Langsung ke konten utama

Era BANI: Kerangka Global Baru dan Implikasinya bagi Perpustakaan Daerah


AUDIO DISKUSINYA SIMAK  DISINI


Istilah BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) pertama kali diperkenalkan oleh Jamais Cascio, seorang futuris global, sebagai pengembangan dari konsep VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous). Jika VUCA menggambarkan dunia yang tidak stabil, maka BANI menggambarkan dunia yang sudah melewati titik ketidakstabilan dan memasuki fase rapuh, emosional, dan sulit dipahami secara rasional.

Era BANI muncul sebagai dampak dari:

  • percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan,
  • krisis global (pandemi, geopolitik, iklim),
  • disrupsi ekonomi dan perubahan sosial yang sangat cepat,
  • serta meningkatnya ketimpangan akses informasi.

Dalam konteks ini, perpustakaan daerah tidak lagi berada di pinggir perubahan, melainkan berada di titik krusial sebagai institusi yang menjaga daya tahan sosial (social resilience).


1. Brittle (Rapuh): Ketahanan Sistem yang Semu

Secara global, banyak institusi publik terlihat kokoh secara struktural, namun rapuh secara fungsional. Ketergantungan pada satu sumber pendanaan, satu sistem teknologi, atau satu pola kerja membuat organisasi mudah runtuh ketika terjadi krisis.

Dalam konteks perpustakaan daerah:

  • Ketergantungan penuh pada APBD,
  • Minimnya diversifikasi layanan,
  • Rendahnya kesiapan digital SDM, menjadikan perpustakaan rentan terhadap perubahan kebijakan dan situasi darurat.

Pendekatan global yang relevan:

  • Organizational resilience (OECD, World Economic Forum): kemampuan organisasi untuk beradaptasi, menyerap guncangan, dan bangkit kembali.
  • Hybrid service model: penggabungan layanan fisik dan digital.

Implikasi strategis: Perpustakaan daerah perlu membangun sistem yang lentur, kolaboratif, dan tidak bergantung pada satu sumber daya atau satu model layanan.


2. Anxious (Cemas): Era Kecemasan Kolektif dan Tekanan Psikososial

Dalam laporan WHO dan UNESCO, kecemasan akibat ketidakpastian global meningkat tajam, termasuk di sektor pendidikan dan pelayanan publik. Bagi pustakawan, kecemasan muncul dalam bentuk:

  • takut tertinggal teknologi,
  • takut kehilangan relevansi profesi,
  • tekanan administratif yang tinggi.

Tren global menekankan:

  • Human-centered organization
  • Psychological safety di tempat kerja
  • Penguatan kapasitas emosional dan sosial tenaga profesional

Implikasi bagi perpustakaan daerah: Perpustakaan perlu menjadi ruang aman — bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi pustakawannya sendiri. Budaya belajar, mentoring, dan kolaborasi harus menggantikan budaya hierarkis yang kaku.


3. Non-linear: Dunia Tanpa Pola Lurus

Perubahan tidak lagi mengikuti pola perencanaan linear. Inovasi kecil dapat berdampak besar, sementara program besar bisa gagal total. Hal ini sejalan dengan teori complex adaptive systems, di mana perubahan bersifat dinamis dan tidak dapat diprediksi.

Bagi perpustakaan daerah:

  • Program literasi sederhana bisa viral dan berdampak luas.
  • Sebaliknya, proyek besar tanpa keterlibatan masyarakat bisa tidak berumur panjang.

Pendekatan global yang relevan:

  • Agile governance
  • Design thinking
  • Experimentation-based policy

Implikasinya: Perpustakaan perlu diberi ruang untuk mencoba, gagal, belajar, dan menyesuaikan — bukan sekadar mengejar target administratif.


4. Incomprehensible: Kompleksitas yang Melampaui Pemahaman Lama

Ledakan informasi, algoritma digital, dan arus disinformasi menjadikan dunia semakin sulit dipahami. Dalam situasi ini, masyarakat membutuhkan institusi yang mampu memberi makna, bukan sekadar data.

Di sinilah peran strategis perpustakaan daerah menjadi sangat penting.

Tren global menunjukkan:

  • Perpustakaan bertransformasi menjadi knowledge hub dan community anchor.
  • Fokus pada literasi informasi, literasi digital, literasi data, dan literasi kewargaan.

Implikasi bagi perpustakaan daerah: Perpustakaan harus tampil sebagai:

  • penjernih informasi publik,
  • ruang dialog warga,
  • pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Penutup: Dari Institusi Administratif ke Pilar Ketahanan Sosial

Dalam era BANI, perpustakaan daerah tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif. Ia dituntut menjadi institusi adaptif, reflektif, dan transformatif.

Kekuatan perpustakaan masa depan bukan terletak pada seberapa banyak koleksi yang dimiliki, tetapi pada:

  • kemampuannya membaca perubahan,
  • keberaniannya bereksperimen,
  • dan kesediaannya membangun manusia yang tangguh secara intelektual dan sosial.

Di tengah dunia yang rapuh dan membingungkan, perpustakaan daerah justru memiliki peluang besar untuk menjadi jangkar ketenangan, pusat makna, dan penguat peradaban lokal.

Yusron Humonggio 

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...