TBM, yang selama ini dikenal sebagai pusat literasi berbasis komunitas, memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi tempat belajar modern yang memanfaatkan Teknologi Informasi (TI). Dengan sentuhan inovasi, TBM dapat menjadi jembatan antara dunia tradisional dan masa depan, membawa literasi ke level yang lebih tinggi.
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Namun, jalan menuju transformasi ini tidak selalu mulus. Banyak TBM di berbagai pelosok negeri masih bergulat dengan tantangan klasik: anggaran minim, akses internet terbatas, hingga keterampilan teknologi yang belum merata. Di sisi lain, masyarakat desa yang menjadi pengguna utama TBM juga sering kali kurang akrab dengan teknologi modern.
Tetapi di balik tantangan ini tersembunyi peluang besar. Dengan investasi yang tepat, baik dari dana desa, Corporate Social Responsibility (CSR), maupun kolaborasi dengan lembaga lain, TBM dapat menghadirkan teknologi sederhana namun berdampak besar. Sistem Library Management System (LMS), misalnya, dapat membantu pengelola TBM mencatat dan mengatur koleksi buku secara otomatis. Begitu juga dengan katalog online, yang memungkinkan masyarakat memesan buku tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Mengapa Teknologi Penting untuk TBM?
Ada banyak alasan mengapa TI penting untuk TBM. Bayangkan seorang anak yang tinggal di desa terpencil, yang biasanya harus berjalan berjam-jam untuk sampai ke TBM. Dengan akses katalog online, ia bisa mencari buku yang diinginkannya dari rumah. Atau seorang ibu rumah tangga yang ingin belajar keterampilan baru—melalui e-book atau tutorial video yang disediakan TBM, ia dapat membuka peluang baru dalam hidupnya.
Teknologi juga membuka pintu bagi layanan self-service. Pengguna TBM dapat meminjam dan mengembalikan buku dengan mudah melalui mesin otomatis. Sementara itu, pengelola TBM bisa lebih fokus menyelenggarakan program-program kreatif seperti pelatihan digital atau diskusi literasi.
Menghidupkan Masa Depan Literasi di TBM
Penerapan teknologi di TBM tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Langkah kecil seperti menciptakan katalog online menggunakan aplikasi gratis, atau menyediakan koneksi Wi-Fi sederhana, sudah dapat memberi dampak besar. Selain itu, pelatihan bagi pengelola TBM juga perlu menjadi prioritas. Mereka perlu diperlengkapi dengan keterampilan untuk mengoperasikan teknologi yang digunakan.
Teknologi tidak hanya membantu TBM menjadi lebih efisien, tetapi juga menjadikannya pusat literasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Di sinilah, TBM bisa membuktikan bahwa membaca bukan hanya tentang membuka halaman buku, tetapi juga membuka jendela dunia digital yang penuh peluang.
BACA JUGA Keputusan Menteri Nomor 3 Tahun 2024 tentang Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat
Menuju TBM Masa Depan
Dalam dunia yang terus bergerak maju, TBM tidak boleh tertinggal. Dengan adopsi Teknologi Informasi, TBM dapat menjadi agen perubahan yang membawa masyarakat desa lebih dekat dengan dunia modern. Setiap langkah kecil menuju digitalisasi TBM adalah investasi besar untuk masa depan literasi bangsa.
Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya berbicara tentang meningkatkan indeks membaca, tetapi juga menciptakan generasi yang lebih terampil, lebih berdaya, dan lebih siap menghadapi masa depan. TBM yang modern bukan lagi sekadar mimpi, tetapi sebuah tujuan yang bisa kita capai bersama.
“Karena literasi adalah pintu gerbang menuju masa depan, dan teknologi adalah kunci yang membukanya.”
Yusron Humonggio, M.Pd (Pegiat Literasi
