Langsung ke konten utama

LITERASI ITU AKSI: KOTA GORONTALO GAGAS SINTAKSIS SEBAGAI SOLUSI TANTANGAN MEMBACA SISWA.

 Pada hari Rabu, 16 Juni 2025, bertempat di Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo, telah berlangsung sebuah kegiatan penting bertajuk Sosialisasi Transformasi Perpustakaan, yang diikuti oleh para Kepala Sekolah dan Pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar se-Kota Gorontalo. Kegiatan ini diselenggarakan oleh
Dinas Kearsipan Dan 
Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo.

Dalam kegiatan ini, lahir sebuah gagasan bersama "Tantangan Membaca" yang dikelola via aplikasi sederhana yang diberi nama SINTAKSIS, singkatan dari Sistem Informasi Tantangan Aksi Literasi Sekolah. Program ini merupakan bentuk aksi nyata dalam menjawab tantangan belum maksimalnya tingkat literasi siswa sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama,

SINTAKSIS dirumuskan secara kolaboratif oleh para peserta kegiatan—para kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan para pengelola perpustakaan sebagai motor penggerak literasi. Melalui sesi diskusi dan perumusan bersama, para peserta menyepakati bahwa literasi harus dibangun tidak hanya sebagai kegiatan insidental, melainkan menjadi sebuah gerakan berkelanjutan yang menyenangkan, inklusif, dan terukur.

SINTAKSIS dirancang sebagai sebuah tantangan membaca edukatif yang mengajak siswa untuk membaca buku bermutu secara rutin, menuliskan pemahamannya melalui lembar laporan bacaan, serta melibatkan guru, pustakawan, dan orang tua sebagai pendamping aktif. Buku-buku yang digunakan bersumber dari koleksi perpustakaan sekolah, perpustakaan digital, dan koleksi terpilih lainnya yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan usia anak.

Program ini tidak hanya menekankan pada keterampilan membaca semata, tetapi juga membangun kebiasaan belajar, kemampuan bernalar, dan karakter pembelajar. Dalam implementasinya, akan digunakan sistem pelaporan berbasis manual maupun digital untuk memantau keterlibatan siswa, sebagai dasar evaluasi dan tindak lanjut.

Diharapkan, dengan adanya SINTAKSIS:

  • Budaya literasi di SD/SMP dapat tumbuh dengan semangat kebersamaan
  • Kolaborasi antar unsur pendidikan (sekolah, perpustakaan, dan keluarga) semakin erat
  • Kota Gorontalo mampu menjadi model penguatan literasi berbasis data dan aksi nyata
  • Dan pada akhirnya, indikator nasional terkait literasi siswa dapat tercapai secara terukur
Lahirnya SINTAKSIS menjadi salah satu langkah strategis dan monumental dalam memperkuat peran perpustakaan sekolah sebagai pusat pembelajaran. Dukungan dari Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo dan PD-IPI Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan adalah tanggung jawab bersama, yang hanya bisa diwujudkan dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan.

SINTAKSIS bukan sekadar program, tetapi gerakan bersama untuk menciptakan generasi pembaca yang berpikir, berdaya, dan berkarakter.

 

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...