Langsung ke konten utama

PRAKTIK BAIK PUSTAKAWAN: Mengemas Ulang Informasi dari Buku Tua Berbahasa Asing untuk Akses Pengetahuan yang Lebih Inklusif

1. Pendahuluan

Di era digital dan inklusi informasi, pustakawan tidak hanya bertugas mengelola koleksi, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan—termasuk yang berasal dari dokumen lama dan berbahasa asing—tetap dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat. Salah satu praktik baik yang semakin relevan adalah mengemas ulang informasi dari sumber-sumber tua agar hadir dalam format yang lebih kontekstual, ringkas, dan ramah pengguna.

Di Gorontalo, banyak buku dan artikel sejarah berbahasa Belanda yang memuat informasi penting tentang masyarakat, budaya, dan perkembangan daerah pada masa kolonial. Sayangnya, keterbatasan bahasa, format, dan usia dokumen membuat informasi ini tidak lagi tersentuh oleh pemustaka. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya praktik baik ini.

2. Latar Belakang Permasalahan

Beberapa tantangan yang sering dihadapi pustakawan dalam mengelola koleksi tua antara lain:

  • Bahasa asing (Belanda) yang tidak lagi dipahami oleh sebagian besar masyarakat.
  • Format buku yang sudah rusak atau rapuh, sehingga tidak bisa digunakan secara langsung.
  • Akses terbatas terhadap arsip kolonial yang memuat sejarah lokal.
  • Kurangnya interpretasi modern, padahal isinya sangat kaya untuk pendidikan sejarah daerah.

Tanpa intervensi pustakawan, pengetahuan dalam buku-buku tersebut berpotensi hilang dari memori kolektif masyarakat.

3. Inovasi: Mengemas Ulang Informasi

Untuk menjawab tantangan tersebut, dilakukan sebuah proyek sederhana namun berdampak, yaitu mengemas ulang informasi buku-buku tua berbahasa Belanda dengan pendekatan berikut:

a. Alih Bahasa (Translation/Transliteration)

Pustakawan menerjemahkan bagian-bagian penting dari buku Belanda yang membahas Gorontalo, seperti:

  • deskripsi budaya,
  • catatan perjalanan,
  • struktur sosial,
  • peta dan penanda lokasi tua,
  • catatan peristiwa historis.

Fokus diberikan pada bagian yang relevan dengan pendidikan sejarah lokal.

b. Penyajian Ulang dalam Format Modern

Informasi kemudian dikemas ulang menjadi:

  • ringkasan satu halaman (one-page summary),
  • artikel populer,
  • infografis sejarah,
  • booklet “Gorontalo Tempo Doeloe”,
  • konten digital untuk media sosial perpustakaan,
  • digital exhibit menggunakan foto arsip.

c. Konteks dan Interpretasi

Pustakawan menambahkan penjelasan:

  • perbandingan masa lalu dan masa kini,
  • konteks budaya lokal,
  • istilah atau nama tempat yang berubah seiring waktu.

Pendekatan ini membuat informasi kolonial lebih mudah dicerna oleh masyarakat modern.

4. Dampak Positif bagi Masyarakat dan Perpustakaan

a. Meningkatkan akses pengetahuan lokal

Pemustaka yang sebelumnya tidak mengerti bahasa Belanda kini bisa memahami sejarah daerah melalui versi yang lebih sederhana.

b. Menghidupkan kembali memori sejarah Gorontalo

Cerita, catatan perjalanan, dan dokumentasi kolonial menjadi bahan edukasi:

  • sekolah,
  • peneliti,
  • komunitas sejarah,
  • penggerak budaya.

c. Penguatan peran perpustakaan

Perpustakaan menjadi:

  • pusat interpretasi pengetahuan lokal,
  • ruang pelestarian sejarah,
  • agen literasi budaya.

d. Mendorong inovasi pustakawan

Pustakawan tidak lagi hanya menjaga koleksi, tetapi menjadi “penerjemah pengetahuan” yang aktif.

5. Faktor Keberhasilan

Praktik baik ini berhasil karena:

  1. Kolaborasi antara pustakawan, peminat sejarah, akademisi, dan komunitas.
  2. Pemahaman dasar tentang bahasa Belanda atau penggunaan teknologi penerjemahan.
  3. Pemilihan format penyajian yang tepat, menarik, dan mudah dipahami.
  4. Kreativitas pustakawan dalam mengubah konten lama menjadi informasi baru yang relevan.

6. Pelajaran yang Bisa Diambil

  • Informasi tua tidak selamanya kuno; dengan sentuhan pustakawan, informasi tersebut bisa hidup kembali.
  • Mengemas ulang informasi adalah bentuk pelayanan unggul yang sangat relevan dengan SKHK dan standar profesi.
  • Pustakawan harus adaptif terhadap bahasa, teknologi, dan kebutuhan pemustaka.

7. Penutup

Praktik baik ini membuktikan bahwa pustakawan memiliki peran strategis dalam menghubungkan masa lalu dengan masyarakat masa kini. Melalui kemampuan mengemas ulang informasi, pustakawan bukan hanya menjaga koleksi, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, dan pengetahuan yang semula tersembunyi.

Dengan inovasi sederhana namun berdampak ini, perpustakaan semakin relevan, berdaya, dan mampu memperkaya literasi sejarah masyarakat Gorontalo.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...