Perpustakaan selama ini identik dengan rak buku dan ruang baca yang tenang. Tapi zaman terus bergerak. Anak-anak dan remaja hari ini lebih sering berjumpa layar lebih dulu sebelum halaman buku. Dari situ muncul satu pertanyaan sederhana: apakah perpustakaan harus diam, atau ikut berbicara di ruang yang mereka tempati?
Dari kegelisahan itulah muncul gagasan menghadirkan channel YouTube sebagai bagian dari layanan perpustakaan. Bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperluas cara kita berbagi pengetahuan dan pencerahan.
Melalui video singkat berdurasi tiga sampai empat menit, perpustakaan mencoba “bercerita”. Bercerita tentang buku-buku bermutu, termasuk novel-novel lama yang sarat makna. Bukan dengan membacakan isinya, melainkan dengan mengulas gagasan, nilai, dan relevansinya dengan kehidupan hari ini. Dibantu ilustrasi visual yang menarik, konten ini diharapkan lebih dekat dengan generasi muda.
Buku-buku lama sesungguhnya tidak pernah benar-benar usang. Yang sering terjadi, kita kehabisan cara untuk memperkenalkannya kembali. Lewat video, perpustakaan ingin menjadi jembatan—menghubungkan teks klasik dengan realitas kekinian, mengajak penonton berpikir, bukan menggurui.
Channel ini juga diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, dan perpustakaan binaan. Video bisa diputar di ruang baca, dibagikan kepada siswa, atau menjadi pengantar sebelum kegiatan literasi. Satu konten, banyak manfaat.
Tentu, upaya ini tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan lingkungan kerja, kolaborasi antarperpustakaan, serta semangat bersama untuk terus menghadirkan perpustakaan yang relevan. Bukan perpustakaan yang meninggalkan buku, tetapi perpustakaan yang menemukan cara baru untuk menghidupkannya.
Pada akhirnya, perpustakaan bukan hanya soal tempat dan koleksi. Ia adalah soal kehadiran. Dan hari ini, kehadiran itu juga berarti berani menyapa masyarakat lewat layar—dengan cara yang hangat, sederhana, dan bermakna.
