Langsung ke konten utama

Dukungan Pimpinan dalam Pengembangan Perpustakaan: Pilar Utama yang Menentukan

SIMAK PEMBAHASAN VIA AUDIO DISINI

Selama hampir seperempat abad saya mendampingi berbagai sekolah dan desa dalam pengembangan perpustakaan, saya semakin menyadari bahwa dukungan dari pimpinan memiliki peran krusial dalam kelangsungan dan keberhasilan perpustakaan. Pimpinan yang mendukung secara penuh bukan hanya memberi izin dan anggaran, tetapi juga turut serta memantau perkembangan dan memberikan arahan yang relevan. Perpustakaan yang berkembang pesat biasanya ditopang oleh pimpinan yang memahami pentingnya pendidikan literasi dan layanan informasi bagi masyarakat atau siswa.

Namun, ketika terjadi pergantian pimpinan, situasi ini sering kali berubah drastis. Keberlanjutan pengembangan perpustakaan sering kali terancam, terutama jika pimpinan baru tidak memiliki visi atau komitmen yang sama terhadap perpustakaan. Banyak cerita perpustakaan yang dulunya berkembang, bahkan menjadi yang terbaik di wilayahnya, tiba-tiba stagnan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya karena kurangnya dukungan dari pimpinan baru.

Salah satu dampak paling signifikan dari kebijakan pimpinan yang keliru adalah hilangnya semangat staf pengelola perpustakaan. Ketika dukungan pimpinan tidak lagi diberikan, atau kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan kebutuhan pengembangan perpustakaan, staf yang selama ini bekerja keras mengelola dan mengembangkan perpustakaan menjadi kehilangan motivasi. Staf perpustakaan yang merasa tidak didukung dan tidak diapresiasi, cenderung mengendurkan semangat kerja mereka, sehingga kualitas layanan perpustakaan pun menurun. Padahal, perpustakaan membutuhkan tim yang berdedikasi dan terus termotivasi untuk bisa berkembang dan memberikan dampak positif bagi para penggunanya.

Salah satu contoh nyata dari kebijakan yang kurang bijak adalah ketika sebuah perpustakaan telah berhasil mengimplementasikan sistem otomasi berbasis IT untuk mengelola buku, sirkulasi, dan layanan perpustakaan lainnya. Namun, keputusan pimpinan untuk menghentikan penggunaan sistem IT tersebut dengan alasan membeli lebih banyak buku, justru menjadi bumerang. Sebab, buku-buku yang dibeli tidak akan berguna tanpa sistem yang bisa mengelolanya secara efisien. Ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa prioritas pimpinan terkadang cenderung keliru, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan yang merugikan pengembangan perpustakaan ini?

Selain itu, perlunya supervisi berkelanjutan dari dinas terkait sangat penting untuk memastikan perpustakaan tetap berjalan dengan baik dan tidak terhambat dalam pengembangannya. Supervisi ini dapat berperan sebagai pengawas sekaligus pendukung dalam mengevaluasi kebijakan pimpinan yang terkait dengan perpustakaan. Dengan adanya supervisi yang tepat, kesalahan dalam pengambilan kebijakan bisa diminimalisir, dan perpustakaan dapat terus berkembang sesuai dengan tujuan awalnya. Supervisi yang berkelanjutan juga membantu memastikan bahwa staf perpustakaan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk tetap termotivasi dalam melaksanakan tugas mereka.

Pada akhirnya, dukungan pimpinan adalah segalanya dalam pengembangan perpustakaan. Keberhasilan sebuah perpustakaan tidak hanya bergantung pada jumlah koleksi buku atau fasilitas yang ada, tetapi lebih pada komitmen pimpinan dalam memberikan dukungan yang berkelanjutan. Ketika pimpinan tidak lagi memprioritaskan perpustakaan, masa depan perpustakaan pun menjadi suram. Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin untuk memiliki visi yang jelas tentang peran perpustakaan dalam mendukung pendidikan dan literasi, serta memahami bahwa perpustakaan adalah investasi jangka panjang yang harus dijaga keberlangsungannya. Di samping itu, supervisi yang konsisten dari dinas terkait juga perlu dilakukan untuk memastikan perpustakaan tetap berada di jalur yang tepat.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...