Langsung ke konten utama

Menggabungkan Perpustakaan? Hati-Hati, Kita Sedang Mengerdilkan Masa Depan



Efisiensi anggaran sedang menjadi arus besar di banyak pemerintah daerah. OPD dirampingkan, struktur digabung, belanja ditekan. Secara administratif, langkah ini bisa dipahami. Pemerintah memang dituntut bekerja efektif dan hemat.

Namun ketika wacana penggabungan menyentuh OPD Perpustakaan, kita perlu bertanya dengan serius: apakah kita sedang menata birokrasi, atau tanpa sadar sedang mengerdilkan masa depan?

Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi buku. Ia adalah ruang tumbuh masyarakat. Di sanalah anak-anak belajar bermimpi. Di sanalah pelajar mencari referensi. Di sanalah pelaku UMKM mencari inspirasi usaha. Di sanalah warga belajar literasi digital agar tidak mudah terjebak hoaks.

Jika pembangunan hanya dimaknai sebagai jalan, gedung, dan proyek fisik, maka perpustakaan memang tampak kecil. Tetapi jika pembangunan dimaknai sebagai peningkatan kualitas manusia, maka perpustakaan justru berada di jantungnya.

Daerah yang maju bukan hanya yang infrastrukturnya kokoh, tetapi yang masyarakatnya cerdas, kritis, dan adaptif. Dan semua itu berawal dari literasi.

Kita tentu jujur mengakui, banyak perpustakaan daerah masih perlu berbenah. Inovasi harus diperkuat, layanan harus lebih digital, dan dampaknya harus lebih terukur. Namun solusi atas kekurangan bukanlah melemahkan institusinya.

Efisiensi boleh dilakukan. Struktur boleh dirapikan. Tetapi fungsi strategis perpustakaan tidak boleh dipinggirkan.
Karena literasi bukan pelengkap pembangunan. Ia adalah pondasi.
Kita boleh menghemat anggaran. Tetapi jangan sampai kita menghemat investasi untuk generasi yang akan memimpin daerah ini di masa depan.

Perpustakaan bekerja dalam senyap. Tidak gaduh, tidak spektakuler. Namun dari ruang-ruang sunyi itulah lahir gagasan, kesadaran, dan masa depan.
Dan masa depan tidak boleh dirampingkan.

Postingan populer dari blog ini

Ponggoh: Jejak Mistis Dan Kearifan Lokal Gorontalo dari Naskah Kuno

Oleh Yusron Humonggio, (pegiat literasi)  LINK  "PEMBAHASAN  VIA  AUDIO) Satu Hari di Ruang Referensi Pagi itu, langkah saya membawa ke ruang referensi Gedung 4 Lantai Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo . Seperti biasa, aroma buku tua dan keheningan ruang referensi menjadi pemantik rasa penasaran saya. Di salah satu rak koleksi lama yang jarang disentuh, dijaga oleh pustakawan senior Bapak Haji Hermanto Yusuf saya menemukan sebuah buku dengan sampul kebiruan dan huruf-huruf berbahasa Belanda yang sudah mulai pudar dimakan usia.  Judulnya menarik perhatian saya: “De Beteekenis van Eenen Holontaloschen Ponggoh” karya J.G.F. Riedel , diterbitkan tahun 1869 dalam jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , Volume XVII. Buku tua ini menjadi jendela awal saya memahami kembali satu istilah lokal yang sangat kaya nilai budaya: Ponggoh . Apa Itu Ponggoh? Dalam catatan Riedel, Ponggoh merujuk pada manifestasi roh jahat atau makhluk ga...

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...