- “Siapa yang saya layani?”
- “Apa dampak perpustakaan saya bagi warga sekitar?”
Perpustakaan Bukan Lagi Koleksi-Sentris. Dulu, keberhasilan perpustakaan sering diukur dari:
- Banyaknya buku di rak
- Jumlah kunjungan
- Tingkat peminjaman
- Apakah pelatihan di perpustakaan membantu ibu-ibu berdagang online
- Apakah siswa terbantu mengerjakan tugas karena bimbingan pustakawan
- Apakah lansia merasa diterima saat datang untuk sekadar membaca
Perpustakaan = Tempat yang Menghidupkan Harapan
Perpustakaan adalah ruang aman. Tempat siapa pun bisa belajar, bertanya, mencari tahu, dan menemukan harapan. Tapi harapan itu tidak akan tumbuh jika pustakawannya pasif, hanya membuka meja layanan lalu menunggu orang datang.
Perpustakaan tidak bisa menunggu. Kita harus bergerak.
- Bergerak menjangkau sekolah-sekolah.
- Bergerak masuk ke desa dan dusun.
- Bergerak menjalin kolaborasi dengan OPD lain.
Bergerak menjadi solusi, bukan hanya tempat bertanya jam buka.
Ukur Dampak, Bukan Hanya Aktivitas. Kegiatan perpustakaan harus bisa ditanya:
- “Setelah kegiatan ini, apa yang berubah?”
- “Apa yang dirasakan masyarakat?”
- “Apa testimoni mereka?”
Bukan hanya mencatat jumlah peserta, tetapi menggali cerita perubahan.
Mari Tinggalkan Zona Nyaman
Kita bukan penjaga rak. Kita adalah penjaga harapan, Kita bukan pelengkap program daerah. Kita justru bisa menjadi mitra strategis pembangunan. Perpustakaan bisa membantu pendidikan, UMKM, pertanian, hingga kesehatan. Tapi semua itu hanya mungkin jika kita bersedia bangkit dari kursi dan mulai menyapa masyarakat.
Jadi… Sudah saatnya perpustakaan bergerak!, Dari koleksi, menuju kontribusi., Dari diam, menuju dampak
Dirgahayu Pustakawan Indonesia Yang Ke 52. (Yusron Humonggio- Sekretaris PD-IPI Prov. Gorontalo)
