Langsung ke konten utama

"Peran Pustakawan Sekolah” Perbandingan di Australia, Amerika Serikat, dan Jerman, dan Tantangan di Indonesia


Di Australia, profesi pustakawan di sekolah disebut sebagai "Teacher Librarian" atau "School Librarian". Gelar ini mencerminkan peran yang lebih luas dari sekadar menyimpan dan mengelola koleksi buku di perpustakaan. Teacher Librarian tidak hanya bertanggung jawab atas manajemen perpustakaan, tetapi juga memiliki peran dalam mendukung pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Proses pemilihan Teacher Librarian di Australia dapat bervariasi antar lembaga pendidikan. Namun, secara umum, sebagian besar Teacher Librarian adalah guru yang sudah memiliki kualifikasi pendidikan dan kemudian memperoleh kualifikasi tambahan dalam bidang perpustakaan atau literasi informasi. Di Amerika Serikat, peran pustakawan di sekolah sering disebut sebagai "school librarian." Prosedur dan persyaratan untuk menjadi seorang pustakawan sekolah dapat bervariasi antara negara bagian, tetapi ada beberapa persamaan dalam persyaratan dan sertifikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, peran pustakawan sekolah di Amerika Serikat telah mengalami perubahan. Banyak pustakawan sekolah kini memiliki peran yang lebih aktif dalam mendukung literasi digital, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, dan pengembangan keterampilan literasi informasi siswa. Sama seperti di Australia, sertifikasi dan persyaratan dapat bervariasi tergantung pada kebijakan negara bagian dan lembaga pendidikan tertentu. Pustakawan sekolah di Amerika Serikat berperan penting dalam menyediakan akses ke informasi dan mendukung perkembangan literasi siswa. Di Jerman, profesi pustakawan di sekolah biasanya disebut sebagai "Schulbibliothekar" atau "Schulbibliothekarin," yang dapat diterjemahkan sebagai pustakawan sekolah. Sistem pendidikan dan persyaratan untuk pustakawan sekolah di Jerman dapat bervariasi antara negara bagian.

Di Australia, perpustakaan sekolah dianggap sebagai bagian integral dari pendidikan. Program literasi dan pengembangan literasi informasi diberikan perhatian, dan perpustakaan sekolah seringkali mendukung inisiatif ini. Terdapat komunitas pendidikan yang sadar akan peran penting perpustakaan dalam membentuk kebiasaan membaca dan keterampilan literasi siswa. Di Jerman, pendidikan dihargai tinggi, dan perpustakaan sekolah dianggap sebagai sumber daya penting dalam mendukung pendidikan. Selain itu, Jerman memiliki tradisi literasi yang kuat, dan perpustakaan dianggap sebagai tempat yang mempromosikan budaya membaca. Di Amerika Serikat, pendekatan terhadap perpustakaan sekolah dapat bervariasi antar negara bagian dan distrik sekolah. Sebagian besar distrik sekolah menyadari pentingnya perpustakaan dan mencoba mengintegrasikannya ke dalam kurikulum dan program literasi.

Di Indonesia, masih ada kepala sekolah yang belum memprioritaskan perpustakaan sekolah, mungkin karena kurangnya pemahaman akan peran krusial perpustakaan. Mereka cenderung menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, padahal seharusnya dilihat sebagai sumber daya pendidikan yang lebih luas. Perpustakaan tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga berbagai materi pembelajaran, mendukung pengembangan literasi siswa, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, dan menjadi pusat literasi digital. Pandangan sempit bahwa perpustakaan hanya tempat menyimpan buku dapat berdampak negatif terhadap lingkungan pendidikan. Jika kepala sekolah tidak memberikan prioritas yang cukup, beberapa dampak mungkin muncul. Terbatasnya akses siswa terhadap sumber daya literasi dapat menghambat pengalaman belajar mereka dan menghambat perkembangan literasi. Selain itu, tanpa dukungan kepala sekolah, upaya meningkatkan literasi siswa, khususnya melalui peran Teacher Librarian, bisa terhambat, mengakibatkan kehilangan peluang untuk memanfaatkan beragam sumber daya literasi yang perpustakaan bisa tawarkan. Lebih lanjut, tidak memberikan prioritas terhadap perpustakaan juga dapat mempengaruhi kondisi fisik dan fasilitas perpustakaan. Kurangnya investasi dalam pemeliharaan, pembaruan, dan peningkatan infrastruktur dapat menyebabkan tidak optimalnya pemanfaatan fasilitas perpustakaan. Penting bagi kepala sekolah untuk mengakui peran strategis perpustakaan dalam mendukung pendidikan dan literasi siswa. Dengan memberikan dukungan yang memadai dan mengalokasikan sumber daya yang cukup, kepala sekolah dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan mendukung bagi seluruh komunitas sekolah. Meskipun era digital memberikan akses mudah ke informasi online, perpustakaan sekolah dan Teacher Librarian tetap memiliki peran penting dalam mendidik siswa. Mereka tidak hanya menyediakan sumber daya cetak, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan literasi digital siswa. Melalui integrasi kurikulum dan dukungan pada pembelajaran inklusif, perpustakaan sekolah tetap relevan dalam mendukung pendidikan holistik. Pengelolaan informasi, pengalaman membaca yang kaya, dan peran dalam pendidikan inklusif adalah beberapa aspek yang membuat perpustakaan tetap berharga, meskipun dihadapkan pada tantangan era digital...   Oleh : Yusron Humonggio

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...