Langsung ke konten utama

Postingan

MENUMBUHKAN GERAKAN LITERASI DALAM KEPRAMUKAAN: USULAN PEMBENTUKAN SATUAN KARYA PRAMUKA PERPUSTAKAAN (SAKA PUSTAKA)

PENGANTAR Perkemahan Nasional Satuan Karya Pramuka (Peran Saka) tahun 2025 yang dilaksanakan di Bongohulawa, Limboto, Kabupaten Gorontalo, merupakan momentum penting bagi generasi muda untuk menunjukkan karya, keterampilan, dan semangat pengabdian kepada bangsa. Kegiatan yang berlangsung pada 2–9 November 2025 ini mempertemukan berbagai Satuan Karya dari seluruh Indonesia dengan beragam bidang keahlian — mulai dari kesehatan, pertanian, kelautan, hingga teknologi digital. Namun di sela gegap gempita kegiatan nasional ini, tersisa satu ruang yang terasa sunyi — ruang bagi mereka yang telah lama menjaga api literasi di daerah. Mereka adalah para relawan taman bacaan, penggerak literasi desa, dan pustakawan muda yang selama ini berjuang di jalan sunyi, menuntun anak-anak membaca di teras rumah, di pondok kecil, bahkan di bawah pohon rindang di tepi sawah. Mereka tak mengenal pangkat, tak mencari balas jasa, tapi semangatnya membara untuk satu hal: agar anak-anak bangsa tidak buta aksa...

Dari Literasi ke Aksi Ekonomi: Kolaborasi Koperasi Merah Putih dan Pustakawan Desa Datahu Melahirkan Wirausaha Berbadan Hukum

Ketika program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial  digaungkan oleh Perpustakaan Nasional, banyak yang memaknainya sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun di Desa Datahu, Kabupaten Gorontalo, semangat inklusi sosial itu diterjemahkan secara lebih luas menjadi gerakan kolaboratif antara pustakawan dan koperasi untuk memperkuat literasi ekonomi masyarakat desa. Melalui kerja sama antara Koperasi Merah Putih Desa Datahu dan para pustakawan penggerak literasi, lahirlah inisiatif nyata yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan. Literasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan membaca buku semata, tetapi sebagai kekuatan untuk membaca peluang dan menulis masa depan ekonomi desa.   Dari Literasi ke Kewirausahaan Pendampingan literasi ekonomi yang dilakukan oleh Tim Literasi Koperasi bersama pustakawan telah melahirkan dua badan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) perora...

KOLABORASI SEBAGAI KUNCI TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL

Oleh: Yusron Humonggio Sekretaris PD IPI Provinsi Gorontalo Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial kini menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan layanan perpustakaan di daerah. Namun, dalam praktiknya, banyak perpustakaan menghadapi keterbatasan anggaran untuk menjalankan program secara optimal. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat pustakawan di Gorontalo. Justru dari keterbatasan itulah lahir semangat kolaborasi. Melalui kemitraan strategis dengan komunitas literasi, perguruan tinggi, dan lembaga mitra lainnya, perpustakaan dapat terus berinovasi dan menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat. Sebagaimana tertuang dalam instrumen akreditasi perpustakaan, kolaborasi ini bukan hanya pilihan, tetapi juga menjadi indikator penting dalam penilaian kelembagaan. Melalui mekanisme Memorandum of Understanding (MoU), perpustakaan diharapkan mampu menjalin kerja sama yang implementatif dan berkelanjutan — tidak sekadar seremoni, tetapi benar-benar menghasilkan kegi...

MENELAAH PERAN KOMITE SEKOLAH DAN ORANG TUA DALAM EKSTRAKURIKULER BERDASARKAN PERMENDIKDASMEN NO 13 TAHUN 2025

Pendidikan adalah investasi jangka panjang sebuah bangsa. Untuk memastikan investasi ini membuahkan hasil optimal, diperlukan kolaborasi berbagai pihak, tidak hanya institusi sekolah semata. Dalam konteks sistem pendidikan Indonesia, peran para pemangku kepentingan (stakeholder) menjadi krusial. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 yang mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 secara eksplisit menegaskan dan memperkuat peran ini, khususnya bagi Komite Sekolah/Madrasah dan Orang Tua dalam mendukung program Ekstrakurikuler. Lantas , mengapa penguatan peran stakeholder ini begitu penting? Mari kita bedah beberapa alasannya. 1 . Ekstrakurikuler yang Lebih Berkualitas dan Relevan Program ekstrakurikuler sejatinya adalah wahana pengembangan minat, bakat, potensi, dan karakter peserta didik di luar kegiatan intrakurikuler. Namun, seringkali pelaksanaannya dihadapkan pada keterbatasan sumber daya atau kurangnya relevansi dengan kebutuhan siswa. Denga...

PENGGERAK LITERASI: PEJUANG YANG MENYALAKAN API PENGETAHUAN

Kau yang bawa buku ke desa dengan motor butut. Kau yang buat perpustakaan dari kardus bekas. Kau yang bacakan cerita untuk anak-anak yang tak punya akses buku. Kalian adalah penggerak literasi pekerja sunyi yang tak menunggu dukungan atau pujian. Literasi Tak Butuh Pidato, Tapi Butuh Tindakan Bukan seminar atau kata-kata menteri yang bikin orang melek huruf. Tapi keringatmu: ·        Relawan naik turun gunung bawa buku. ·        Ibu-ibu yang pinjamkan koleksi bukunya ke tetangga. ·        Guru yang mengajar pakai koran bekas karena tak ada buku. Tapi jalanmu tak mudah. Seperti kata teori Everett Rogers, orang yang pertama kali bawa perubahan selalu dianggap "aneh". Kau diragukan, bahkan ditertawakan. Tapi kau tetap jalan. "Ngapain Baca Buku Kalau Masih Miskin?" Pertanyaan itu sering dilontarkan ke kalian. Padahal: ·       Justru karena miskin, literasi jadi pe...

LITERASI ITU AKSI: KOTA GORONTALO GAGAS SINTAKSIS SEBAGAI SOLUSI TANTANGAN MEMBACA SISWA.

  Pada hari Rabu, 16 Juni 2025, bertempat di Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo , telah berlangsung sebuah kegiatan penting bertajuk Sosialisasi Transformasi Perpustakaan , yang diikuti oleh para Kepala Sekolah dan Pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar se-Kota Gorontalo. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan Dan  Perpustakaan Daerah Kota Gorontalo . Dalam kegiatan ini, lahir sebuah gagasan bersama "Tantangan Membaca" yang dikelola via aplikasi sederhana yang diberi nama SINTAKSIS , singkatan dari Sistem Informasi Tantangan Aksi Literasi Sekolah . Program ini merupakan bentuk aksi nyata dalam menjawab tantangan belum maksimalnya tingkat literasi siswa sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama, SINTAKSIS dirumuskan secara kolaboratif oleh para peserta kegiatan—para kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan para pengelola perpustakaan sebagai motor penggerak literasi. Melalui sesi diskusi dan perumusan bersama, para peserta menyepakati bahwa literasi ha...

RPJMN 2025-2029: Alarm Darurat Literasi Telah Berbunyi di Gerbang Sekolah Anda!

Kepada para Komandan Lapangan Pendidikan: Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi di seluruh Indonesia.     Lupakan sejenak tumpukan administrasi, target kurikulum yang padat, dan segala rutinitas harian yang membelenggu. Mari kita bicara tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental. Mari kita bicara tentang masa depan bangsa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas 1, 2, dan 3 di sekolah kita. Pemerintah, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, telah mengirimkan sinyal paling keras: era "mengajar membaca" sebagai rutinitas biasa SUDAH BERAKHIR . Dimasukkannya "Peningkatan Kecakapan Literasi Kelas Awal" sebagai prioritas nasional bukanlah sekadar pembaruan dokumen. Ini adalah sebuah titah. Sebuah deklarasi bahwa kita berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan aksi revolusioner, bukan sekadar perbaikan prosedural. Selama ini, kita mungkin terlalu nyaman dalam mitos-mitos yang melenakan: ·   ...