Langsung ke konten utama

Postingan

Digitalisasi: Jalan Sunyi Pustakawan di Tengah Mandeknya Kolaborasi Lintas Sektor

Dalam beberapa tahun terakhir, Perpustakaan Nasional RI terus menggaungkan pentingnya kolaborasi lintas sektor mulai dari Bappeda hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai tulang punggung transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Himbauan itu benar, visi itu mulia. Namun di lapangan, kenyataannya tidak sesederhana yang dibayangkan meja-meja perumus kebijakan. Era efisiensi anggaran telah memaksa banyak daerah mengerem program pendampingan, meminimalkan perjalanan dinas, dan menunda pengadaan infrastruktur. Di sejumlah kabupaten, bahkan untuk menghadirkan rapat koordinasi pun menjadi barang mewah. Dampaknya jelas: Perpustakaan daerah berada dalam posisi serba menunggu, sementara kolaborasi antarinstansi hanya berakhir sebagai jargon tanpa daya paksa. Dalam situasi seperti ini, mustahil berharap perpustakaan naik kelas hanya dengan menunggu “kebaikan anggaran” atau kehadiran program dari lintas sektor. Jika perpustakaan terus bergantung pada dukungan eksternal, maka tran...

“Menggerakkan Literasi dari Akar: Kolaborasi, Inovasi Digital, dan Kiprah Pustakawan Hidden Heroes di Gorontalo”

  Oleh: Yusron Humonggio, M.Pd Pendahuluan: Literasi di Persimpangan Zaman Indonesia sedang memasuki era baru pembangunan. Melalui RPJMN 2025–2029, pemerintah mengirim sinyal paling keras: literasi bukan lagi program pinggiran, tetapi prioritas nasional yang membutuhkan aksi revolusioner . Khususnya literasi kelas awal, literasi digital, dan ekosistem belajar berbasis komunitas. Pada saat yang sama, transformasi perpustakaan semakin menjadi kebutuhan strategis. Perpustakaan tidak lagi cukup menjadi tempat menyimpan buku; ia harus menjadi ruang hidup , tempat masyarakat belajar, berinovasi, dan tumbuh bersama. Di tengah dinamika inilah, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Dan dari Gorontalo, sebuah perjalanan kecil tetapi berdampak tumbuh dari akar: literasi yang digerakkan oleh komunitas, dipimpin bukan oleh figur besar, tetapi oleh para penggerak senyap — para Hidden Heroes. Pustakawan sebagai Penggerak: Dari Ruang Hening ke Ruang Aksi Sebagai pustakawan di daerah...

PRAKTIK BAIK PUSTAKAWAN: Mengemas Ulang Informasi dari Buku Tua Berbahasa Asing untuk Akses Pengetahuan yang Lebih Inklusif

1. Pendahuluan Di era digital dan inklusi informasi, pustakawan tidak hanya bertugas mengelola koleksi, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan—termasuk yang berasal dari dokumen lama dan berbahasa asing—tetap dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat. Salah satu praktik baik yang semakin relevan adalah mengemas ulang informasi dari sumber-sumber tua agar hadir dalam format yang lebih kontekstual, ringkas, dan ramah pengguna. Di Gorontalo, banyak buku dan artikel sejarah berbahasa Belanda yang memuat informasi penting tentang masyarakat, budaya, dan perkembangan daerah pada masa kolonial. Sayangnya, keterbatasan bahasa, format, dan usia dokumen membuat informasi ini tidak lagi tersentuh oleh pemustaka. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya praktik baik ini. 2. Latar Belakang Permasalahan Beberapa tantangan yang sering dihadapi pustakawan dalam mengelola koleksi tua antara lain: Bahasa asing (Belanda) yang tidak lagi dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Format buku yang...

Bukan Sekadar Gudang Buku: 5 Fakta Mengejutkan dari Standar Akreditasi Perpustakaan Terbaru

Bayangkan sebuah perpustakaan. Apakah yang terlintas di benak Anda adalah ruangan sunyi yang dipenuhi rak-rak buku berdebu? Jika ya, Anda tidak sendirian. Namun, citra tersebut akan segera usang. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menerbitkan sebuah standar baru yang revolusioner, "Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 187 Tahun 2025," yang mendefinisikan ulang wajah perpustakaan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dokumen ini bukan sekadar panduan, melainkan cetak biru untuk perpustakaan masa depan. Artikel ini akan mengupas tuntas lima gebrakan paling mengejutkan dan berdampak dari standar akreditasi terbaru ini, yang menunjukkan bahwa perpustakaan modern adalah pusat komunitas yang dinamis, inklusif, dan berteknologi tinggi. 1. Pelayanan Adalah Raja: Bobot Penilaian Tertinggi Bukan pada Koleksi Buku Fakta yang paling fundamental dari standar baru ini adalah pergeseran prioritas yang drastis. Dalam instrumen akreditasi, komponen  "Pelayanan Perpusta...

MENUMBUHKAN GERAKAN LITERASI DALAM KEPRAMUKAAN: USULAN PEMBENTUKAN SATUAN KARYA PRAMUKA PERPUSTAKAAN (SAKA PUSTAKA)

PENGANTAR Perkemahan Nasional Satuan Karya Pramuka (Peran Saka) tahun 2025 yang dilaksanakan di Bongohulawa, Limboto, Kabupaten Gorontalo, merupakan momentum penting bagi generasi muda untuk menunjukkan karya, keterampilan, dan semangat pengabdian kepada bangsa. Kegiatan yang berlangsung pada 2–9 November 2025 ini mempertemukan berbagai Satuan Karya dari seluruh Indonesia dengan beragam bidang keahlian — mulai dari kesehatan, pertanian, kelautan, hingga teknologi digital. Namun di sela gegap gempita kegiatan nasional ini, tersisa satu ruang yang terasa sunyi — ruang bagi mereka yang telah lama menjaga api literasi di daerah. Mereka adalah para relawan taman bacaan, penggerak literasi desa, dan pustakawan muda yang selama ini berjuang di jalan sunyi, menuntun anak-anak membaca di teras rumah, di pondok kecil, bahkan di bawah pohon rindang di tepi sawah. Mereka tak mengenal pangkat, tak mencari balas jasa, tapi semangatnya membara untuk satu hal: agar anak-anak bangsa tidak buta aksa...