Langsung ke konten utama

Ketika Anak Bisa “Membaca”, Tapi Sebenarnya Belum


Suatu pagi di kelas dua sekolah dasar, seorang anak diminta membaca sebuah paragraf pendek. Ia mengeja perlahan, berhenti di beberapa kata, lalu melanjutkan lagi. Di akhir bacaan, guru tersenyum dan berkata, “Sudah bagus, lanjut latihan ya.”

Anak itu naik ke kelas berikutnya.

Namun beberapa tahun kemudian, ia kesulitan memahami soal cerita matematika. Ia lambat membaca teks pelajaran. Ia terlihat tidak percaya diri ketika diminta membaca keras di depan kelas.

Masalahnya bukan di kelas lima.
Masalahnya bukan pada soal yang sulit.

Masalahnya mungkin sudah ada sejak kelas dua — ketika kemampuan dasarnya belum benar-benar kokoh.

Itulah yang disebut decoding: kemampuan mengubah huruf menjadi bunyi secara tepat dan lancar. Ini adalah fondasi membaca. Jika fondasi ini tidak kuat, bangunan di atasnya akan goyah.

Sayangnya, di Indonesia, kita belum memiliki sistem evaluasi decoding yang benar-benar terstruktur dan konsisten di kelas awal.

Guru tentu menilai. Guru tentu memperhatikan. Namun penilaian itu sering bersifat:

  • Berdasarkan pengamatan sesaat
  • Tidak dihitung secara detail
  • Tidak dicatat perkembangannya dari waktu ke waktu
  • Tidak menghasilkan peta risiko yang jelas

Akibatnya, kita tidak benar-benar tahu:

Berapa persen anak kelas dua yang masih membaca terbata-bata?
Berapa yang sering menebak kata?
Berapa yang tertinggal tapi tidak terlihat mencolok?

Kita sering baru menyadari adanya masalah ketika anak sudah di kelas tinggi. Ketika ia kesulitan memahami teks panjang. Ketika nilainya menurun. Ketika motivasinya melemah.

Padahal akar persoalannya bisa jadi sederhana: ia belum lancar membaca sejak awal.

Evaluasi pendidikan yang bersifat besar dan nasional umumnya dilakukan di kelas tinggi. Namun jika fondasi membaca belum diperiksa dengan cermat di kelas satu dan dua, maka evaluasi di kelas lima atau enam hanyalah pengukuran dari sesuatu yang sudah lama terjadi.

Ibarat membangun rumah, kita mengukur kekuatan atap tanpa pernah memeriksa pondasinya.

Yang dibutuhkan sebenarnya bukan sesuatu yang rumit. Kita hanya perlu memastikan bahwa di kelas awal:

  • Setiap anak membaca teks standar
  • Kelancaran dan ketepatannya diukur
  • Perkembangannya dicatat
  • Anak yang tertinggal terdeteksi lebih cepat

Bukan untuk memberi label.
Bukan untuk menghukum guru atau sekolah.

Tetapi untuk menyelamatkan lebih awal.

Karena semakin dini keterlambatan membaca diketahui, semakin mudah untuk diperbaiki. Intervensi di kelas dua jauh lebih ringan dibanding intervensi di kelas lima.

Tanpa evaluasi decoding yang masif dan terstruktur, kita sebenarnya berjalan dalam gelap. Kita berharap semua anak bisa membaca dengan baik, tetapi tidak memiliki data yang cukup untuk memastikan.

Dan dalam pendidikan, harapan saja tidak cukup.
Kita membutuhkan informasi yang jelas.

Literasi bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah pintu masuk semua pelajaran. Jika seorang anak kesulitan membaca, ia akan kesulitan memahami matematika, sains, bahkan pelajaran agama dan sosial.

Karena itu, memastikan kemampuan membaca dasar di kelas awal bukan sekadar program tambahan. Itu adalah tanggung jawab sistem.

Pertanyaannya bukan apakah guru sudah bekerja keras.
Pertanyaannya adalah apakah sistem sudah memberi alat yang cukup untuk mengukur fondasi itu dengan tepat.

Selama evaluasi decoding belum dilakukan secara terstruktur dan konsisten, kita masih berisiko membiarkan sebagian anak tertinggal tanpa kita sadari.

Dan tidak ada yang lebih menyedihkan daripada seorang anak yang sebenarnya ingin belajar, tetapi tidak pernah benar-benar diberi fondasi yang kuat untuk memulainya.

Oleh. YH, Magister evaluasi dan penelitian pendidikan

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...