Langsung ke konten utama

Memahami Perbedaan Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk Pustakawan

Dalam upaya meningkatkan kompetensi pustakawan, sering kali digunakan dua metode pelatihan yaitu workshop dan bimbingan teknis (bimtek). Meskipun keduanya kerap digunakan secara bergantian, pemahaman yang jelas mengenai perbedaan keduanya sangat penting agar pelaksanaan kegiatan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

Workshop: Pendekatan Partisipatif untuk Pemecahan Masalah

Workshop merupakan kegiatan yang bersifat partisipatif dan interaktif, dengan tujuan utama menggali ide, berdiskusi, serta menemukan solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi. Melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi, peserta aktif berkontribusi dalam proses pembelajaran.

Hal yang sangat krusial dalam workshop adalah adanya rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang jelas. Rekomendasi tersebut berfungsi sebagai pedoman untuk mengimplementasikan hasil diskusi agar dapat menjawab persoalan perpustakaan secara konsisten dan berkelanjutan.

Bimbingan Teknis (Bimtek): Fokus pada Penguasaan Keterampilan

Sementara itu, bimtek lebih menekankan pada transfer keterampilan teknis dan praktik langsung. Dalam bimtek, instruktur memberikan materi yang bersifat teknis, seperti penggunaan aplikasi perpustakaan digital, pengelolaan koleksi, atau prosedur administrasi. Peserta kemudian melaksanakan praktik secara langsung untuk menguasai keterampilan tersebut.

Perbedaan Utama Workshop dan Bimtek

Pentingnya Pemahaman Perbedaan Ini

Pemahaman yang baik mengenai perbedaan workshop dan bimtek memungkinkan pustakawan memilih metode pelatihan yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Workshop cocok untuk membahas isu-isu strategis dan sosial budaya dalam perpustakaan, sementara bimtek lebih efektif untuk penguasaan keterampilan teknis sehari-hari.

Kesimpulan

Untuk mencapai hasil yang optimal, workshop harus diakhiri dengan rekomendasi yang jelas dan rencana tindak lanjut agar solusi yang dihasilkan dapat diimplementasikan secara konsisten. Sedangkan bimtek bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis pustakawan agar mampu menjalankan tugas dengan profesional dan efisien.

Dengan memahami perbedaan ini, pustakawan dapat memaksimalkan manfaat dari setiap kegiatan pelatihan yang diikuti demi kemajuan perpustakaan secara berkelanjutan.


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...