Langsung ke konten utama

Digitalisasi: Jalan Sunyi Pustakawan di Tengah Mandeknya Kolaborasi Lintas Sektor


Dalam beberapa tahun terakhir, Perpustakaan Nasional RI terus menggaungkan pentingnya kolaborasi lintas sektor mulai dari Bappeda hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai tulang punggung transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Himbauan itu benar, visi itu mulia. Namun di lapangan, kenyataannya tidak sesederhana yang dibayangkan meja-meja perumus kebijakan.

Era efisiensi anggaran telah memaksa banyak daerah mengerem program pendampingan, meminimalkan perjalanan dinas, dan menunda pengadaan infrastruktur. Di sejumlah kabupaten, bahkan untuk menghadirkan rapat koordinasi pun menjadi barang mewah. Dampaknya jelas:

Perpustakaan daerah berada dalam posisi serba menunggu, sementara kolaborasi antarinstansi hanya berakhir sebagai jargon tanpa daya paksa.

Dalam situasi seperti ini, mustahil berharap perpustakaan naik kelas hanya dengan menunggu “kebaikan anggaran” atau kehadiran program dari lintas sektor.

Jika perpustakaan terus bergantung pada dukungan eksternal, maka transformasi yang digadang-gadang itu tak akan pernah bergerak.

Pustakawan Dipaksa Mandiri: Antara Kenyataan dan Harapan

Yang paling terbebani oleh situasi ini adalah pustakawan. Mereka dituntut melakukan inovasi, menggerakkan literasi, membangun jejaring sosial, sekaligus meningkatkan kompetensi namun dengan fasilitas minim dan dukungan struktural yang kerap setengah hati.

Di banyak daerah, pustakawan tidak lagi punya pilihan lain selain belajar mandiri, bergerak secara otodidak, dan mencari cara kreatif untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi baru masyarakat yang serba cepat, praktis, dan digital.

Masyarakat bergerak cepat. Sementara perpustakaan terlalu sering bergerak lambat.

Jika ini tidak diatasi, perpustakaan akan tertinggal jauh.

Otomasi Perpustakaan: Strategi Sunyi yang Justru Paling Realistis

Dalam kondisi serba terbatas, justru otomasi perpustakaan menjadi jalan paling realistis dan paling mungkin digerakkan tanpa menunggu anggaran besar.

Sistem otomasi seperti Google for education , SLiMS, inlislite misalnya, telah terbukti murah, kuat, dan bisa dijalankan oleh pustakawan yang belajar secara mandiri. Otomasi bukan sekadar mengganti pekerjaan manual; ia adalah:

  • Motor efisiensi, saat tenaga dan anggaran makin terbatas.
  • Pengungkit profesionalisme, karena manajemen koleksi, sirkulasi, laporan, dan statistik menjadi terstandardisasi.
  • Pintu masuk digitalisasi, yang selaras dengan tuntutan masyarakat modern.
  • Dasar bagi smart library, terutama di daerah-daerah yang mulai menerapkan konsep smart school atau smart district.

Ironisnya, banyak perpustakaan daerah justru tidak menjadikan otomasi sebagai prioritas, padahal inilah langkah yang paling mungkin diwujudkan tanpa birokrasi panjang.

Saat Kebijakan Lambat, Pustakawan Tidak Boleh Ikut Lambat

Ini kritik sekaligus seruan.

Kita tidak bisa terus berharap pada rekomendasi ideal yang sulit diterjemahkan di daerah. Kolaborasi lintas sektor itu penting, tetapi ketika ekosistem tidak bergerak, pustakawan harus menjadi penggerak pertama.

Transformasi perpustakaan hari ini tidak lahir dari ruang rapat, melainkan dari:

  • Kemauan pustakawan belajar,
  • keberanian mengambil inisiatif,
  • kemampuan membaca kebutuhan masyarakat,
  • Kesadaran bahwa otomasi adalah syarat dasar perpustakaan modern.

Penutup: Transformasi Dimulai dari Mereka yang Mau Bergerak

Jika perpustakaan ingin tetap relevan, maka perubahan harus dimulai dari internal bahkan dari pustakawan yang bekerja dengan sumber daya paling terbatas.

Karena pada akhirnya, transformasi perpustakaan bukan tentang besar kecilnya anggaran, tetapi tentang siapa yang berani mulai bergerak, meski hanya dengan satu komputer dan sistem otomasi sederhana.

Yusron Humonggio 25 November 2025

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...