Efisiensi anggaran sedang menjadi arus besar di banyak pemerintah daerah. OPD dirampingkan, struktur digabung, belanja ditekan. Secara administratif, langkah ini bisa dipahami. Pemerintah memang dituntut bekerja efektif dan hemat.
Namun ketika wacana penggabungan menyentuh OPD Perpustakaan, kita perlu bertanya dengan serius: apakah kita sedang menata birokrasi, atau tanpa sadar sedang mengerdilkan masa depan?
Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi buku. Ia adalah ruang tumbuh masyarakat. Di sanalah anak-anak belajar bermimpi. Di sanalah pelajar mencari referensi. Di sanalah pelaku UMKM mencari inspirasi usaha. Di sanalah warga belajar literasi digital agar tidak mudah terjebak hoaks.
Jika pembangunan hanya dimaknai sebagai jalan, gedung, dan proyek fisik, maka perpustakaan memang tampak kecil. Tetapi jika pembangunan dimaknai sebagai peningkatan kualitas manusia, maka perpustakaan justru berada di jantungnya.
Daerah yang maju bukan hanya yang infrastrukturnya kokoh, tetapi yang masyarakatnya cerdas, kritis, dan adaptif. Dan semua itu berawal dari literasi.
Kita tentu jujur mengakui, banyak perpustakaan daerah masih perlu berbenah. Inovasi harus diperkuat, layanan harus lebih digital, dan dampaknya harus lebih terukur. Namun solusi atas kekurangan bukanlah melemahkan institusinya.
Efisiensi boleh dilakukan. Struktur boleh dirapikan. Tetapi fungsi strategis perpustakaan tidak boleh dipinggirkan.
Karena literasi bukan pelengkap pembangunan. Ia adalah pondasi.
Kita boleh menghemat anggaran. Tetapi jangan sampai kita menghemat investasi untuk generasi yang akan memimpin daerah ini di masa depan.
Perpustakaan bekerja dalam senyap. Tidak gaduh, tidak spektakuler. Namun dari ruang-ruang sunyi itulah lahir gagasan, kesadaran, dan masa depan.
Dan masa depan tidak boleh dirampingkan.

