Langsung ke konten utama

Saatnya Perpustakaan Bergerak: Bukan Lagi Soal Buku, Tapi Dampak !


Masih banyak perpustakaan hari ini yang hanya dinilai dari berapa banyak koleksi buku yang dimiliki. Padahal zaman sudah berubah. Masyarakat tak lagi hanya mencari bacaan, mereka mencari jawaban atas persoalan hidup, ingin belajar keterampilan baru, dan butuh tempat yang memberdayakan.
Maka sudah saatnya kita, para pustakawan dan pengelola perpustakaan, mulai bertanya ulang:
  • “Siapa yang saya layani?”
  • “Apa dampak perpustakaan saya bagi warga sekitar?”

Perpustakaan Bukan Lagi Koleksi-Sentris. Dulu, keberhasilan perpustakaan sering diukur dari:

  • Banyaknya buku di rak
  • Jumlah kunjungan
  • Tingkat peminjaman
Kini, ukuran itu tidak lagi cukup. Di era transformasi, yang lebih penting adalah: Berapa banyak warga yang tercerahkan setelah datang ke perpustakaan:
  • Apakah pelatihan di perpustakaan membantu ibu-ibu berdagang online
  • Apakah siswa terbantu mengerjakan tugas karena bimbingan pustakawan
  • Apakah lansia merasa diterima saat datang untuk sekadar membaca

Perpustakaan = Tempat yang Menghidupkan Harapan

Perpustakaan adalah ruang aman. Tempat siapa pun bisa belajar, bertanya, mencari tahu, dan menemukan harapan. Tapi harapan itu tidak akan tumbuh jika pustakawannya pasif, hanya membuka meja layanan lalu menunggu orang datang.

Perpustakaan tidak bisa menunggu. Kita harus bergerak.

  • Bergerak menjangkau sekolah-sekolah.
  • Bergerak masuk ke desa dan dusun.
  • Bergerak menjalin kolaborasi dengan OPD lain.

Bergerak menjadi solusi, bukan hanya tempat bertanya jam buka.

Ukur Dampak, Bukan Hanya Aktivitas.  Kegiatan perpustakaan harus bisa ditanya:

  • “Setelah kegiatan ini, apa yang berubah?”
  • “Apa yang dirasakan masyarakat?”
  • “Apa testimoni mereka?”

Bukan hanya mencatat jumlah peserta, tetapi menggali cerita perubahan.

Mari Tinggalkan Zona Nyaman

Kita bukan penjaga rak. Kita adalah penjaga harapan,  Kita bukan pelengkap program daerah. Kita justru bisa menjadi mitra strategis pembangunan. Perpustakaan bisa membantu pendidikan, UMKM, pertanian, hingga kesehatan. Tapi semua itu hanya mungkin jika kita bersedia bangkit dari kursi dan mulai menyapa masyarakat.

Jadi…   Sudah saatnya perpustakaan bergerak!,  Dari koleksi, menuju kontribusi., Dari diam, menuju dampak

Dirgahayu Pustakawan Indonesia Yang Ke 52. (Yusron Humonggio- Sekretaris PD-IPI Prov. Gorontalo)


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...