Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

MENELAAH PERAN KOMITE SEKOLAH DAN ORANG TUA DALAM EKSTRAKURIKULER BERDASARKAN PERMENDIKDASMEN NO 13 TAHUN 2025

Pendidikan adalah investasi jangka panjang sebuah bangsa. Untuk memastikan investasi ini membuahkan hasil optimal, diperlukan kolaborasi berbagai pihak, tidak hanya institusi sekolah semata. Dalam konteks sistem pendidikan Indonesia, peran para pemangku kepentingan (stakeholder) menjadi krusial. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 yang mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 secara eksplisit menegaskan dan memperkuat peran ini, khususnya bagi Komite Sekolah/Madrasah dan Orang Tua dalam mendukung program Ekstrakurikuler. Lantas , mengapa penguatan peran stakeholder ini begitu penting? Mari kita bedah beberapa alasannya. 1 . Ekstrakurikuler yang Lebih Berkualitas dan Relevan Program ekstrakurikuler sejatinya adalah wahana pengembangan minat, bakat, potensi, dan karakter peserta didik di luar kegiatan intrakurikuler. Namun, seringkali pelaksanaannya dihadapkan pada keterbatasan sumber daya atau kurangnya relevansi dengan kebutuhan siswa. Denga...

PENGGERAK LITERASI: PEJUANG YANG MENYALAKAN API PENGETAHUAN

Kau yang bawa buku ke desa dengan motor butut. Kau yang buat perpustakaan dari kardus bekas. Kau yang bacakan cerita untuk anak-anak yang tak punya akses buku. Kalian adalah penggerak literasi pekerja sunyi yang tak menunggu dukungan atau pujian. Literasi Tak Butuh Pidato, Tapi Butuh Tindakan Bukan seminar atau kata-kata menteri yang bikin orang melek huruf. Tapi keringatmu: ·        Relawan naik turun gunung bawa buku. ·        Ibu-ibu yang pinjamkan koleksi bukunya ke tetangga. ·        Guru yang mengajar pakai koran bekas karena tak ada buku. Tapi jalanmu tak mudah. Seperti kata teori Everett Rogers, orang yang pertama kali bawa perubahan selalu dianggap "aneh". Kau diragukan, bahkan ditertawakan. Tapi kau tetap jalan. "Ngapain Baca Buku Kalau Masih Miskin?" Pertanyaan itu sering dilontarkan ke kalian. Padahal: ·       Justru karena miskin, literasi jadi pe...

LITERASI ITU AKSI: KOTA GORONTALO GAGAS SINTAKSIS SEBAGAI SOLUSI TANTANGAN MEMBACA SISWA.

  Pada hari Rabu, 16 Juni 2025, bertempat di Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo , telah berlangsung sebuah kegiatan penting bertajuk Sosialisasi Transformasi Perpustakaan , yang diikuti oleh para Kepala Sekolah dan Pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar se-Kota Gorontalo. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan Dan  Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo . Dalam kegiatan ini, lahir sebuah gagasan bersama "Tantangan Membaca" yang dikelola via aplikasi sederhana yang diberi nama SINTAKSIS , singkatan dari Sistem Informasi Tantangan Aksi Literasi Sekolah . Program ini merupakan bentuk aksi nyata dalam menjawab tantangan belum maksimalnya tingkat literasi siswa sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama, SINTAKSIS dirumuskan secara kolaboratif oleh para peserta kegiatan—para kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan para pengelola perpustakaan sebagai motor penggerak literasi. Melalui sesi diskusi dan perumusan bersama, para peserta menyepakati bahwa literasi ha...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...

SAMBUTAN KETUA PENGURUS DAERAH IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA (PD-IPI) PROVINSI GORONTALO

Oleh: Feri Hulukati, SE  Ketua PD-IPI Provinsi Gorantalo. Dalam Rangka Hari Pustakawan Indonesia ke-52 7 Juli 2025. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Om swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan.  Yang saya hormati, Seluruh pustakawan, pengelola perpustakaan, serta pemerhati literasi di seluruh pelosok Provinsi Gorontalo yang saya banggakan.       Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita diberi kesempatan untuk memperingati Hari Pustakawan Indonesia ke-52, dengan tema “Mengokohkan Jati Diri Pustakawan melalui Penetapan 7 Juli sebagai Hari Pustakawan Indonesia.” Bagi kami di PD IPI Provinsi Gorontalo, tema ini bukan sekadar peringatan seremonial. Ini adalah seruan untuk memperkuat kembali jati diri kita sebagai pustakawan, sebagai insan yang tidak hanya mengelola informas...

Saatnya Perpustakaan Bergerak: Bukan Lagi Soal Buku, Tapi Dampak !

Masih banyak perpustakaan hari ini yang hanya dinilai dari berapa banyak koleksi buku yang dimiliki. Padahal zaman sudah berubah. Masyarakat tak lagi hanya mencari bacaan, mereka mencari jawaban atas persoalan hidup, ingin belajar keterampilan baru, dan butuh tempat yang memberdayakan. Maka sudah saatnya kita, para pustakawan dan pengelola perpustakaan, mulai bertanya ulang: “Siapa yang saya layani?” “Apa dampak perpustakaan saya bagi warga sekitar?” Perpustakaan Bukan Lagi Koleksi-Sentris.  Dulu, keberhasilan perpustakaan sering diukur dari: Banyaknya buku di rak Jumlah kunjungan Tingkat peminjaman Kini, ukuran itu tidak lagi cukup. Di era transformasi, yang lebih penting adalah: Berapa banyak warga yang tercerahkan setelah datang ke perpustakaan: Apakah pelatihan di perpustakaan membantu ibu-ibu berdagang online Apakah siswa terbantu mengerjakan tugas karena bimbingan pustakawan Apakah lansia merasa diterima saat datang untuk sekadar membaca Perpustakaan = Tempat yang Menghidupka...