Langsung ke konten utama

"Surat Terbuka: Mempertahankan Esensi Perpustakaan di Tengah Tuntutan Efisiensi"


Saudara-saudara yang terhormat,

Di tengah arus perubahan yang cepat dan tuntutan efisiensi birokrasi, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: Apakah kita siap mengorbankan esensi perpustakaan demi efisiensi organisasi? Mari kita renungkan sejenak.

Perpustakaan bukan sekadar gedung berisi buku. Ia adalah jantung dari masyarakat pembelajar. Di dalamnya terdapat pengetahuan, kreativitas, dan harapan. Setiap lembar buku yang dibaca dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Setiap program literasi yang dijalankan dapat membuka pintu kesempatan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, perpustakaan harus dipandang sebagai institusi strategis dalam pembangunan peradaban.

Namun kini, ada wacana untuk menggabungkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Perpustakaan dengan dinas lain demi efisiensi anggaran. Kita perlu bertanya: Apakah langkah ini benar-benar akan membawa manfaat bagi masyarakat? Atau justru akan melemahkan peran vital perpustakaan sebagai pusat pengetahuan?

Kita semua sepakat bahwa anggaran publik harus digunakan secara bijaksana. Namun mari kita ingat bahwa penghematan biaya tidak boleh mengorbankan kualitas layanan kepada masyarakat. Ketika perhatian pimpinan lebih tertuju pada urusan utama OPD induk, program-program transformasi perpustakaan bisa terabaikan atau bahkan hilang sama sekali.

Bayangkan jika setiap anak di daerah ini memiliki akses ke sumber daya informasi yang memadai buku-buku berkualitas, teknologi modern, serta bimbingan dari pustakawan profesional Ini bukan hanya tentang membaca, ini tentang membangun masa depan mereka, Ini tentang menciptakan generasi penerus yang cerdas dan berdaya saing.

Oleh karena itu, mari kita serukan kepada para politisi dan pemangku kepentingan untuk tetap berpihak kepada OPD Perpustakaan, Dukunglah kebijakan-kebijakan yang memperkuat posisi perpustakan sebagai lembaga mandiri dengan visi besar untuk memberdayakan masyarakat melalui literasi.

Mari bersama-sama membangun ekosistem literasi yang kokoh, Mari pastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke pengetahuan tanpa diskriminasi! Dengan dukungan kita semua, kami yakin bahwa perpustuakan dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial di daerah ini.

Ingatlah selalu, ketika kita memperjuangkan hak atas pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat, sesungguhnya kita sedang menanam benih kemajuan untuk masa depan bangsa.

Penguatan SDM: Fondasi Utama Perpustakaan Berkualitas

Dalam dinamika transformasi kelembagaan perpustaakan, perhatian utama pemerintah semestinya tidak hanya tertuju pada struktur organisasi atau efisiensi anggaran melainkan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci peningkatan kualitas layanan. Tanpa pustakawan yang kompeten, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan, perpustuakan tidak akan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Pustakawan masa kini bukan lagi sekadar penjaga buku, mereka adalah fasilitator belajar sekaligus agen perubahan sosial serta mitra strategis dalam membangun budaya literasi. Mereka harus dibekali dengan keterampilan baru mulai dari literasi digital hingga kemampuan membangun jejaring kolaboratif lintas sektor. Penguatan kapasitas SDM di lingkungan perpustuakan harus menjadi prioritas dalam kebijakan daerah melalui pelatihan berkelanjutan serta dukungan anggaran memadai agar dapat menjadi pusat literatur dan inovatif bagi masyarakat. Perpustaaan berkualitas akan mendorong tumbuhnya masyarakat pembelajar kritis dan produktif sebuah investasi jangka panjang menuju kemajuan daerah dari berbagai aspek pendidikan hingga ekonomi sosial budaya. Maka sudah seharusnya kebijakan pembangunan diarahkan pada penciptaan ekosistem literatur kokoh dimulai dari penguatan manusianya! Bersama-sama mari kita jaga esensi perpusatakaan agar tetap bersinar terang dalam pembangunan masyarakat.

Sebagai komunitas literasi, kami mengajak semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga esensi perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan inovasi. Mari kita dukung penguatan sumber daya manusia di dalamnya agar pustakawan dapat berfungsi sebagai agen perubahan sosial.

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku; ia adalah garda terdepan dalam membangun masyarakat cerdas dan berdaya saing. Dengan komitmen bersama, kita bisa menciptakan ekosistem literasi yang kokoh demi masa depan generasi penerus bangsa.

Mari bersatu untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki akses ke pengetahuan tanpa batas!

Gorontalo, 5 April 2025

Yusron Humonggio (Pegiat Literasi Prov. Gorontalo)

https://youtu.be/tBOlP8Mr2Qc?si=wte0QJBl09TJ0AIH


 

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...