Langsung ke konten utama

MAN IC Gorontalo dan IPI Bersama FPSMI Prov. Gorontalo Tandatangani MoU

Gorontalo, (11/07/24)  Dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu perpustakaan Ibnu Khaldun, MAN Insan Cendekia Gorontalo melakukan langkah signifikan dengan mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Ikatan Perpustakaan Indonesia (IPI) Provinsi Gorontalo dan Forum Perpustakaan Sekolah Madrasah Indonesia (FPSMI) Provinsi Gorontalo. Acara penandatanganan MoU ini  dilaksanakan pada hari Kamis, 11 Juli 2024 pukul 10.30 WITA bertempat di Gedung SBSN Lt.3 MAN Insan Cendekia Gorontalo. Kepala MAN Insan Cendekia Gorontalo,  Dr. Jasmaniar, menyampaikan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan memperkaya sumber daya informasi yang ada. "Kami sangat berharap MoU ini bisa membawa dampak positif bagi perpustakaan kami, memberikan akses lebih luas dan berkualitas bagi para siswa serta staf pengajar," ujarnya.

Ketua IPI Provinsi Gorontalo, Feri Hulukati, SE, juga menyambut baik inisiatif ini. "Kami dari IPI Provinsi Gorontalo sangat mendukung langkah MAN Insan Cendekia Gorontalo dalam mengembangkan perpustakaan mereka. Semoga kerja sama ini menjadi contoh bagi institusi lain untuk turut serta dalam upaya meningkatkan mutu perpustakaan di Gorontalo," kata Feri Hulukati. Selain itu, hadir juga Ketua FPSMI Provinsi Gorontalo, Ibu Yulinda Anis, M.Pd yang turut menandatangani MoU untuk pengembangan perpustakaan Ibnu Khaldun. "Partisipasi kami dalam kerja sama ini menunjukkan komitmen FPSMI untuk memajukan literasi dan perpustakaan sekolah madrasah di seluruh Gorontalo. Kami berharap ini akan menjadi langkah awal dari banyak kerja sama positif lainnya," ungkap Yulinda Anis. Acara penandatanganan ini akan menjadi tonggak penting bagi ketiga belah pihak dalam memperkuat kolaborasi untuk memajukan literasi dan akses informasi di Gorontalo.



Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...