Langsung ke konten utama

PUSTAKAWAN, BERHENTI JADI PENJAGA KOLEKSI! JADILAH ARSITEK RUANG KETERHUBUNGAN.

   " Perpustakaan tidak mati, melainkan sedang membuka lembaran baru. Ia tidak lagi hanya menyimpan buku, tetapi bertransformasi menjadi simpul hati yang menghubungkan ide, komunitas, dan pengetahuan sebuah kebangkitan yang mengajak kita melepaskan cara lama agar dapat menyapa kebutuhan manusia hari ini."

    Suatu hari saya duduk cukup lama di perpustakaan. Rak buku rapi, ruangan bersih, meja tersusun sempurna. Namun ada satu yang terasa hilang, manusia. Tidak ada langkah kaki tergesa, tidak ada suara anak bertanya, tidak ada wajah yang menunduk membaca. Sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tetapi sunyi yang menimbulkan tanya,  ke mana semua orang pergi?
Pertanyaan itu mungkin juga sedang bergema di banyak perpustakaan hari ini.
    Ketika Sepi Bukan Berarti Gagal
Kita perlu jujur mengakui satu hal penting, sepinya perpustakaan bukan tanda orang berhenti membaca. Orang masih belajar, masih mencari informasi, masih berdiskusi hanya saja mereka tidak lagi datang ke gedung.
Mereka membaca di layar gawai, belajar dari video pendek, berdiskusi di grup WhatsApp, mencari jawaban lewat mesin pencari. Dunia berubah cepat, sementara banyak perpustakaan masih menunggu dengan cara lama.
    Sunyi ini bukan kegagalan. Sunyi ini adalah penanda zaman. Dulu, perpustakaan dikenal sebagai tempat koleksi. Lalu berkembang menjadi tempat layanan. Kini, perpustakaan sedang bergerak menuju makna yang lebih luas: ruang keterhubungan.
Perpustakaan hari ini tidak lagi bisa diukur hanya dari: berapa orang datang, berapa buku dipinjam, atau seberapa penuh ruang baca. Ukuran barunya adalah: berapa orang yang terhubung, berapa ide yang tumbuh, berapa kolaborasi yang lahir, dan berapa perubahan kecil yang terjadi di masyarakat. Seseorang yang menonton video literasi perpustakaan, guru yang menggunakan materi perpustakaan untuk mengajar, anak yang membaca lalu melaporkan lewat formulir digital, komunitas yang berdiskusi difasilitasi pustakawan mereka semua adalah pengunjung, meski tak tercatat di buku tamu konvensional.
    Dari Menunggu Menjadi Menyapa, Perpustakaan tidak bisa lagi hanya menunggu orang datang. Ia harus datang ke orang. Datang lewat konten sederhana, datang lewat pendampingan sekolah, datang lewat komunitas, datang lewat percakapan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan dengan jargon besar, tetapi dengan sapaan yang manusiawi,  “Kami ada, kami peduli, dan kami ingin tumbuh bersama.”
Perpustakaan sebagai Teman, Bukan Sekadar Tempat. Di masa kini, perpustakaan perlu hadir sebagai teman belajar keluarga, sahabat guru dan siswa, ruang aman berbagi pengetahuan, simpul kolaborasi komunitas.
    Program kecil lebih bermakna daripada gedung besar yang sepi. Satu sekolah yang didampingi serius lebih berdampak daripada seratus undangan seremonial. Satu cerita yang didokumentasikan lebih bernilai daripada puluhan kegiatan yang tak pernah diceritakan.
    Sunyi yang Menjadi Awal
Mungkin hari ini perpustakaan terasa seperti memiliki riwayat, bukan keramaian. Namun justru di titik inilah sejarah baru sedang ditulis. Perpustakaan tidak mati. Ia sedang berubah bentuk. Dan perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengakui, cara lama telah selesai bekerja, dan cara baru perlu dilahirkan bersama. Perpustakaan riwayat kini bukan kisah penutupan, melainkan catatan awal tentang kebangkitan yang lebih relevan, lebih inklusif, dan lebih manusiawi.
YH- Pustakawan

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...