Langsung ke konten utama

PERPUSTAKAAN SEBAGAI OPD: ANTARA PERSEPSI, REALITA, DAN HARAPAN

Perpustakaan umum daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, sering kali dihadapkan pada tantangan besar sebagai salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dalam banyak kasus, perpustakaan dianggap sebagai OPD "kering" karena minimnya anggaran dan potensi pendapatan langsung dibandingkan OPD lain seperti Dinas Pekerjaan Umum atau Dinas Perdagangan, Dinas Pendidikan. Lebih jauh lagi, perpustakaan terkadang menjadi tempat "buangan" bagi pegawai yang tidak lagi diharapkan di OPD lain.

Fenomena ini mencerminkan adanya paradigma yang kurang tepat tentang perpustakaan. Persepsi ini, jika dibiarkan, dapat memperlemah peran perpustakaan dalam mendukung literasi masyarakat dan transformasi sosial. Padahal, perpustakaan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kegiatan masyarakat, pusat pembelajaran sepanjang hayat, dan motor penggerak inovasi di tingkat lokal.

Sebagai pemerhati perpustakaan dan mantan Kepala Perpustakaan Daerah, saya percaya bahwa perpustakaan memiliki peluang besar untuk mengubah paradigma ini. Salah satu kunci utamanya adalah melalui inovasi dan kreativitas pustakawan. Pustakawan harus mampu menghadirkan perpustakaan sebagai ruang yang relevan, dinamis, dan menarik bagi berbagai kalangan.

Untuk menghapus anggapan negatif dan memastikan perpustakaan tidak menjadi tempat yang sepi atau kehilangan pengunjung, beberapa langkah optimalisasi dapat dilakukan, antara lain: (a) Mengadakan program-program relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pelatihan literasi digital, workshop keterampilan, atau diskusi publik. (b) Memanfaatkan teknologi digital, misalnya melalui perpustakaan digital, aplikasi berbasis mobile, atau promosi di media sosial. (c) Membangun kolaborasi strategis, baik dengan sekolah, komunitas lokal, pelaku UMKM, maupun lembaga pemerintahan lainnya.

Selain itu, pemerintah pusat telah menunjukkan dukungan besar terhadap perpustakaan melalui berbagai program strategis, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan fasilitas perpustakaan dan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Namun, dukungan ini akan efektif jika diimbangi dengan semangat inovasi dari pustakawan di lapangan.

Pada akhirnya, perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang yang mampu menciptakan perubahan dan dampak sosial. Ketika perpustakaan dihidupkan dengan kreativitas dan inovasi, paradigma negatif akan terkikis, dan perpustakaan akan mendapatkan tempat yang pantas sebagai OPD strategis yang dihormati dan dibutuhkan oleh masyarakat.

(Yush_Desember24)

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...