Langsung ke konten utama

Saatnya Pustakawan Berkolaborasi dengan AI: Klasifikasi Buku Lebih Cerdas, Lebih Cepat


 Di tengah disrupsi digital yang mengguncang banyak profesi, pustakawan justru memasuki era keemasan baru — asalkan berani beradaptasi. Salah satu aspek penting yang kini mengalami transformasi signifikan adalah klasifikasi buku, sebuah tugas klasik yang kini bisa dijalankan bersama mitra baru: kecerdasan buatan (AI).

Dulu, proses klasifikasi memerlukan ketelitian tinggi, waktu panjang, dan keahlian teknis dalam membaca serta menafsirkan isi buku untuk menentukan nomor DDC. Kini, cukup dengan memasukkan judul dan ringkasan, pustakawan bisa memperoleh rekomendasi klasifikasi otomatis berdasarkan sistem yang telah dipelajari AI dari ribuan data pustaka.

Sebagai contoh, buku berjudul “Wawasan Teknologi Pendidikan” akan segera dikenali AI sebagai buku yang berada dalam subjek 371.334 – Teknologi informasi dalam pendidikan. Proses ini yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Cepat, akurat, dan efisien.

Namun, bukan berarti peran pustakawan menjadi tidak relevan. Justru sebaliknya. Dalam konteks koleksi lokal, tema ganda, atau buku dengan nuansa budaya khas, AI hanya memberi saran awal. Pustakawan tetap menjadi penentu akhir yang memahami konteks pemustaka dan lingkungan sekolahnya.

Kecanggihan teknologi ini bisa dimanfaatkan lebih maksimal bila terintegrasi dalam sistem otomasi seperti SLIMS. Pengembangan modul klasifikasi otomatis berbasis AI di dalam SLIMS memungkinkan pustakawan sekolah bekerja lebih produktif dan strategis.

Lebih jauh lagi, pelatihan-pelatihan pustakawan masa kini perlu membuka ruang eksplorasi terhadap penggunaan AI. Bukan hanya dalam klasifikasi, tetapi juga dalam pencarian informasi, pengembangan metadata, hingga kurasi konten digital.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi: “Apakah pustakawan perlu menggunakan AI?”, tetapi:
👉 “Sudahkah kita siap menyambut AI sebagai mitra kerja kita di perpustakaan?”

Jika pustakawan siap bertransformasi, maka perpustakaan tak hanya akan bertahan di era digital — ia akan menjadi pionir perubahan dalam dunia pendidikan.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...