Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum
Ketika program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa.
Melalui kerja sama
antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan
penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang
masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan
membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan
menulis masa depan ekonomi desa.
Dari Literasi ke Kewirausahaan
Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perorangan, yakni:
1. PT Khalisa Jaya Gorontalo, yang bergerak di bidang reklame (Neon Box, Namber Kantor dll), menjadi contoh bahwa literasi dapat menumbuhkan kemampuan berwirausaha secara legal dan profesional.
2.
PT Sarana Satria Gorontalo, yang fokus pada produksi perlengkapan
sekolah berbahan kayu seperti meja, kursi, lemari, dan papan tulis.
Produk-produk ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada
dunia pendidikan lokal.
Kedua perusahaan tersebut telah memiliki izin usaha
resmi dan sertifikat “Ahu tentang PT Perorangan” serta berhasil menembus
pasar nasional melalui platform SiPLah (Sistem Informasi Pengadaan
Sekolah).
Langkah ini menunjukkan bahwa literasi yang dikembangkan pustakawan dan koperasi dapat bermuara pada kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Pustakawan Sebagai Fasilitator Literasi Ekonomi
Dalam proses kolaborasi ini, pustakawan hadir bukan sebagai pengelola koleksi, melainkan sebagai fasilitator pengetahuan dan pendamping pembelajaran masyarakat.
Peran mereka mencakup:
Transformasi ini membuktikan bahwa pustakawan memiliki
kapasitas sebagai agen pemberdayaan masyarakat, dan perpustakaan dapat menjadi
ruang hidup bagi tumbuhnya ekonomi kreatif di desa.
Desa Literasi Ekonomi: Ekosistem Baru dari Datahu
Kehadiran koperasi dan pustakawan dalam satu barisan perjuangan melahirkan ekosistem literasi ekonomi desa — sebuah model yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas.
Desa Datahu kini mulai dikenal sebagai contoh praktik baik kolaborasi antara lembaga ekonomi rakyat dan insan literasi.
Model ini layak dijadikan inspirasi bagi daerah lain dalam memperluas dampak transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, dengan menekankan bahwa literasi adalah fondasi kemandirian ekonomi.
Penutup: Saatnya Pustakawan Turun ke Lapangan
Kisah ini menjadi bukti bahwa program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial bukan sekadar slogan, melainkan panggilan bagi pustakawan untuk hadir di tengah masyarakat — mendengar, mendampingi, dan menggerakkan perubahan.
Melalui sinergi dengan koperasi dan komunitas, pustakawan dapat berperan aktif dalam membuka akses informasi, memperkuat kapasitas usaha kecil, dan membangun ekonomi berbasis literasi.
Seperti yang terjadi di Datahu, literasi kini tidak hanya mengubah cara berpikir, tetapi juga mengubah cara hidup.
Oleh: Yusron Humonggio
Sekretaris Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Gorontalo
Dari Literasi ke Kewirausahaan
Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perorangan, yakni:
1. PT Khalisa Jaya Gorontalo, yang bergerak di bidang reklame (Neon Box, Namber Kantor dll), menjadi contoh bahwa literasi dapat menumbuhkan kemampuan berwirausaha secara legal dan profesional.
Langkah ini menunjukkan bahwa literasi yang dikembangkan pustakawan dan koperasi dapat bermuara pada kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Pustakawan Sebagai Fasilitator Literasi Ekonomi
Dalam proses kolaborasi ini, pustakawan hadir bukan sebagai pengelola koleksi, melainkan sebagai fasilitator pengetahuan dan pendamping pembelajaran masyarakat.
Peran mereka mencakup:
- Memberikan edukasi literasi bisnis dan digital,
- Membimbing penyusunan dokumen legal usaha,
- Mengarahkan pelaku UMKM memahami regulasi dan tata kelola keuangan,
- Serta mendampingi promosi produk melalui media daring.
Desa Literasi Ekonomi: Ekosistem Baru dari Datahu
Kehadiran koperasi dan pustakawan dalam satu barisan perjuangan melahirkan ekosistem literasi ekonomi desa — sebuah model yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas.
Desa Datahu kini mulai dikenal sebagai contoh praktik baik kolaborasi antara lembaga ekonomi rakyat dan insan literasi.
Model ini layak dijadikan inspirasi bagi daerah lain dalam memperluas dampak transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, dengan menekankan bahwa literasi adalah fondasi kemandirian ekonomi.
Penutup: Saatnya Pustakawan Turun ke Lapangan
Kisah ini menjadi bukti bahwa program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial bukan sekadar slogan, melainkan panggilan bagi pustakawan untuk hadir di tengah masyarakat — mendengar, mendampingi, dan menggerakkan perubahan.
Melalui sinergi dengan koperasi dan komunitas, pustakawan dapat berperan aktif dalam membuka akses informasi, memperkuat kapasitas usaha kecil, dan membangun ekonomi berbasis literasi.
Seperti yang terjadi di Datahu, literasi kini tidak hanya mengubah cara berpikir, tetapi juga mengubah cara hidup.
Seluruh kegiatan dan kolaborasi dalam gerakan ini dilaksanakan secara sukarela tanpa imbalan atau balas jasa dalam bentuk apa pun. Langkah ini bukan didorong oleh keinginan untuk meraih prestasi atau keuntungan pribadi, melainkan oleh panggilan hati dan tanggung jawab moral untuk menumbuhkan kekuatan literasi di tengah masyarakat.
Kami percaya, perubahan besar selalu berawal dari niat baik dan kebersamaan. Karena itu, kepada seluruh rekan pustakawan, komunitas, dan insan literasi di mana pun berada — mari bergandengan tangan, bergabung dalam gerakan literasi yang hidup, menguatkan, dan menyatukan.
Itulah semangat sejati transformasi perpustakaan — literasi yang berdaya,
berbuah, dan berdampak.Oleh: Yusron Humonggio
Sekretaris Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Gorontalo
