“Menggerakkan Literasi dari Akar: Kolaborasi, Inovasi Digital, dan Kiprah Pustakawan Hidden Heroes di Gorontalo”
Oleh: Yusron Humonggio, M.Pd
Pendahuluan:
Literasi di Persimpangan Zaman
Indonesia sedang memasuki era baru
pembangunan. Melalui RPJMN 2025–2029, pemerintah mengirim sinyal paling keras: literasi
bukan lagi program pinggiran, tetapi prioritas nasional yang membutuhkan aksi
revolusioner. Khususnya literasi kelas awal, literasi digital, dan
ekosistem belajar berbasis komunitas.
Pada saat yang sama, transformasi perpustakaan
semakin menjadi kebutuhan strategis. Perpustakaan tidak lagi cukup menjadi
tempat menyimpan buku; ia harus menjadi ruang hidup, tempat masyarakat
belajar, berinovasi, dan tumbuh bersama.
Di tengah dinamika inilah, kolaborasi lintas
sektor menjadi kunci.
Dan dari Gorontalo, sebuah perjalanan kecil tetapi berdampak tumbuh dari akar: literasi
yang digerakkan oleh komunitas, dipimpin bukan oleh figur besar, tetapi oleh
para penggerak senyap — para Hidden Heroes.
Pustakawan
sebagai Penggerak: Dari Ruang Hening ke Ruang Aksi
Sebagai pustakawan di daerah, saya menyaksikan
langsung bagaimana perpustakaan sering kali dipandang “diam”, statis, dan tidak
relevan dengan perubahan zaman. Namun saya percaya:
“Perpustakaan tidak boleh diam. Ia harus
bergerak, menjangkau, dan menjadi ruang yang membebaskan.”
Maka saya memulai langkah kecil: membangun
jejaring kolaborasi.
Tidak sendiri, tetapi bersama:
- perpustakaan desa,
- Taman Bacaan Masyarakat (TBM),
- perpustakaan sekolah,
- perpustakaan madrasah,
- komunitas,
- pemerintah desa,
- relawan,
- pendidik,
- dan masyarakat itu sendiri.
Tujuannya hanya satu: agar literasi tidak
berhenti di rak buku, tetapi hidup di tangan masyarakat.
Kolaborasi
Lintas Sektor: Menyatukan Kekuatan, Membangun Ekosistem
Model kolaborasi literasi yang kami bangun di
Gorontalo tidak bersifat seremonial. Tidak berhenti di MoU. Tidak dipajang
untuk laporan. Tetapi benar-benar diterjemahkan dalam aksi bersama.
1.
Perpustakaan Desa sebagai Ruang Belajar Komunitas
Kami mendampingi pengelola desa untuk
menghidupkan kembali perpustakaan desa menjadi ruang belajar khas Gorontalo —
tempat masyarakat mencari informasi, berdiskusi, dan mendapatkan keterampilan
dasar digital.
2. TBM
Modern: Teknologi untuk Desa
Melalui penerapan:
- katalog online sederhana,
- koneksi Wi-Fi,
- LMS berbasis aplikasi gratis,
- dan layanan mandiri,
TBM menjadi ruang inklusif yang menghubungkan
masyarakat dengan dunia digital.
3.
Perpustakaan Sekolah dan Madrasah: Literasi Formal yang Terintegrasi
Kami mendukung sekolah dalam:
- Otomasi dengan SLiMS,
- Pelatihan literasi digital untuk guru,
- Pendampingan pembacaan buku berjenjang,
- Pelatihan coding dasar,
- Dan membuat ruang perpustakaan menjadi kreatif dan inovatif.
4.
Pustorling dan Gerakan Jemput Bola
Karena tidak semua desa bisa mendatangi
perpustakaan, perpustakaanlah yang mendatangi desa.
Dengan armada bentor pustorling, kami menjangkau dusun-dusun dengan membawa:
- Buku,
- Kegiatan baca,
- Tontonan edukasi,
- Literasi digital,
- Dan program komunitas.
Transformasi
Digital: Dari Self-Service hingga Coding
Transformasi literasi tidak bisa tanpa
teknologi.
Di beberapa titik kami mengembangkan:
•
Self-service perpustakaan
Pengguna dapat meminjam/ mengembalikan buku
secara mandiri.
Ini membuat layanan lebih cepat dan efisien.
• Pelatihan
coding untuk pemuda desa
Kami membuka ruang bagi anak-anak dan remaja
belajar:
- Coding sederhana,
- Membuat game edukatif,
- Membuat website dasar,
- Dan memahami teknologi sebagai peluang masa depan.
• Katalog
online & LMS
Masyarakat tidak perlu datang jauh-jauh; cukup
mencari koleksi dari HP.
• Konten
digital & QR Book
Buku diberi QR dengan konten penjelasan
tambahan yang saya buat secara mandiri.
Ini membuat buku “berbicara” kepada pembacanya.
Inklusi
Sosial: Literasi untuk Semua
Kolaborasi ini kami jalankan dengan satu
prinsip:
“Tidak ada satu pun warga yang boleh
tertinggal dari akses pengetahuan.”
Itulah makna inklusi sosial.
Literasi bukan hanya untuk anak sekolah — tetapi untuk:
- Petani,
- Ibu rumah tangga,
- Lansia,
- Pemuda desa,
- Dan pelaku UMKM.
Kami mengadakan:
- Kelas digital pemula,
- Pelatihan pemasaran sederhana untuk UMKM,
- Pembacaan bersama anak-anak,
- Kelas desain konten digital,
- Diskusi komunitas.
Semua dilakukan dengan pendekatan ramah,
rendah hati, dan merangkul semua pihak.
Hidden
Heroes: Ketika Kerja Sunyi Mendapat Ruang
Pada 2025, saya terpilih sebagai salah satu
dari Hidden Heroes oleh The Gorontalo Institute.
Forum ini menghadirkan kisah-kisah penggerak akar rumput dari desa di seluruh
Gorontalo—para pelaku perubahan kecil namun berdampak besar.
Konsep “everyday heroism” (Franco &
Zimbardo, 2006) menegaskan:
kepahlawanan muncul dari tindakan sederhana
yang menjaga kehidupan sosial.
Penghargaan ini bukan tentang gelar. Bukan tentang panggung. Tetapi tentang keberanian bersikap, konsistensi, kejujuran, dan
ketulusan dalam bekerja mendampingi masyarakat.
Dan inilah nilai yang ingin saya bawa dalam
setiap program literasi:
- Bekerja dalam diam,
- Mengakar di komunitas,
- Dan hadir di tengah masyarakat, bukan di belakang meja.
Penutup:
Literasi untuk Masa Depan
Perjalanan literasi di Gorontalo adalah
perjalanan kecil yang saya jalani bersama banyak pihak.
Tetapi dari pengalaman ini saya belajar bahwa:
- perpustakaan bisa hidup kembali,
- TBM bisa modern,
- desa bisa menjadi pusat inovasi,
- pemuda bisa belajar coding,
- ibu-ibu bisa melek digital,
- guru bisa mengajar lebih kreatif,
- dan masyarakat bisa tumbuh bersama dalam semangat kolaborasi.
Karena saya percaya:
Literasi adalah pintu menuju masa depan, dan teknologi adalah kunci yang membukanya.
Mari terus bergerak. Mari terus berkolaborasi. Karena di desa-desa, di TBM yang sunyi, di perpustakaan kecil, di ruang belajar
sederhana "Masa depan bangsa sedang dibentuk hari ini"
