Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering kali datang dengan dua reaksi ekstrem di kalangan pustakawan: kekaguman yang berlebihan atau ketakutan yang berujung pada penolakan. Ada yang melihat AI sebagai penyelamat semua persoalan perpustakaan, ada pula yang diam-diam cemas—takut tergantikan, takut tidak relevan, takut tertinggal oleh zaman. Padahal, posisi yang paling sehat bukan berada di dua kutub itu, melainkan di tengah: AI sebagai alat, pustakawan sebagai eksekutor.
AI tidak pernah datang membawa nilai, visi, atau nurani. Ia hanya bekerja berdasarkan data, perintah, dan pola. Di sinilah pustakawan mengambil peran utama. Pustakawanlah yang menentukan untuk apa AI digunakan, siapa yang dilayani, dan nilai apa yang dijaga. Tanpa pustakawan, AI hanyalah mesin pintar tanpa arah. Sebaliknya, pustakawan tanpa alat akan bekerja lebih lambat, lebih berat, dan mudah tertinggal. Seperti tukang tanpa perkakas, niat baik saja tidak cukup.
Dalam praktik keseharian, AI bisa membantu banyak hal: pengolahan metadata, ringkasan konten, rekomendasi bacaan, pembuatan laporan, bahkan pengembangan layanan digital. Namun perlu ditegaskan, AI tidak menggantikan keputusan profesional pustakawan. AI tidak memahami konteks lokal, budaya baca masyarakat, keterbatasan daerah, maupun dinamika sosial pemustaka. Semua itu hanya bisa dibaca oleh manusia yang hadir, berinteraksi, dan peduli.
Di sinilah pentingnya pustakawan terus belajar dan beradaptasi. Bukan untuk menjadi ahli teknologi semata, tetapi untuk menguasai alat agar tidak dikuasai oleh perubahan. Pustakawan yang mau belajar AI bukan sedang meninggalkan nilai kepustakawanan, justru sedang memperluas daya jangkaunya. Nilai literasi, inklusivitas, keadilan akses, dan pelayanan publik tetap menjadi inti—AI hanya mempercepat kerja menuju ke sana.
Kita juga perlu jujur pada diri sendiri. Tantangan terbesar pustakawan hari ini bukanlah AI, melainkan rasa nyaman yang terlalu lama. Dunia berubah cepat, sementara kebiasaan sering berjalan lambat. Jika pustakawan berhenti belajar, berhenti mencoba, dan hanya bertahan pada cara lama, maka yang tergilas bukan oleh AI, tetapi oleh sikap enggan beradaptasi.
Pustakawan masa depan bukan mereka yang paling canggih teknologinya, melainkan mereka yang paling lentur cara berpikirnya. Mampu belajar ulang, mampu bertanya, mampu mencoba, dan tidak malu mengakui ketidaktahuan. AI memberi peluang besar untuk itu—asal kita berani memegang kendali, bukan sekadar menjadi pengguna pasif.
Akhirnya, pesan ini penting untuk ditegaskan kepada sesama pustakawan: AI bukan lawan, bukan pula dewa penolong. Ia adalah alat. Pustakawanlah aktor utamanya. Selama pustakawan mau terus belajar, beradaptasi, dan menjaga nilai kemanusiaan dalam layanan, perpustakaan tidak akan mati—justru akan menemukan bentuk barunya yang lebih relevan dengan zaman.
YH. Pemerhati Perpustakaan
