Langsung ke konten utama

DARI PENJAGA RAK KE ARSITEK LITERASI : WAJAH BARU TENAGA PERPUSTAKAAN PASCA PERMENDIKDASMEN 21/2025

Selama bertahun-tahun, tenaga perpustakaan kerap dipersepsikan sekadar sebagai pengelola buku dan ruang baca. Namun, Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 menghadirkan perubahan mendasar: tenaga perpustakaan kini ditempatkan sebagai aktor strategis dalam ekosistem pembelajaran dan literasi.

Regulasi ini menegaskan bahwa tenaga perpustakaan merupakan bagian dari Tenaga Kependidikan Selain Pendidik, dengan tugas utama mengelola perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Menariknya, regulasi baru ini tidak lagi menekankan kualifikasi akademik yang kaku, melainkan mengedepankan kompetensi berbasis performa: kepribadian, sosial, dan profesional.

Pada aspek kepribadian, tenaga perpustakaan dituntut menjadi teladan literasi—berintegritas, reflektif, dan berorientasi pada mutu layanan. Artinya, perpustakaan tidak lagi netral dan pasif, tetapi aktif menumbuhkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan eksplorasi mandiri peserta didik.

Dari sisi kompetensi sosial, tenaga perpustakaan didorong untuk membangun kolaborasi lintas peran: guru, murid, orang tua, hingga jejaring profesi literasi. Perpustakaan tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan kurikulum dan dinamika sekolah, termasuk dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

Sementara itu, kompetensi profesional menempatkan tenaga perpustakaan sebagai inovator. Integrasi layanan perpustakaan dengan kurikulum, pemanfaatan TIK, pengembangan literasi digital, hingga evaluasi mutu layanan menjadi tuntutan nyata. Di sinilah perpustakaan bertransformasi menjadi jantung pembelajaran Kurikulum Merdeka.

Pencabutan Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 menandai berakhirnya pendekatan lama yang terlalu teknis dan administratif. Sebagai gantinya, hadir paradigma baru: tenaga perpustakaan sebagai mitra pendidik, fasilitator literasi, dan penggerak perubahan.

Tantangannya jelas—ketimpangan kompetensi, keterbatasan pelatihan, dan dukungan anggaran. Namun satu hal pasti: regulasi ini membuka jalan bagi tenaga perpustakaan untuk naik kelas, dari pelengkap sistem menjadi penguat mutu pendidikan.


Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...