Langsung ke konten utama

Saatnya Benahi Publikasi & Literasi Informasi di Perpustakaan Kita



Oleh: Yusron Humonggio (Sekretaris PD-IPI Provinsi Gorontalo

LINK " PEMBAHASAN VIA  AUDIO"

Publikasi dan literasi informasi bukan lagi sekadar pelengkap dalam layanan perpustakaan. Dalam era digital dan banjir informasi seperti sekarang, keduanya adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi demi relevansi dan keberlangsungan perpustakaan di tengah masyarakat.

Sayangnya, hasil kajian yang dilakukan oleh Tim IPI Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa potensi publikasi dan literasi informasi di banyak perpustakaan masih sangat lemah. Beberapa perpustakaan bahkan belum melakukan kegiatan publikasi secara konsisten, apalagi melaksanakan program literasi informasi secara terstruktur. Ini menjadi tantangan besar yang harus segera dibenahi, baik oleh para pustakawan maupun oleh jajaran pimpinan lembaga.

Padahal, regulasi telah memberikan dasar yang kuat. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang Standar Kualitas Hasil Kerja (SKHK) Pustakawan memuat dengan jelas bahwa pustakawan harus mampu:

1. Mengelola konten website dan media sosial

2. Melakukan publisitas melalui media cetak dan elektronik

3. Menyiapkan konten pameran

4. Melaksanakan program literasi informasi.

Keempat poin ini menjadi bagian dari  butir utama (publikasi dan literasi informasi) yang wajib dikuasai pustakawan sebagai tolok ukur profesionalitas dan kontribusinya terhadap lembaga.

Namun lebih dari sekadar regulasi, publikasi dan literasi informasi adalah sarana utama membangun branding perpustakaan. Melalui publikasi yang baik, masyarakat tahu apa yang kita lakukan. Melalui literasi informasi, masyarakat dibekali kemampuan menyaring, memahami, dan menggunakan informasi secara bijak sebuah kompetensi yang sangat penting dalam kehidupan modern.

Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pimpinan lembaga, kepala perpustakaan, dan pustakawan untuk:

1.Menyusun program publikasi dan literasi informasi secara berkelanjutan.

2. Memanfaatkan media sosial dan website sebagai saluran utama komunikasi dan edukasi.

3. Memberikan dukungan pelatihan dan pendampingan kepada pustakawan agar mampu mengembangkan konten yang kreatif dan informatif.

4. Melibatkan pemustaka, komunitas, dan mitra strategis untuk memperluas dampak literasi informasi.

Mari kita bersama-sama menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi dan informasi yang hidup di tengah masyarakat. Perubahan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan langkah itu dimulai hari ini di perpustakaan kita masing-masing.

Gorontalo 13 April 2025 

Yusron Humonggio (Sekretaris PD+IPI Provinsi Gorontalo)



Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...