampaikan informasi secara lebih menarik dan modern. Inovasi ini tidak hanya mempermudah akses informasi bagi siswa, tetapi juga membuka peluang untuk menyematkan elemen multimedia seperti video, animasi, dan tautan interaktif, menjadikannya relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Perpustakaan sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan majalah dinding digital ini. Sebagai pusat literasi, perpustakaan menyediakan fasilitas teknologi, referensi informasi, serta ruang untuk siswa berkolaborasi. Dengan bimbingan yang tepat, siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan konten kreatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna. Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, mading digital dapat menjadi media pembelajaran yang memperkuat kemampuan literasi digital siswa, seperti mengolah informasi secara kritis, memahami etika berinternet, dan menyampaikan pesan secara visual.
Meskipun potensinya besar, transformasi dari mading konvensional ke digital membutuhkan penyesuaian dan keterampilan khusus. Oleh karena itu, pelatihan berupa Bimbingan Teknis (Bimtek) sangat diperlukan. Dalam Bimtek ini, siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan alat digital seperti aplikasi desain atau platform daring, tetapi juga dilatih bagaimana menyusun konten yang relevan dan efektif. Selain itu, mereka juga belajar mengenai pentingnya literasi informasi dan etika digital, dua hal yang menjadi kunci dalam menghadapi tantangan dunia digital saat ini.
Dengan adanya Bimbingan Teknis, siswa dapat lebih percaya diri dan terampil dalam mengelola majalah dinding digital. Perpustakaan sebagai mitra pembelajaran dapat menjadi motor penggerak inovasi ini, menghubungkan potensi kreativitas siswa dengan teknologi yang ada. Pada akhirnya, mading digital bukan sekadar media berbagi informasi, tetapi juga sarana pengembangan kompetensi abad ke-21 yang mencakup kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab
Oleh: Yusron Humonggio. (Pegiat Literasi)
