Langsung ke konten utama

Postingan

Google Sudah Bukan Raja? Mengapa Literasi Informasi Harus Berubah di Era AI

"Dulu kita belajar cara mencari informasi. Hari ini, tantangan yang lebih besar adalah mengetahui informasi mana yang layak dipercaya." Selama lebih dari dua dekade, literasi informasi identik dengan kemampuan mencari informasi. Mahasiswa diajarkan menggunakan kata kunci yang tepat, memanfaatkan mesin pencari, membedakan sumber primer dan sekunder, serta mengevaluasi kredibilitas informasi. Semua itu tetap penting. Namun, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap informasi secara fundamental. Kini, banyak orang tidak lagi membuka mesin pencari untuk menemukan jawaban. Mereka cukup mengetik satu pertanyaan kepada chatbot berbasis AI, lalu dalam hitungan detik memperoleh jawaban yang tampak lengkap, runtut, bahkan disertai penjelasan. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan. Di sinilah literasi informasi memasuki babak baru. Dari Mencari Informasi Menjadi Berdialog de...

RESEARCH SUPPORT LIBRARIAN CENTER (RSLC): TRANSFORMASI LAYANAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI ERA KECERDASAN BUATAN

Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara sivitas akademika mengakses, mengelola, dan memanfaatkan informasi. Jika pada masa lalu perpustakaan menjadi gerbang utama memperoleh sumber pengetahuan, saat ini mahasiswa dan dosen dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital dan aplikasi berbasis AI. Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah perpustakaan masih relevan di era AI? Jawabannya adalah sangat relevan, bahkan lebih penting dari sebelumnya. Tantangan utama saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan melimpahnya informasi yang harus diseleksi, dievaluasi, diverifikasi, dan diolah menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dalam konteks inilah perpustakaan perguruan tinggi perlu melakukan transformasi peran dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pendampingan penelitian. Salah satu model yang dapat dikembangkan ad...

STRATEGI GERAKAN HALUS: Jalan Realistis Memajukan Perpustakaan di Era BANI

Oleh: Yusron Humonggio  Di banyak daerah, perpustakaan sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, masyarakat berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Di sisi lain, perpustakaan sering dihadapkan pada keterbatasan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia, serta tuntutan pelayanan yang terus meningkat. Situasi ini semakin terasa dalam apa yang dikenal sebagai Era BANI (Brittle, Anxious, Non-Linear, Incomprehensible), yaitu era yang ditandai oleh kondisi yang rapuh, penuh kecemasan, tidak linier, dan sulit dipahami. Dalam kondisi seperti ini, banyak organisasi mengalami kesulitan beradaptasi, termasuk perpustakaan. Namun persoalan utama perpustakaan sebenarnya bukan terletak pada gedung, rak buku, atau fasilitas fisik. Persoalan yang lebih mendasar terletak pada bagaimana manusia di dalam organisasi menghadapi perubahan. Banyak perpustakaan telah menjalankan pola kerja yang sama selama bertahun-tahun. Kebiasaan yang suda...

5 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN

5 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN 1. TERLALU FOKUS PADA GEDUNG DAN KOLEKSI, LUPA PADA RELEVANSI Banyak perpustakaan masih mengukur keberhasilan dari jumlah buku, megahnya gedung, dan rapinya ruang baca. Padahal masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan tempat menyimpan buku, tetapi membutuhkan ruang belajar yang hidup, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Rak boleh penuh, tetapi jika masyarakat tidak merasa terbantu, maka perpustakaan perlahan kehilangan maknanya. Perpustakaan bukan sekadar bangunan. Perpustakaan adalah ruang tumbuh: tempat lahirnya ide, kreativitas, diskusi, dan perubahan sosial. Karena perpustakaan yang kuat bukan yang paling besar gedungnya, melainkan yang paling besar pengaruhnya di tengah masyarakat. 2. MENUNGGU MASYARAKAT DATANG, BUKAN AKTIF MENJEMPUT MASYARAKAT Masih banyak perpustakaan yang bekerja dengan pola lama: membuka layanan lalu menunggu pengunjung datang sendiri. Padahal hari ini masyarakat h...

"Jangan Hanya Berkata Itu AI”

Catatan Kegelisahan Seorang Pustakawan di Era Lompatan Kecerdasan Buatan Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini telah melahirkan perubahan besar dalam cara manusia membaca, menulis, menerjemahkan, dan memproduksi pengetahuan. Namun di balik perkembangan itu, muncul pula kegelisahan baru, terutama di kalangan pegiat literasi, peneliti independen, dan pustakawan yang mulai memanfaatkan AI dalam kerja-kerja intelektual mereka. Tulisan ini lahir dari pengalaman dan diskusi panjang seorang pustakawan yang selama ini bergelut dengan dokumen-dokumen lama, budaya lokal, serta pemanfaatan AI dalam membantu penelusuran dan penyusunan kajian budaya. Di tengah percepatan teknologi hari ini, sering muncul respons yang cukup menyakitkan: “Ah, itu kan AI.” Kalimat tersebut sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat akademik memandang perubahan cara produksi pengetahuan di era baru. AI dan Tuduhan yang Terlalu Cepat Hari ...

AI, Tradisi Lisan, dan Masa Depan Kepenulisan Budaya

Sebuah Ulasan Awal untuk Dikaji Bersama Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia literasi dan kepenulisan. Jika sebelumnya AI dipandang hanya sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, merangkum teks, atau menyusun struktur tulisan, kini kemampuannya berkembang jauh lebih kompleks. AI mulai mampu menangkap nuansa emosional, konteks budaya, bahkan atmosfer tradisi lokal melalui prompt yang kaya dan terarah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting yang layak dikaji secara serius oleh akademisi, pegiat budaya, pustakawan, penulis, dan para pakar literasi: Apakah AI mulai mampu membantu merepresentasikan pengalaman budaya dan tradisi lisan yang selama ini dianggap sangat manusiawi? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar wacana teknologi, tetapi sudah menjadi kenyataan yang muncul dalam praktik sehari-hari. AI dan Kemampuan Menangkap “Rasa” Budaya Dalam pengalaman berbagai pengguna, termasuk pegiat literasi da...