Tidak ada sekolah yang bisa mengklaim berhasil mengelola talenta murid jika perpustakaannya sepi, terkunci, atau hanya hidup saat akreditasi.
Kalimat ini terdengar keras, tetapi justru di situlah aksi nyata manajemen talenta murid bisa dilihat dan diukur dampaknya.
Ketika Permendikdasmen tentang Manajemen Talenta Murid diberlakukan, pesan negara sebenarnya sangat jelas:
talenta murid tidak boleh dibiarkan tumbuh secara kebetulan. Ia harus direncanakan, difasilitasi, dan dihargai secara sistematis oleh sekolah.
Dan pertanyaannya sederhana:
di ruang mana semua itu paling mungkin terjadi secara adil dan berkelanjutan?
Jawabannya bukan ruang kelas yang kaku, bukan pula panggung lomba yang selektif.
Jawabannya adalah perpustakaan sekolah.
Aksi Nyata Itu Terlihat, Bukan Ditulis Indah di Dokumen
Sekolah yang sungguh-sungguh menindaklanjuti Permendikdasmen ini menunjukkan perubahan yang kasat mata.
Perpustakaan yang dulunya hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, kini: ramai oleh murid yang membaca tanpa disuruh, dipenuhi karya tempel di dinding, menjadi ruang diskusi kecil, menjadi tempat murid tampil dan didengar. Ini bukan slogan. Ini aksi nyata yang bisa dilihat siapa pun yang masuk ke sekolah.
Talenta murid tidak lagi dicari lewat seleksi lomba semata, tetapi terbaca dari aktivitas harian mereka di perpustakaan: siapa yang betah membaca lama, siapa yang gemar bercerita, siapa yang senang bereksperimen, siapa yang konsisten menulis dan menggambar.
Inilah bentuk identifikasi talenta yang hidup, bukan administratif.
Dampak Nyata: Murid Berubah, Budaya Sekolah Bergerak
Ketika perpustakaan diperkuat sebagai pusat talenta, dampaknya tidak perlu menunggu laporan tahunan.
Perubahan itu langsung terasa: -Murid lebih percaya diri menampilkan karya -Guru lebih mudah melihat potensi non-akademik -Orang tua melihat hasil belajar yang nyata, bukan angka semata
Sekolah memiliki cerita baik yang autentik Talenta murid tidak lagi tersembunyi di balik nilai rapor. Ia tampak, terdokumentasi, dan diapresiasi. Inilah esensi Permendikdasmen:
bukan mencetak juara, tetapi membesarkan potensi setiap anak.
Kepala Sekolah: Penggerak atau Penonton? Pada titik ini, posisi kepala sekolah menjadi sangat menentukan. Kepala sekolah yang hanya menjadikan regulasi sebagai kewajiban administrasi akan sibuk: menyusun laporan, menyalin program, menunggu instruksi. Sebaliknya, kepala sekolah yang memimpin dengan visi akan bertanya:
“Apa yang benar-benar berubah di sekolah saya setelah aturan ini ada?”
Dan jawabannya sering kali bermuara pada satu tempat: perpustakaan yang hidup atau mati.
Menguatkan perpustakaan bukan soal anggaran besar, melainkan: keberanian memberi ruang, kepercayaan pada guru dan pustakawan, komitmen melihat murid sebagai individu bertalenta.
Perpustakaan yang Hidup adalah Bukti Regulasi Bekerja
Permendikdasmen Manajemen Talenta Murid tidak meminta sekolah menciptakan sistem baru yang rumit.
Ia meminta sekolah menghidupkan ruang yang sudah ada, lalu mengisinya dengan makna.
Perpustakaan yang: menjadi tempat murid berkarya, menyimpan portofolio talenta, memajang proses, bukan hanya hasil, memberi panggung tanpa ranking,
adalah bukti paling jujur bahwa kebijakan negara benar-benar dijalankan.
Penutup: Talenta Tidak Tumbuh di Ruang yang Sunyi, Talenta murid tidak lahir dari pidato, tidak tumbuh dari spanduk, dan tidak hidup dari laporan. Ia tumbuh di ruang yan memberi kesempatan, menghargai proses, dan membiarkan anak menjadi dirinya sendiri.
Jika sekolah ingin menjawab Permendikdasmen Manajemen Talenta Murid dengan cara yang nyata dan berdampak, maka satu pertanyaan harus dijawab dengan jujur:
Apakah perpustakaan sekolah kita hidup… atau sekadar ada?
YH .. PD IPI Provinsi Gorontalo
