Ketika Buku, Layanan, dan Komunitas Bertemu.
Banyak perpustakaan hari ini berdiri rapi. Rak buku penuh, layanan berjalan, laporan selesai. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita ajukan: apakah perpustakaan itu benar-benar hidup?
Pengalaman di banyak daerah menunjukkan, perpustakaan bisa saja lengkap dan tertib, tetapi tetap sepi. Bukan karena masyarakat tak butuh pengetahuan, melainkan karena perpustakaan belum sepenuhnya hadir dalam denyut kehidupan warganya. Di sinilah kita perlu menggeser cara pandang: perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan pengetahuan, melainkan ruang tempat pengetahuan diciptakan bersama.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan David Lankes melalui konsep New Librarianship. Ia menyebut bahwa misi pustakawan adalah memperbaiki masyarakat dengan memfasilitasi penciptaan pengetahuan di dalam komunitasnya. Kalimat ini sederhana, tapi dampaknya besar. Perpustakaan tidak lagi berdiri di atas menara gading, melainkan turun ke tanah—bersama warganya.
Tentu, perpustakaan tetap membutuhkan fondasi kuat. S. R. Ranganathan mengingatkan kita bahwa koleksi harus relevan dan digunakan. IFLA menegaskan pentingnya layanan yang ramah dan berorientasi pengguna. Namun di era sekarang, dua hal itu belum cukup. Tanpa komunitas, perpustakaan mudah kehilangan makna.
Karena itulah lahir pendekatan tiga pilar: koleksi yang kuat, layanan yang baik, dan komunitas yang terlibat. Ketika ketiganya bertemu, perpustakaan berubah fungsi—dari gedung sunyi menjadi ruang tumbuh bersama. Taman baca komunitas menemukan rumahnya, sekolah mendapat mitra belajar, pegiat literasi punya panggung, bahkan pelaku UMKM memperoleh ruang untuk belajar literasi digital dan mengembangkan usaha.
Dampaknya terasa nyata. Perpustakaan menjadi lebih relevan karena hadir dalam kebutuhan sehari-hari warga. Komunitas merasa memiliki karena dilibatkan, bukan sekadar diundang. Literasi tidak berhenti pada membaca, tetapi bergerak hingga memberdayakan ekonomi dan memperkuat jejaring sosial. Pustakawan pun bertransformasi—dari penjaga rak menjadi pendamping pengetahuan.
Pada akhirnya, perpustakaan yang hidup bukanlah yang paling megah atau paling canggih, melainkan yang didukung dan dihidupi oleh komunitasnya. Koleksi membuatnya kuat. Layanan membuatnya nyaman. Komunitas membuatnya bernapas.
Jika perpustakaan ingin bertahan dan bermakna di era digital, satu hal perlu diingat:
perpustakaan tidak cukup pintar—ia harus hidup bersama masyarakatnya.
