Langsung ke konten utama

Postingan

Memahami Perbedaan Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk Pustakawan

Dalam upaya meningkatkan kompetensi pustakawan, sering kali digunakan dua metode pelatihan yaitu workshop dan bimbingan teknis (bimtek). Meskipun keduanya kerap digunakan secara bergantian, pemahaman yang jelas mengenai perbedaan keduanya sangat penting agar pelaksanaan kegiatan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran. Workshop: Pendekatan Partisipatif untuk Pemecahan Masalah Workshop merupakan kegiatan yang bersifat partisipatif dan interaktif, dengan tujuan utama menggali ide, berdiskusi, serta menemukan solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi. Melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi, peserta aktif berkontribusi dalam proses pembelajaran. Hal yang sangat krusial dalam workshop adalah adanya rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang jelas. Rekomendasi tersebut berfungsi sebagai pedoman untuk mengimplementasikan hasil diskusi agar dapat menjawab persoalan perpustakaan secara konsisten dan berkelanjutan. Bimbingan Teknis (Bimtek): Fokus pada Penguasaan Keterampi...

Pustakawan Baru Jangan Asal Gebrak! Begini Cara Cerdas Membawa Perubahan

Menjadi pustakawan baru di sebuah institusi seringkali membuat kita bersemangat ingin membawa banyak perubahan. Apalagi jika melihat kondisi perpustakaan yang sepi, koleksi tidak tertata, dan belum ada sistem digital. Rasanya ingin langsung tancap gas, mengubah semuanya. Tapi hati-hati! Semangat yang tinggi tanpa strategi bisa justru menimbulkan gesekan, apalagi kalau pimpinan merasa "digeser" atau tidak dihargai. Lalu, bagaimana caranya agar sebagai pustakawan baru kita bisa membawa perubahan tanpa merusak hubungan dengan pimpinan dan tim lama? Inilah langkah-langkah cerdas yang bisa dilakukan: 1. Hargai yang Sudah Ada Sebelum mengusulkan apapun, mulailah dengan mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Kalimat seperti, “Saya sangat menghargai perhatian pimpinan terhadap perpustakaan selama ini,” bisa membuka hati dan telinga mereka. 2. Mulai dengan Observasi Diam-diam Jangan langsung menilai. Amati dulu: * Bagaimana kondisi fisik perpustakaan? * Apakah koleksi sud...

Pustakawan ! AI Tidak Akan Menggantikanmu, Kecuali Kamu Diam Saja!

Link : AUDIO PEMBAHASAN Oleh Sekretaris PD-IPI Provinsi Gorontalo Di tengah gelombang revolusi teknologi, banyak profesi mulai goyah—termasuk pustakawan. Kini, mesin pencari berbasis AI mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, merekomendasikan buku, bahkan menyusun katalog otomatis. Lalu, apakah ini akhir dari profesi pustakawan? Jawabannya: Tidak. Tapi hanya jika pustakawan mau bergerak. AI tidak datang untuk menghapus peran pustakawan, tetapi untuk menantang kita agar berevolusi. Pustakawan bukan hanya penjaga rak buku, tetapi penuntun literasi, kurator informasi, dan fasilitator pembelajaran sepanjang hayat. Sayangnya, jika pustakawan tetap bertahan dalam zona nyaman hanya menjaga sirkulasi dan mendata buku maka ketertinggalan adalah konsekuensi yang tak terhindarkan. AI bisa cepat, tapi tidak bisa peduli. Ia bisa pintar, tapi tidak bisa empati. Di situlah kekuatan manusia berada. Kini saatnya pustakawan membalikkan keadaan: kuasai teknologi, manfaatkan AI sebagai alat, bangu...

BOOTCAMP LAYANAN INOVATIF DI PERPUSTAKAAN DAERAH

`Kata "bootcamp" berasal dari bahasa Inggris, yang secara harfiah berarti kamp pelatihan intensif . Istilah ini pertama kali muncul dalam dunia militer Amerika Serikat pada awal abad ke-20 untuk menggambarkan program pelatihan dasar bagi prajurit baru. Dalam konteks militer, kata "boot" merujuk pada rekrutan baru, sementara "camp" berarti kamp atau tempat pelatihan. Bootcamp militer merupakan program pelatihan yang sangat ketat dan intensif, dirancang untuk membentuk fisik, mental, dan disiplin prajurit dalam waktu singkat. Rekrutan akan menjalani latihan fisik yang berat, pengembangan keterampilan bertahan hidup, serta pembentukan ketahanan mental dan disiplin di bawah pengawasan instruktur yang ketat. Tujuannya adalah menciptakan prajurit yang siap menghadapi tantangan di medan pertempuran dengan ketangguhan fisik dan mental yang optimal. Seiring berjalannya waktu, konsep bootcamp mulai diadopsi ke dalam berbagai bidang non-militer, terutama dalam d...

Saatnya Benahi Publikasi & Literasi Informasi di Perpustakaan Kita

Oleh: Yusron Humonggio (Sekretaris PD-IPI Provinsi Gorontalo LINK " PEMBAHASAN VIA  AUDIO" Publikasi dan literasi informasi bukan lagi sekadar pelengkap dalam layanan perpustakaan. Dalam era digital dan banjir informasi seperti sekarang, keduanya adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi demi relevansi dan keberlangsungan perpustakaan di tengah masyarakat. Sayangnya, hasil kajian yang dilakukan oleh Tim IPI Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa potensi publikasi dan literasi informasi di banyak perpustakaan masih sangat lemah. Beberapa perpustakaan bahkan belum melakukan kegiatan publikasi secara konsisten, apalagi melaksanakan program literasi informasi secara terstruktur. Ini menjadi tantangan besar yang harus segera dibenahi, baik oleh para pustakawan maupun oleh jajaran pimpinan lembaga. Padahal, regulasi telah memberikan dasar yang kuat. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang Standar Kualitas Hasil Kerja (SKHK) Pustakawan memuat dengan je...

Saatnya Perpustakaan Punya Landing Page: Langkah Sederhana Menuju Transformasi Digital

Oleh: Yusron Humonggio, Pustakawan  Di tengah derasnya arus digitalisasi, perpustakaan perlu menyesuaikan diri agar tetap eksis dan relevan di mata masyarakat. Salah satu langkah sederhana namun berdampak besar yang bisa kita ambil adalah dengan "membuat landing page" sebagai media promosi perpustakaan. Landing page adalah halaman web sederhana yang berfungsi sebagai “wajah digital” sebuah layanan atau institusi. Dengan landing page, perpustakaan dapat memperkenalkan profil, menampilkan layanan, berbagi dokumentasi kegiatan, dan memudahkan masyarakat mengakses informasi secara daring. Mengapa ini penting? ✅ Mudah dan murah dibuat, bahkan tanpa keahlian teknis tinggi.   ✅ Bisa menggunakan platform gratis seperti Google Sites, Carrd, Notion, atau Canva Web.   ✅ Meningkatkan visibilitas perpustakaan, apalagi jika dikaitkan dengan media sosial.   ✅ Menumbuhkan budaya kerja digital di kalangan pustakawan. Bayangkan jika seluruh perpustakaan di daerah kita m...

"Surat Terbuka: Mempertahankan Esensi Perpustakaan di Tengah Tuntutan Efisiensi"

Saudara-saudara yang terhormat, Di tengah arus perubahan yang cepat dan tuntutan efisiensi birokrasi, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: Apakah kita siap mengorbankan esensi perpustakaan demi efisiensi organisasi? Mari kita renungkan sejenak. Perpustakaan bukan sekadar gedung berisi buku. Ia adalah jantung dari masyarakat pembelajar. Di dalamnya terdapat pengetahuan, kreativitas, dan harapan. Setiap lembar buku yang dibaca dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Setiap program literasi yang dijalankan dapat membuka pintu kesempatan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, perpustakaan harus dipandang sebagai institusi strategis dalam pembangunan peradaban. Namun kini, ada wacana untuk menggabungkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Perpustakaan dengan dinas lain demi efisiensi anggaran. Kita perlu bertanya: Apakah langkah ini benar-benar akan membawa manfaat bagi masyarakat? Atau justru akan melemahkan peran vital perpustakaan sebagai pusat pengetahuan...