Langsung ke konten utama

Google Mulai Ditinggalkan? Cara Orang Mencari Informasi Sedang Berubah

Selama lebih dari dua dekade, Google menjadi pintu utama bagi hampir semua orang ketika membutuhkan informasi. Apa pun yang ingin diketahui, jawabannya dianggap selalu ada di Google. Namun, memasuki tahun 2025–2026, kebiasaan tersebut mulai berubah. Semakin banyak orang tidak lagi mengetik kata kunci di mesin pencari, tetapi langsung mengajukan pertanyaan kepada kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity.

Berbagai survei terbaru menunjukkan bahwa sebagian pengguna internet kini memulai pencarian informasi langsung melalui AI. Mereka memilih AI karena dapat memberikan jawaban yang cepat, ringkas, mudah dipahami, dan memungkinkan percakapan lanjutan tanpa harus membuka banyak halaman web. Bagi banyak orang, pengalaman ini terasa lebih praktis dibandingkan mencari sendiri di antara puluhan hasil pencarian.

Meski demikian, perubahan ini bukan berarti Google kehilangan perannya. Google masih menjadi mesin pencari yang paling banyak digunakan di dunia dan tetap unggul untuk menemukan situs web, dokumen resmi, berita terkini, maupun sumber rujukan yang spesifik. Sebaliknya, AI lebih berfungsi sebagai "mitra berpikir" yang membantu merangkum, menjelaskan, dan menyederhanakan informasi dari berbagai sumber.

Inilah perubahan besar yang perlu dipahami dalam literasi informasi. Tantangan saat ini bukan lagi sekadar mampu mencari informasi, melainkan mampu memilih cara mencari yang paling tepat serta memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh. Jawaban AI sangat membantu, tetapi tetap harus dibandingkan dengan sumber yang kredibel, terutama untuk keperluan akademik, penelitian, maupun pengambilan keputusan penting.

Era digital telah memasuki babak baru. Jika dahulu keterampilan utama adalah mencari informasi, kini keterampilan yang jauh lebih penting adalah mencari, memverifikasi, dan memanfaatkan informasi secara cerdas. AI telah mengubah cara kita menemukan jawaban, tetapi kemampuan berpikir kritis tetap menjadi kunci agar informasi yang diperoleh benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh Yusron Humonggio 

Pegiat literasi

Postingan populer dari blog ini

INOVASI & KEUNIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Yusron Humonggio, M.Pd

link terkait Inovasi, kreativitas & keunikan Perpustakaan Sekolah  merupakan kewajiban sebagaimana  tertuang dalam komponen 7 Instrumen Areditasi Perpustakaan.  Perpustakaan sekolah, sebagai jantung pendidikan, harus menjadi panggung kreativitas dan pengetahuan bagi siswa. Untuk menjadikan perpustakaan tidak hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat kegiatan yang dinamis, inovasi dan keunikan menjadi elemen krusial. Mereka tidak hanya memberikan warna pada ruang fisik perpustakaan, tetapi juga memupuk semangat pembelajaran dan eksplorasi bagi setiap penggunanya.  Inovasi dalam perpustakaan sekolah membuka pintu menuju dunia baru pembelajaran. Dengan penerapan teknologi terkini, seperti sistem manajemen perpustakaan online dan sumber daya digital, siswa dapat mengakses pengetahuan dengan lebih efisien. Ini juga memungkinkan perpustakaan untuk menjadi tempat di mana ide-ide baru berkembang, memicu keingintahuan dan imajinasi siswa. Keunikan perpustakaan seko...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...