Langsung ke konten utama

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA


AUDIO DISKUSINYA SIMAK DISINI


Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita.

Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya?


Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan

Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin:

·       Melompat pagar = pelanggaran

·       Ribut di kelas = gangguan

·       Nongkrong = malas

·       Main catur = tidak serius

·       Coding sendiri = membangkang

Padahal, jika kita mau sedikit berhenti menghakimi, perilaku itu sesungguhnya adalah pesan.

Pesan bahwa:

·       Siswa punya minat yang tidak tertampung

·       Siswa ingin belajar dengan caranya sendiri

·       Siswa mencari ruang aman untuk mengekspresikan diri

Ketika sekolah tidak menyediakan ruang itu, siswa akan menciptakannya di pagar, kantin, sudut belakang, atau dunia maya.


Sekolah yang Belum Inklusif

Kita sering berbicara tentang pendidikan inklusif, tetapi pemahamannya masih sempit.
Inklusivitas sering dibatasi pada isu disabilitas atau akses fisik.

Padahal, pendidikan inklusif juga berarti:

·       Inklusif terhadap minat

·       Inklusif terhadap bakat

·       Inklusif terhadap gaya belajar

·       Inklusif terhadap ekspresi dan kreativitas

Sekolah menjadi tidak inklusif ketika:

·       Hanya satu jenis kecerdasan yang diakui

·       Kreativitas dianggap gangguan

·       Ruang belajar dipersempit pada kelas dan jam pelajaran

·       Guru menjadi satu-satunya sumber kebenaran

Ironisnya, di era Kurikulum Merdeka, justru masih banyak sekolah yang belum memerdekakan belajar.


Ketika Kelas Kehilangan Daya Tarik

Siswa yang lebih memilih kantin daripada kelas sering dilabeli “tidak motivasi”.

Namun, mari jujur bertanya:

Apakah kelas kita masih relevan dengan dunia mereka?

Di luar sekolah, siswa hidup dalam dunia:

·       Audio (podcast, voice note)

·       Visual (desain, video)

·       Digital (coding, AI, media sosial)

·       Kolaboratif (komunitas, diskusi)

Sementara di kelas:

·       Duduk

·       Dengarkan

·       Catat

·       Ujian

Kesenjangan inilah yang membuat siswa “pergi”, meski secara fisik masih berada di sekolah.


Perpustakaan: Ruang yang Terlupa, Padahal Paling Inklusif

Di tengah kegaduhan ini, ada satu ruang yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjawab semuanya: perpustakaan sekolah.

Sayangnya, perpustakaan masih sering diposisikan sebagai:

·       Gudang buku

·       Ruang sunyi

·       Tempat hukuman siswa

Padahal, perpustakaan bisa menjadi:

·       🎙️ Ruang podcast literasi

·       ♟️ Pojok catur dan logika

·       💻 Sudut coding dan teknologi

·       🎨 Ruang desain dan kreativitas

·       Ruang diskusi santai yang bermakna

Perpustakaan adalah satu-satunya ruang di sekolah yang tidak terikat mata pelajaran, tidak dibatasi kurikulum kaku, dan paling memungkinkan kolaborasi lintas minat.

Jika dikelola dengan visi inklusif, perpustakaan dapat menjadi:

jembatan antara dunia siswa dan dunia sekolah.

Dari Mengontrol ke Memahami

Sekolah yang sehat bukan sekolah yang paling rapi dan sunyi, tetapi sekolah yang:

·       Mau mendengar

·       Mau beradaptasi

·       Mau belajar dari siswanya sendiri

Ketika siswa melompat pagar, jangan buru-buru mempertinggi pagar.
Mungkin yang perlu kita lakukan adalah membuka pintu.

Pintu dialog.
Pintu pemahaman.
Pintu ruang-ruang belajar yang lebih manusiawi.

Penutup: Memulihkan Makna Sekolah

Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer materi, tetapi ruang untuk:

·       Menemukan diri

·       Menumbuhkan potensi

·       Merayakan keberagaman kecerdasan

Jika kita ingin sekolah yang inklusif, jangan mulai dari aturan baru.
Mulailah dari cara pandang baru.

Dan barangkali, langkah kecil yang paling mungkin kita lakukan hari ini adalah:

menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang inklusivitas.

Karena di sanalah, semua siswa—dengan segala minat dan keunikannya—memiliki tempat untuk pulang. 

YH. Pustakawan

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...