Jawabannya: Tidak. Tapi hanya jika pustakawan mau bergerak.
AI tidak datang untuk menghapus peran pustakawan, tetapi untuk menantang kita agar berevolusi. Pustakawan bukan hanya penjaga rak buku, tetapi penuntun literasi, kurator informasi, dan fasilitator pembelajaran sepanjang hayat. Sayangnya, jika pustakawan tetap bertahan dalam zona nyaman hanya menjaga sirkulasi dan mendata buku maka ketertinggalan adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.
AI bisa cepat, tapi tidak bisa peduli.
Ia bisa pintar, tapi tidak bisa empati.
Di situlah kekuatan manusia berada.
Kini saatnya pustakawan membalikkan keadaan: kuasai teknologi, manfaatkan AI sebagai alat, bangun perpustakaan sebagai ruang kolaborasi, bukan sekadar tempat baca. Jadilah pustakawan yang bukan hanya hadir di rak buku, tapi juga di layar, komunitas, dan hati pemustaka.
Karena jika pustakawan tetap diam, AI akan melaju sendirian.
Namun jika kita bangkit, maka AI akan menjadi sahabat, bukan pengganti.
