AUDIO DISKUSINYA SIMAK DISINI
Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya?
Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan
Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin:
· Melompat pagar = pelanggaran
· Ribut di kelas = gangguan
· Nongkrong = malas
· Main catur = tidak serius
· Coding sendiri = membangkang
Padahal, jika kita mau sedikit berhenti menghakimi, perilaku itu sesungguhnya adalah pesan.
Pesan bahwa:
· Siswa punya minat yang tidak tertampung
· Siswa ingin belajar dengan caranya sendiri
· Siswa mencari ruang aman untuk mengekspresikan diri
Ketika sekolah tidak menyediakan ruang itu, siswa akan menciptakannya di pagar, kantin, sudut belakang, atau dunia maya.
Sekolah yang Belum Inklusif
Kita sering berbicara tentang pendidikan
inklusif, tetapi pemahamannya masih sempit.
Inklusivitas sering dibatasi pada isu disabilitas atau akses fisik.
Padahal, pendidikan inklusif juga berarti:
· Inklusif terhadap minat
· Inklusif terhadap bakat
·
Inklusif terhadap gaya belajar
· Inklusif terhadap ekspresi dan kreativitas
Sekolah menjadi tidak inklusif ketika:
· Hanya satu jenis kecerdasan yang diakui
· Kreativitas dianggap gangguan
· Ruang belajar dipersempit pada kelas dan jam pelajaran
· Guru menjadi satu-satunya sumber kebenaran
Ironisnya, di era Kurikulum Merdeka, justru masih banyak sekolah yang belum memerdekakan belajar.
Ketika Kelas Kehilangan Daya Tarik
Siswa yang lebih memilih kantin daripada kelas sering dilabeli “tidak motivasi”.
Namun, mari jujur bertanya:
Apakah kelas kita masih relevan dengan dunia mereka?
Di luar sekolah, siswa hidup dalam dunia:
· Audio (podcast, voice note)
· Visual (desain, video)
· Digital (coding, AI, media sosial)
· Kolaboratif (komunitas, diskusi)
Sementara di kelas:
· Duduk
· Dengarkan
· Catat
· Ujian
Kesenjangan inilah yang membuat siswa “pergi”, meski secara fisik masih berada di sekolah.
Perpustakaan: Ruang yang Terlupa, Padahal Paling Inklusif
Di tengah kegaduhan ini, ada satu ruang yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjawab semuanya: perpustakaan sekolah.
Sayangnya, perpustakaan masih sering diposisikan sebagai:
· Gudang buku
· Ruang sunyi
· Tempat hukuman siswa
Padahal, perpustakaan bisa menjadi:
· 🎙️ Ruang podcast literasi
· ♟️ Pojok catur dan logika
· 💻 Sudut coding dan teknologi
· 🎨 Ruang desain dan kreativitas
· ☕ Ruang diskusi santai yang bermakna
Perpustakaan adalah satu-satunya ruang di sekolah yang tidak terikat mata pelajaran, tidak dibatasi kurikulum kaku, dan paling memungkinkan kolaborasi lintas minat.
Jika dikelola dengan visi inklusif, perpustakaan dapat menjadi:
jembatan antara dunia siswa dan dunia sekolah.
Dari Mengontrol ke Memahami
Sekolah yang sehat bukan sekolah yang paling rapi dan sunyi, tetapi sekolah yang:
· Mau mendengar
· Mau beradaptasi
· Mau belajar dari siswanya sendiri
Ketika siswa melompat pagar, jangan buru-buru
mempertinggi pagar.
Mungkin yang perlu kita lakukan adalah membuka pintu.
Pintu dialog.
Pintu pemahaman.
Pintu ruang-ruang belajar yang lebih manusiawi.
Penutup: Memulihkan Makna Sekolah
Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer materi, tetapi ruang untuk:
· Menemukan diri
· Menumbuhkan potensi
· Merayakan keberagaman kecerdasan
Jika kita ingin sekolah yang inklusif, jangan
mulai dari aturan baru.
Mulailah dari cara pandang baru.
Dan barangkali, langkah kecil yang paling mungkin kita lakukan hari ini adalah:
menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang inklusivitas.
Karena di sanalah, semua siswa—dengan segala minat dan keunikannya—memiliki tempat untuk pulang.
YH. Pustakawan
