Langsung ke konten utama

KOLABORASI SEBAGAI KUNCI TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL

Oleh: Yusron Humonggio

Sekretaris PD IPI Provinsi Gorontalo

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial kini menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan layanan perpustakaan di daerah. Namun, dalam praktiknya, banyak perpustakaan menghadapi keterbatasan anggaran untuk menjalankan program secara optimal.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangat pustakawan di Gorontalo. Justru dari keterbatasan itulah lahir semangat kolaborasi. Melalui kemitraan strategis dengan komunitas literasi, perguruan tinggi, dan lembaga mitra lainnya, perpustakaan dapat terus berinovasi dan menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat.

Sebagaimana tertuang dalam instrumen akreditasi perpustakaan, kolaborasi ini bukan hanya pilihan, tetapi juga menjadi indikator penting dalam penilaian kelembagaan. Melalui mekanisme Memorandum of Understanding (MoU), perpustakaan diharapkan mampu menjalin kerja sama yang implementatif dan berkelanjutan — tidak sekadar seremoni, tetapi benar-benar menghasilkan kegiatan nyata di lapangan.

Dalam diskusi internal PD IPI Provinsi Gorontalo, ditegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi jalan tengah yang efektif. Perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan, sedangkan perpustakaan memiliki ruang sosial yang dekat dengan masyarakat. Ketika keduanya berpadu, lahirlah kegiatan literasi yang hidup, berdampak, dan inklusif.

Transformasi berbasis inklusi sosial bukanlah proyek jangka pendek, melainkan gerakan berkelanjutan yang menuntut konsistensi dan semangat kebersamaan. Dengan dukungan IPI, pustakawan di Gorontalo diharapkan terus menjadi penggerak perubahan yang menumbuhkan budaya membaca, memberdayakan masyarakat, dan menegaskan posisi perpustakaan sebagai ruang hidup yang bermakna bagi semua

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...