Langsung ke konten utama

ASTA ETIKA PUSTAKAWAN: MENJAGA INTEGRITAS DI ERA HAK CIPTA

Koleksi Infografis Edukasi Anak Koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Bolmong Utara .   Dirancang dengan dukungan teknologi Artificial AI) di bawah kurasi pustakawan

Asta Etika Pustakawan bukan sekadar delapan butir norma, melainkan kompas moral dalam menjalankan profesi secara bermartabat. Salah satu nilai penting yang sering luput disadari adalah penghormatan terhadap karya intelektual orang lain, sekecil apa pun bentuknya.

Dalam praktik pembinaan perpustakaan—termasuk kepada perpustakaan binaan—pustakawan tidak dibenarkan membagikan, menggandakan, atau menyebarluaskan karya orang lain tanpa izin. Tindakan tersebut bukan hanya bertentangan dengan etika profesi, tetapi juga beririsan langsung dengan hak cipta yang kini semakin tegas diatur, termasuk dalam KUHP terbaru.

Di era digital, niat baik sering kali terjebak pada jalan pintas: membagikan materi instan demi cepat, praktis, dan dianggap membantu. Padahal, tanpa disadari, hal itu dapat mencederai integritas pustakawan dan merusak teladan yang seharusnya kita bangun dalam pembinaan literasi.

Karena itu, tantangan pustakawan hari ini bukan sekadar menyediakan informasi, melainkan berkarya secara mandiri. Sekecil apa pun karya yang dihasilkan—modul sederhana, infografis, catatan praktik baik, atau panduan singkat—itulah wujud eksistensi pustakawan yang beretika, kreatif, dan bertanggung jawab.

Mari kita jadikan Asta Etika Pustakawan sebagai ruh dalam setiap langkah pembinaan. Dengan terus berkarya dan menghormati hak cipta, pustakawan tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi sebagai teladan integritas di tengah perubahan zaman.

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...