" Perpustakaan tidak mati, melainkan sedang membuka lembaran baru. Ia tidak lagi hanya menyimpan buku, tetapi bertransformasi menjadi simpul hati yang menghubungkan ide, komunitas, dan pengetahuan sebuah kebangkitan yang mengajak kita melepaskan cara lama agar dapat menyapa kebutuhan manusia hari ini."
Suatu hari saya duduk cukup lama di perpustakaan. Rak
buku rapi, ruangan bersih, meja tersusun sempurna. Namun ada satu yang terasa
hilang, manusia. Tidak ada langkah kaki tergesa, tidak ada suara anak bertanya,
tidak ada wajah yang menunduk membaca. Sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan,
tetapi sunyi yang menimbulkan tanya, ke
mana semua orang pergi?
Pertanyaan itu mungkin juga sedang bergema di banyak perpustakaan hari ini.
Ketika Sepi Bukan Berarti Gagal
Kita perlu jujur mengakui satu hal penting, sepinya perpustakaan bukan tanda orang berhenti membaca. Orang masih belajar, masih mencari informasi, masih berdiskusi hanya saja mereka tidak lagi datang ke gedung.
Mereka membaca di layar gawai, belajar dari video pendek, berdiskusi di grup WhatsApp, mencari jawaban lewat mesin pencari. Dunia berubah cepat, sementara banyak perpustakaan masih menunggu dengan cara lama.
Sunyi ini bukan kegagalan. Sunyi ini adalah penanda zaman. Dulu, perpustakaan dikenal sebagai tempat koleksi. Lalu berkembang menjadi tempat layanan. Kini, perpustakaan sedang bergerak menuju makna yang lebih luas: ruang keterhubungan.
Perpustakaan hari ini tidak lagi bisa diukur hanya dari: berapa orang datang, berapa buku dipinjam, atau seberapa penuh ruang baca. Ukuran barunya adalah: berapa orang yang terhubung, berapa ide yang tumbuh, berapa kolaborasi yang lahir, dan berapa perubahan kecil yang terjadi di masyarakat. Seseorang yang menonton video literasi perpustakaan, guru yang menggunakan materi perpustakaan untuk mengajar, anak yang membaca lalu melaporkan lewat formulir digital, komunitas yang berdiskusi difasilitasi pustakawan mereka semua adalah pengunjung, meski tak tercatat di buku tamu konvensional.
Dari Menunggu Menjadi Menyapa, Perpustakaan tidak bisa lagi hanya menunggu orang datang. Ia harus datang ke orang. Datang lewat konten sederhana, datang lewat pendampingan sekolah, datang lewat komunitas, datang lewat percakapan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan dengan jargon besar, tetapi dengan sapaan yang manusiawi, “Kami ada, kami peduli, dan kami ingin tumbuh bersama.”
Perpustakaan sebagai Teman, Bukan Sekadar Tempat. Di masa kini, perpustakaan perlu hadir sebagai teman belajar keluarga, sahabat guru dan siswa, ruang aman berbagi pengetahuan, simpul kolaborasi komunitas.
Program kecil lebih bermakna daripada gedung besar yang sepi. Satu sekolah yang didampingi serius lebih berdampak daripada seratus undangan seremonial. Satu cerita yang didokumentasikan lebih bernilai daripada puluhan kegiatan yang tak pernah diceritakan.
Sunyi yang Menjadi Awal
Mungkin hari ini perpustakaan terasa seperti memiliki riwayat, bukan keramaian. Namun justru di titik inilah sejarah baru sedang ditulis. Perpustakaan tidak mati. Ia sedang berubah bentuk. Dan perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengakui, cara lama telah selesai bekerja, dan cara baru perlu dilahirkan bersama. Perpustakaan riwayat kini bukan kisah penutupan, melainkan catatan awal tentang kebangkitan yang lebih relevan, lebih inklusif, dan lebih manusiawi.
YH- Pustakawan
Pertanyaan itu mungkin juga sedang bergema di banyak perpustakaan hari ini.
Ketika Sepi Bukan Berarti Gagal
Kita perlu jujur mengakui satu hal penting, sepinya perpustakaan bukan tanda orang berhenti membaca. Orang masih belajar, masih mencari informasi, masih berdiskusi hanya saja mereka tidak lagi datang ke gedung.
Mereka membaca di layar gawai, belajar dari video pendek, berdiskusi di grup WhatsApp, mencari jawaban lewat mesin pencari. Dunia berubah cepat, sementara banyak perpustakaan masih menunggu dengan cara lama.
Sunyi ini bukan kegagalan. Sunyi ini adalah penanda zaman. Dulu, perpustakaan dikenal sebagai tempat koleksi. Lalu berkembang menjadi tempat layanan. Kini, perpustakaan sedang bergerak menuju makna yang lebih luas: ruang keterhubungan.
Perpustakaan hari ini tidak lagi bisa diukur hanya dari: berapa orang datang, berapa buku dipinjam, atau seberapa penuh ruang baca. Ukuran barunya adalah: berapa orang yang terhubung, berapa ide yang tumbuh, berapa kolaborasi yang lahir, dan berapa perubahan kecil yang terjadi di masyarakat. Seseorang yang menonton video literasi perpustakaan, guru yang menggunakan materi perpustakaan untuk mengajar, anak yang membaca lalu melaporkan lewat formulir digital, komunitas yang berdiskusi difasilitasi pustakawan mereka semua adalah pengunjung, meski tak tercatat di buku tamu konvensional.
Dari Menunggu Menjadi Menyapa, Perpustakaan tidak bisa lagi hanya menunggu orang datang. Ia harus datang ke orang. Datang lewat konten sederhana, datang lewat pendampingan sekolah, datang lewat komunitas, datang lewat percakapan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan dengan jargon besar, tetapi dengan sapaan yang manusiawi, “Kami ada, kami peduli, dan kami ingin tumbuh bersama.”
Perpustakaan sebagai Teman, Bukan Sekadar Tempat. Di masa kini, perpustakaan perlu hadir sebagai teman belajar keluarga, sahabat guru dan siswa, ruang aman berbagi pengetahuan, simpul kolaborasi komunitas.
Program kecil lebih bermakna daripada gedung besar yang sepi. Satu sekolah yang didampingi serius lebih berdampak daripada seratus undangan seremonial. Satu cerita yang didokumentasikan lebih bernilai daripada puluhan kegiatan yang tak pernah diceritakan.
Sunyi yang Menjadi Awal
Mungkin hari ini perpustakaan terasa seperti memiliki riwayat, bukan keramaian. Namun justru di titik inilah sejarah baru sedang ditulis. Perpustakaan tidak mati. Ia sedang berubah bentuk. Dan perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengakui, cara lama telah selesai bekerja, dan cara baru perlu dilahirkan bersama. Perpustakaan riwayat kini bukan kisah penutupan, melainkan catatan awal tentang kebangkitan yang lebih relevan, lebih inklusif, dan lebih manusiawi.
YH- Pustakawan
