Langsung ke konten utama

Saatnya Perpustakaan Punya Landing Page: Langkah Sederhana Menuju Transformasi Digital


Oleh: Yusron Humonggio, Pustakawan 

Di tengah derasnya arus digitalisasi, perpustakaan perlu menyesuaikan diri agar tetap eksis dan relevan di mata masyarakat. Salah satu langkah sederhana namun berdampak besar yang bisa kita ambil adalah dengan "membuat landing page" sebagai media promosi perpustakaan.

Landing page adalah halaman web sederhana yang berfungsi sebagai “wajah digital” sebuah layanan atau institusi. Dengan landing page, perpustakaan dapat memperkenalkan profil, menampilkan layanan, berbagi dokumentasi kegiatan, dan memudahkan masyarakat mengakses informasi secara daring.

Mengapa ini penting?

✅ Mudah dan murah dibuat, bahkan tanpa keahlian teknis tinggi.  

✅ Bisa menggunakan platform gratis seperti Google Sites, Carrd, Notion, atau Canva Web.  

✅ Meningkatkan visibilitas perpustakaan, apalagi jika dikaitkan dengan media sosial.  

✅ Menumbuhkan budaya kerja digital di kalangan pustakawan.

Bayangkan jika seluruh perpustakaan di daerah kita memiliki landing page—tentu promosi dan kolaborasi akan semakin mudah dilakukan, baik antar perpustakaan maupun dengan masyarakat.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman pustakawan untuk mulai mendiskusikan gagasan ini. Apakah perpustakaan tempat kita bertugas sudah memiliki landing page? Jika belum, mungkin inilah saatnya kita mulai bersama-sama.

Bagaimana menurut rekan-rekan semua?

Apakah ide ini bisa kita dorong menjadi gerakan bersama ?


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...